Biografi beberapa santo

Santo Vinsensius, Bapak Orang Miskin (Biografi Singkat)
Pada tanggal 27 September 1660 Vinsensius de Paul wafat di Rumah Pusat CM, Saint-Lazare, di pinggiran kota Paris. Hampir delapan puluh tahun sebelumnya dia lahir dari keluarga kecil, di suatu desa kecil. Mungkin karena itu, selama hidupnya, dia ingin mencari perlindungan di tengah-tengah hal kecil. Sambil membaca surat-suratnya, kita bisa tersenyum melihat bahwa segala-galanya yang berhubungan dengan dia disebutnya “kecil”. CM disebut “serikat kecil’ atau “keluarga kita yang kecil”. Pagi hari bersama seluruh komunitas Vinsensius melakukan meditasi selama satu jam dan setelah itu dia mempersembahkan Misa serta membaca bagian Ibadat Harian yang sesuai: Itu pun disebut “doa-doa saya yang kecil”. Karya serta kegiatan yang dilakukannya mendapat sebutan yang sama: “pelayanan-pelayanan yang kecil”. Cara hidup CM menjadi “cara hidup kami yang kecil”, dan peraturan CM menjadi “peraturan kita yang kecil”, dan lain-lain.
Kecil itu indah, dikatakan oleh manusia modern. Tetapi nampaknya falsafah ini belum terpikirkan oleh manusia abad XVII. Falsafah Vinsensius ialah kerendahan hati yang mendarah daging dalam hidupnya. Kerendahan hati itu tidak mencetak manusia yang penuh frustrasi dan minder, melainkan manusia yang optimis karena percaya kepada Allah: “Ketidakpercayaan pada kemampuan diri sendiri itu harus merupakan dasar untuk percaya kepada Allah”[1]
Orang “kecil” ini ternyata mendapat perhatian yang sangat besar selama hidupnya dan setelah kematiannya. Raja, Pangeran, Kardinal, Uskup sampai rakyat kecil berlomba untuk mengunjungi dan memberi hormat kepada jenazahnya yang disemayamkan di Gereja Saint-Lazare. Setelah itu lebih dari 1500 buku telah diterbitkan untuk menceritakan hidupnya dalam pelbagai bahasa.
Maka kita juga dapat bertanya: “Siapa gerangan orang ini?” Supaya cerita tentang Vinsensius dan karya-karyanya lebih jelas, kami menyusun buku ini dalam lima bagian, berdasarkan buku: San Vincenzo de’ Paoli, karangan José María Román, CM.
I Masa muda (1581-1609)
Tanggal kelahiran Vinsensius masih diperdebatkan. Biasanya dikatakan bahwa Vinsensius lahir tanggal 24 April 1581, di desa Pouy, dekat kota Dax, Perancis barat daya. Keluarganya sungguh sederhana, meskipun tidak amat miskin. Karena itu sejak kecil Vinsensius ikut membantu bekerja sebagai penjaga ternak.
Pada umur 15 tahun, keluarga dan desa ditinggalkannya untuk belajar di suatu asrama yang dipimpin oleh para imam Fransiskan di kota Dax. Selama di kota itu Vinsensius menjadi pengasuh anak-anak keluarga de Comet. Dengan demikian Vinsensius bekerja sambil belajar. Mulai saat itu keluarga de Comet menjadi pendukung Vinsensius dalam banyak usahanya, antara lain dengan menuntun Vinsensius ke jenjang imamat. Ternyata di Dax Vinsensius menerima tahbisan-tahbisan kecil.
Setelah dua tahun Vinsensius pindah ke Universitas Toulouse berkat pengorbanan ayahnya yang menjual sepasang lembu untuk memungkinkan anaknya melanjutkan studi. Studinya diselesaikan di Toulouse pada tahun 1604 dengan gelar BA dalam bidang teologi. Sebelum itu ia telah ditahbiskan sebagai imam pada tanggal 23 September 1600. Saat itu umurnya baru 19 tahun lebih 5 bulan.
