SEJARAH SINGKAT SPC

Seminari St. Petrus Claver Ternyata Dimulai di Toraja

Mgr. N.M. Schneiders CICM
Vikariat Apostolik Makassar(1948-1973)

MAKASSAR, TCN.com — Seminari Menengah St. Petrus Claver (SPC), sekolah calon Imam Katolik di Makassar, ternyata cikal bakalnya bermula di Makale, Tana Toraja. Jika merujuk pada dimulainya pembangunan asrama yang menjadi cikal bakal Seminari di Kota Makale pada Agustus 1951, maka seharusnya SPC merayakan HUT ke- 61 tahun ini.
Tanggal 09 September 1953, bertepatan dengan peringatan Santo Petrus Claver, sekolah Seminari yang dipindahkan ke Makassar, diresmikan dengan nama SEMINARI MENENGAH SANTO PETRUS CLAVER (SPC). Sejak saat itu, HUT dirayakan setiap tanggal 9 September. Tahun ini, SPC genap berusia 59 tahun.

Untuk Gereja Lokal yang Mandiri

Kalau saja misionaris CICM, tidak segera mendirikan seminari kecil di KAMS pada tahun 1950-an, lalu siapa yang akan memimpin gereja lokal di Sulawesi, setelah satu demi satu mereka pergi?

Pada tanggal 13 April 1937, secara resmi bagian selatan pulau Sulawesi dimekarkan dari Vikariat Apostolik yang berpusat di Manado menjadi Prefektur Apostolik Makassar. yang selanjutnya dipercayakan kepada Kongregasi Hati Maria Tak Bernoda (CICM). Dengan demikian berdirilah secara resmi Gereja partikular/lokal Makassar (bdk. KHK, 368). Dua misionaris CICM pertama tiba di Makassar pada 2 Juni 1937, yakni Charles Dekkers CICM dan Jan van den Eerenbeemt CICM. Pada tahun 2012 ini Gereja lokal Keuskupan Agung Makassar genap berusia 75 tahun bersamaan dengan peringatan 75 tahun karya CICM.

Bagi SPC, dua sosok misionaris CICM tulen yang jasanya harus ditulis dengan tinta emas adalah Mgr. N.M. Schneiders, CICM, Vikaris Apostolik Makassar ( 1948 – 1973) dan P. Albert Raskin, CICM, rektor pertama SPC, yang menjabat dari Agustus 1950 – Desember 1969.

Dikisahkan, pada audiensi Mgr. N.M. Schneiders, CICM kepada Bapa Suci Pius XII di Tahta Suci, Vatikan pada 19 Maret 1949, sang Uskup mendapat pertanyaan dari Sri Paus, ”Apakah sudah dilangsungkan pendidikan seminari di wilayah Keuskupan Anda?”
Mgr. N.M. Schneiders, CICM menjawab, “ Seminari belum dirasakan perlu didirikan mengingat jumlah umat Katolik setempat belum melebihi dua ribu orang dan apalagi kebanyakan umat adalah kaum muda “.

Tetapi, sepulangnya dari Vatikan, Uskup Schneiders yang memandang pertanyaan Paus itu sebagai perintah, langsung memohon kesediaan Pater Albert Raskin, CICM untuk membuka asrama bagi para siswa yang bercita-cita menjadi imam.
Atas perintah Uskup, pada bulan Agustus 1951, asrama yang menjadi cikal bakal Seminari itu mulai dibangun di Kota Makale, ibu kota Kabupaten Tana Toraja.

Pada tahun April 1953 seminari dipindahkan ke kota Makassar karena alasan keamanan (ketika itu terjadi peristiwa “Andi Sose-Frans Karangan). Di Makassar, tepatnya di Jalan Gagak, pihak Keuskupan ternyata telah membeli sebidang tanah yang merupakan kebun bunga dan buah-buahan milik keluarga Santiago dengan rumah batu di tengah dan salah satu sudutnya (nama Santiago kemudian diabadikan sebagai nama salah satu gedung di seminari ini).

Tanggal 25 Juni 1953 para seminaris pindahan dari Makale mulai mendiami seminari ini. Pada tanggl 06 Juni 1953 mulailah pelajaran di Seminari dan pada tanggal 09 September 1953, bertepatan dengan peringatan Santo Petrus Claver, semenari ini diresmikan dengan nama SEMINARI MENENGAH SANTO PETRUS CLAVER

Tanggal 09 September 1953 merupakan hari libur umum di Indonesia. Maka, hari tersebut dipilih sebagai kesempatan yang baik untuk mengadakan upacara Pembukaan Resmi Seminari di Makassar. Menurut penanggalan liturgi, hari itu bertepatan dengan peringatan Santo Petrus Claver, seorang imam Yesuit yang dihormati secara khusus oleh para misionaris CICM (singkatan dari: Congregatio Immaculati Cordis Mariae atau Kongregasi Hati Tak-bernoda Maria) yang berkarya di Keuskupan Agung (kala itu masih berstatus VIKARIAT) Makassar. Kelak, para seminaris menyebutnya Sarang Gagak.