Tentu tahbisan sebagai imam pada umur demikian muda mengundang pertanyaan: Ada apa di belakang? Lebih-lebih kalau kita melihat bahwa Vinsensius berusaha ditahbiskan di luar keuskupannya, di tempat yang sangat jauh (Château l’Évêque, Keuskupan Périgueux), oleh seorang Uskup yang sudah berumur delapan puluh empat tahun dan satu bulan kemudian meninggal. Mungkin peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian memberi terang juga mengenai tahbisan Vinsensius, khususnya mengenai apa yang dikejar Vinsensius melalui imamat.
Setelah menjadi imam, Vinsensius berusaha memperoleh kedudukan yang sepadan dengan jabatannya itu. Pertama-tama dia berjuang untuk menjadi Pastor Paroki Thil, tidak jauh dari desa asalnya. Untuk itu ia mendapat pengangkatan dari Vikaris Jenderal Keuskupan Dax. Sayangnya pada waktu itu seorang imam lain sudah diangkat untuk Paroki yang sama dan pengangkatannya berasal dari Roma. SK Vikjen tentu tak banyak berarti di hadapan SK dari Roma. Vinsensius tidak putus asa. Pada tahun 1601 dia pergi ke Roma untuk memperjuangkan kariernya. Setelah beberapa bulan imam muda itu terpaksa kembali ke Toulouse tanpa hasil.
Rencana Vinsensius berikutnya lebih berani, “demikian berani sehingga saya malu mengatakannya”[2], tulis Vinsensius sendiri. Kemungkinan besar ia ingin menjadi uskup. Tetapi untuk itu diperlukan banyak uang. Untunglah seorang ibu mewariskan kepadanya 400 écus[3], jumlah uang yang cukup besar, sama dengan gaji seorang pegawai menengah atas selama empat tahun. Sialnya, uang itu dibawa lari oleh seorang bajingan. Vinsensius mengejarnya sampai Marseille dan akhirnya mendapat 300 écus. Dalam perjalanan pulangVinsensius ditangkap bajak laut, dibawa ke Tunis (Afrika Utara) dan dijual sebagai budak. Selama dua tahun Vinsensius berganti beberapa majikan. Majikan terakhir dipertobatkannya dan bersama-sama mereka berdua melarikan diri ke Perancis.
Cerita mengenai perbudakan itu ditulis oleh Vinsensius sendiri dalam dua surat kepada Bapak de Comet[4]. Tetapi kebenaran isi dua surat itu, yaitu kebenaran cerita mengenai perbudakan Vinsensius, diperdebatkan oleh ahli sejarah. Yang jelas rencana Vinsensius untuk menjadi uskup itu pun gagal.
Vinsensius tidak putus asa. Pada tahun 1607, sekembalinya dari Afrika Utara, dia menjumpai utusan Paus yang berkedudukan di Avignon. Karena masa jabatannya selesai, Mgr. Pietro Montorio, demikianlah namanya, mengajak Vinsensius ke Roma. Vinsensius ikut dengan gembira, karena pejabat Gereja itu menjanjikan pertolongannya agar imam muda itu memperoleh suatu jabatan yang menguntungkan.
Pada akhir tahun 1608 Vinsensius berada di Paris, sekali lagi tanpa hasil, tetapi dengan keinginan besar untuk maju dalam karier. Sebuah surat yang ditulis Vinsensius kepada ibunya tgl. 17 Februari 1610, menggambarkan keadaannya dengan cukup jelas:
“Ibuku, ……saya gelisah, karena saya terpaksa tinggal di kota ini guna memperoleh kesempatan untuk maju dalam karier saya. Memang sampai sekarang musibah-musibah beruntun menghalangi saya, sehingga saya tidak dapat mengabdi kepada Ibu sesuai kewajiban saya. Namun saya menaruh harapan pada Tuhan, semoga Dia sudi memberkati segala usaha saya dan segera memberi saya jalan agar saya dapat mengundurkan diri dengan tenang dan untuk selanjutnya tinggal dekat Ibu … Saya ingin agar kakak saya menyuruh salah seorang anaknya belajar. Musibah-musibah yang telah saya alami serta kenyataan bahwa saya belum bisa memberi bantuan kepada keluarga, mungkin membuat dia putus asa. Namun kita tahu bahwa kegagalan masa kini adalah petunjuk keberhasilan untuk masa mendatang …”[5].
Surat kepada ibunya ini memperlihatkan dengan jelas cita-cita Vinsensius pada masa itu: 1. Maju dalam karier; 2. Memberi bantuan ekonomi bagi keluarganya; 3. Mengundurkan diri ke desanya dekat Ibunya untuk menikmati “masa pensiun” pada umur 29 tahun.
Wajarlah cita-cita ini bagi seorang anggota masyarakat biasa; tetapi seorang imam muda yang idealismenya berhenti di situ saja sungguh memalukan. Maka satu pertanyaan tak dapat kita elakkan: Mengapa Vinsensius menjadi imam? Tak dapat disangkal bahwa Vinsensius, terdorong oleh keluarganya, mau menjadi imam karena pada zaman itu imamat merupakan satu-satunya jalan bagi orang miskin seperti dia untuk meningkatkan status sosial dirinya maupun keluarganya.
Namun Vinsensius tidak berhenti pada taraf itu. Pada tahun 1657 dia berkata kepada para Romo CM: “Kita harus menjadi sepenuhnya milik Tuhan dan sekaligus terarah kepada pelayanan bagi masyarakat. Demi tujuan ini kita harus menyerahkan diri kepada Tuhan, menghabiskan diri, memberikan hidup kita. Biar kita telanjang, bila dapat dikatakan demikian, agar orang lain memperoleh pakaian. Sekurang-kurangnya inilah kesediaan yang perlu kita usahakan apabila kita belum memilikinya: siap sedia untuk pergi ke mana saja dikehendaki Tuhan, entah ke India, entah ke tempat lain; pendek kata kita harus melibatkan diri dengan gembira dalam pelayanan kepada sesama, dalam usaha memperluas kerajaan Kristus dalam jiwa-jiwa. Mengenai saya sendiri, meskipun sudah tua dan lanjut usia, saya juga tidak boleh mengesampingkan kesediaan itu, yaitu kesediaan untuk pergi ke daerah India guna merebut jiwa-jiwa bagi Tuhan, meskipun ada kemungkinan saya akan mati dalam perjalanan”[6].
Ternyata Vinsensius mengalami perubahan menyeluruh. Dulu segalanya dimanfaatkan demi kesejahteraan dirinya dan keluarganya. Imamat juga dipakai untuk itu. Sekarang seluruh pribadinya dan segala yang dimilikinya diserahkan kepada Tuhan dan sesama: “Biar kita telanjang …”. Kapan dan bagaimana perubahan ini terjadi?
II Masa Pertobatan (1609-1620)
Kegagalan-kegagalan beruntun mendorong Vinsensius untuk berpikir: “Apakah ada sesuatu yang tidak beres dalam hidupku?” Dengan didasari keprihatinan ini, imam yang menanjak dewasa itu mencari seorang pembimbing rohani: Romo Pierre de Bérulle, seorang imam terkemuka di Perancis, pelopor pembaharuan Gereja. Melalui Romo de Bérulle, Vinsensius masuk dalam pergaulan dengan seluruh kelompok pembaharu. Berkat bimbingan Romo de Bérulle dan teladan kawan-kawan, Vinsensius pelan-pelan mengerti apa yang tidak beres dalam hidupnya: Sebagai imam tidak cukup mengejar status sosial; seorang imam harus memberikan hidupnya untuk Tuhan dan sesama.
Vinsensius menerima dengan gembira tugas sebagai kapelan mantan Ratu Margareta de Valois, lebih-lebih karena, dalam penentuan tugas, dia diangkat sebagai pembagi derma kepada orang miskin dan kepada orang sakit di Rumah Sakit “La Charité”.