Kemandirian Gereja Lokal

Peranan Mgr MN Schneiders dilukiskan Uskup Agung KAMS, Mgr. John Liku Ada’ dalam tulisan berikut yang dimuat di laman Blog Keuskupan Makassar:

“Tanggal 13 Mei 1948 Gereja lokal Makassar yang muda belia itu ditingkatkan statusnya menjadi Vikariat Apostolik. Mgr. N.M. Schneiders CICM ditahbiskan uskup dan menjadi Vikaris Apostolik pertama. Dengan pandangan jauh ke depan, beliau segera mengambil langkah penting dan berani menuju kemandirian, khususnya di bidang tenaga pastoral. Tahun 1951, ketika umat Katolik di wilayah ini baru berjumlah beberapa ribu, beliau sudah memutuskan membuka seminari di Makale. Masalah keamanan akibat pemberontakan DI/TII di bawah pimpinan Kahar Muzakkar menyebabkan seminari itu dipindahkan ke Makassar dua tahun kemudian (1953). Mengenai seminari ini, Mgr. Schneiders menetapkan suatu kebijakan yang disetujui tarekat CICM, yakni bahwa seminari ini pertama-tama bertujuan untuk melahirkan imam-imam diosesan; CICM tidak akan berusaha mendapatkan calon untuk CICM dari seminari ini sebelum korps imam diosesan menjadi cukup besar. Tindakan visioner lainnya yang diambil Mgr. Schneiders ialah pada tahun 1958 beliau mendirikan Tarekat diosesan Frater “Hamba-Hamba Kristus” (HHK), satu-satunya tarekat diosesan frater yang masih bertahan hidup sampai sekarang di Indonesia.”

Selanjutnya dikatakan, Mgr. Schneiders menyambut gembira tahbisan Imam, alumni SPC yang pertama.

Sekitar setengah tahun setelah menjadi keuskupan agung, umat Katolik Keuskupan Agung Makassar menyaksikan pentahbisan putera pribumi pertama menjadi imam pada 27 Juli 1961, yaitu Willi Duma’ Paretta. Peristiwa itu disambut dengan gembira dan penuh syukur. Pastor Willi Duma’[angkatan pertama, sekaligus merupakan imam buah bungaran Seminari ‘Petrus Claver’ (SPC), Makassar. Tentu saja yang paling berbahagia ialah Uskup Agung, Mgr. Nicolas M. Schneiders, CICM. Beliau mulai melihat hasil dari seminari yang didirikannya.

Komitmen dan perhatian Mgr. NM Schneiders, CICM selaku Uskup pada pendidikan dan kemandirian gereja lokal tampak dalam sebuah dokumen wawancara pada 2 Juni 1977 dengan topik pastoral dan kebijakan sebagai Uskup.
Pada dokumen wawancara khusus untuk para misionaris yang bekerja di wilayah Indonesia, dalam bahasa Belanda itu, mengangkat topik pastoral dan kebijakan sebagai Uskup.

Berikut ulasan wawacara dalam dokumen “Katholiek Documentatie Centrum”, yang saya terjemahkan secara bebas:

Mgr. NM SchneiderDia membahas kerja sebelum perang paroki di kalangan Eropa, tetapi terutama karya pertobatan kalangan suku Toraja. Dia berbicara tentang agama animisme di Toraja, adat mereka dan khususnya kultus kematian mereka. Di sini dan di tempat lain dalam wawancara, perubahan dalam liturgi dan sejenisnya dibahas.
Subyek utama adalah pendidikan. Pendidikan sangat berkesan kepadanya, dan sebagai seorang uskup ia memberikan prioritas. Ia menjelaskan mengapa. Dalam konteks ini, ia berbicara tentang penciptaan sekolah umum sebelum perang, tentang kesulitan pendanaan dan seputar dana hibah, sekolah sebagai batu loncatan untuk desa-desa, yang digambarkannya sebagai pembangunan gereja independen di Indonesia.

Di sini ia membahas pembentukan imam diosesan, pelatihan dan pekerjaan dari para katekis, dan tarekat yang dia dirikan sendiri(Tarekat Frater Hamba-Hamba Kristus), partisipasi tumbuh dari kaum awam (terutama setelah pembagian paroki, dengan pembentukan dewan sendiri), dimensi sosial dari pekerjaan misi di berbagai proyek pembangunan dll tentang pengalamannya selama perang dan penahanan, dia pendek, meskipun perhatian diberikan kepada terjadinya peristiwa Westerling di Sulawesi.

Salah satu yang menjadi fokus Sang Uskup Visioner adalah masalah pembiayaan Seminari.Selain, bahwa untuk menyelenggarakan Seminari, keuskupan butuh dana yang cukup besar. Pada masanya, Dana dari Vatikan masih cukup banyak untuk menopang karya Misi. Umat Katolik di Eropa masih cukup antusias menyumbangkan dana mereka untuk kegiatan para misionaris di daerah misi.

Sekarang 40 tahun setelah Mgr. NM Schneiders, CICM pensiun sebagai Uskup, masalah pendanan bagi seminari tetap menjadi masalah yang krusial. Sekarang, ketika dana dari Vatikan dan pendonor LN tidak sebesar dulu, Seminari masih seperti dulu: tidak memiliki sumber dana untuk bisa menghidupi dirinya sendiri.

Dirgahayu, SPC!

DATA SEMINARI
Nama lengkap: Seminari Menengah St. Petrus Claver (SPC)
Alamat Lengkap Seminari : Jl. Gagak No. 19 Makassar 90122
Nomor telepon : 0411-872632,
No fax : 0411-835856
HP rektor : 0812-4177822

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s