Vinsensius merasa lebih senang lagi saat Romo de Bérulle menawarkan kepadanya satu jabatan baru, sebagai Pastor Paroki di Clichy, desa dekat kota Paris. Sejak bulan Mei 1612 imam kita mulai berkarya di tengah orang-orang sederhana. Di bawah bimbingannya Paroki berkembang dalam segala aspek, terutama dalam bidang katekese dan liturgi. Di Pastoran, Vinsensius mengumpulkan dua belas anak muda yang dibinanya sebagai calon imam.
Tetapi pada akhir tahun 1613 Vinsensius diajak Romo de Bérulle untuk menerima tugas baru lagi: sebagai pengasuh anak-anak keluarga Gondi, salah satu keluarga terkemuka dalam kerajaan Perancis. Dalam istana di tengah kota Paris atau dalam kunjungan ke villa-villa yang mereka miliki di daerah kekuasaan mereka, Vinsensius berusaha hidup seperti dalam biara. Pelan-pelan Bapak Gondi dan Nyonya mulai menghargai imam itu, sampai akhirnya dipilih oleh mereka sebagai Pembimbing Rohani; terutama Nyonya Gondi merasa sangat membutuhkan bimbingannya.
Pada waktu itu atau sebelumnya, Romo kita mengalami dua peristiwa yang dianggap penting dalam pertobatannya. Pernah Vinsensius tinggal di satu kamar kos bersama dengan seorang teman. Suatu hari temannya pergi ke luar untuk urusannya, sedangkan Vinsensius terpaksa tinggal di kamar karena sakit. Ketika pulang, teman Vinsensius itu terkejut karena uangnya yang disimpan dalam almari tidak ada lagi. Siapa lagi yang dapat dianggap pencuri selain Vinsensius? Maka tuduhan itu terang-terangan dilontarkan kepada Vinsensius dan disebarkan di kalangan luas. Imam kita tidak dapat membela diri, maka dia hanya berkata: “Tuhan tahu”. Setelah enam tahun pencurinya ditemukan, yaitu petugas apotik yang pagi itu membawa obat bagi Vinsensius[7].
Peristiwa itu dianggap penting dalam proses pertobatan Vinsensius, karena baru kali ini tokoh kita menerima dirinya sebagai orang miskin yang tak berdaya dan karenanya menyerahkan diri kepada Tuhan: “Tuhn tahu”.
Suatu hari seorang ahli dan dosen teologi membuka hatinya kepada Vinsensius. Dosen itu sudah beberapa tahun menderita karena mengalami kesangsian iman yang gawat. Vinsensius terharu, maka ia berdoa kepada Tuhan agar temannya itu dibebaskan, dan jika perlu biarlah penderitaan itu menimpa dirinya. Betul, dosen itu bebas dari segala kecemasan, tetapi Vinsensius mulai mengalami kesangsian iman yang dahsyat; segala kebenaran iman yang dahulu diimani dengan damai, sekarang seakan-akan sudah kehilangan dasarnya. Vinsensius menderita selama beberapa tahun. Akhirnya dia berjanji akan membaktikan seluruh hidupnya bagi orang miskin bila Tuhan berkenan membebaskannya. Doanya dikabulkan Tuhan[8]
Kesempatan untuk mewujudkan janjinya akan segera tiba. Pada bulan Januari 1617 Vinsensius berada di Folleville bersama seluruh keluarga Gondi. Suatu hari Vinsensius dipanggil ke desa Gannes, karena seorang tokoh umat mendekati ajalnya dan ingin mengaku dosa kepadanya. Romo Vinsensius datang dan petani mengaku dosa-dosa seluruh hidupnya. Deretan dosa yang diungkapkannya cukup panjang, karena sebelumnya tokoh umat itu malu mengaku dosa. Setelah pengakuan dosa selesai, petani itu merasa seperti lepas dari jerat setan dan karena gembiranya dia menceritakan pengalamannya kepada banyak orang, termasuk Nyonya Gondi.
Romo Vinsensius dan Nyonya Gondi berpikir: Kalau tokoh umat yang dianggap saleh ini ternyata di ambang kebinasaan abadi, apalagi orang lain yang kelakuannya jelas-jelas lebih jelek. Apa yang dapat dilakukan? Beberapa hari setelah peristiwa itu, tepatnya pada tanggal 25 Januari 1617, Vinsensius memberi khotbah mengenai pengakuan dosa seluruh hidup di Gereja Folleville. Umat dari desa-desa sekitarnya berbondong-bondong datang untuk mendengarkan khotbah dan mengaku dosa.
Bagi Vinsensius dan Nyonya Gondi pengalaman ini merupakan semacam wahyu. Mereka menyadari bahwa daerah pedesaan terlantar karena kurang mendapat pembinaan. Para imam lebih suka tinggal di kota, sehingga umat daerah pedesaan terlupakan. Maka Vinsensius merasa terpanggil untuk membaktikan seluruh hidupnya demi pembinaan rohani rakyat kecil dari daerah pedesaan. Itulah yang mendorong Vinsensius untuk memulai kegiatan Misi Umat di desa-desa dan untuk mendirikan Kongregasi Misi (CM).
Setelah kembali ke Paris, di tengah-tengah kemewahan istana keluarga Gondi, Vinsensius merasakan konflik batin yang mendalam. Dia semakin sadar bahwa Tuhan memanggilnya untuk membina rakyat kecil. Tetapi ternyata sekarang dia menikmati keadaan yang begitu menyenangkan, di istana orang kaya, sementara rakyat kecil semakin terdesak oleh kebutuhan jasmani maupun rohani. Maka pada masa Prapaskah tahun 1617, Vinsensius meninggalkan istana keluarga Gondi tanpa pamit dan memilih menjadi Pastor Paroki di Châtillon-les-Dombes (Lyon). Di sinilah suatu pengalaman baru lebih meyakinkan Vinsensius akan panggilannya.
Suatu hari Minggu di bulan Agustus, ketika mempersiapkan diri di Sakristi untuk mempersembahkan Misa, Vinsensius diberitahu bahwa di luar desa Châtillon semua anggota satu keluarga sakit parah dan terlantar, karena tidak ada yang merawat mereka. Dalam khotbahnya ia mendorong umatnya untuk memberi perhatian kepada keluarga yang malang itu. Sore harinya, setelah selesai tugas Paroki, Vinsensius bersama beberapa umat mengunjungi keluarga yang menderita itu. Ternyata banyak umat sudah datang dan sudah membawa makanan berlimpah. Vinsensius berfikir: “Keluarga yang malang ini pada hari ini telah menerima bantuan berlimpah. Sebagian dari makanan itu akan menjadi busuk dan keluarga itu akan mulai menderita lagi seperti semula. Cinta kasih seperti ini kurang efektif, karena kurang terencana. Orang-orang miskin sering menderita bukan karena tidak ada yang sanggup menolong, melainkan karena tidak ada koordinasi”[9].
Karena itu Vinsensius membentuk “Persaudaraan Kasih”, kumpulan awam yang menolong orang miskin secara terencana dan terorganisir. Perkumpulan itu kemudian akan menyebar ke seluruh Perancis, bahkan ke seluruh dunia.
Semua peristiwa ini membuka mata Vinsensius. Dia semakin sadar akan panggilannya sebagai imam. Terutama Vinsensius yakin bahwa hanya seorang imam yang suci mampu memenuhi panggilan Tuhan itu.
Inilah pertobatan Vinsensius. Tetapi pertobatan di sini harus diberi arti yang tepat: Vinsensius bukanlah orang jahat yang menjadi suci, melainkan orang biasa yang berhasil mengarahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan dan sesama.
Perlu kita tambahkan bahwa pada tahun 1618, pertemuan pribadi dengan seorang santo sejati, yaitu S. Fransiskus dari Sales, sangat menolong Vinsensius untuk tinggal landas menuju kesucian. Allah mempertobatkan Vinsensius lewat pembimbing rohani, lewat orang miskin yang menuntut pelayanan sejati, lewat seorang santo, dan lewat banyak pengalaman lain yang diatur oleh Tuhan agar rencanaNya yang abadi terlaksana.
III Daya cipta yang subur(1620-1634)
Pada tahun 1620 Vinsensius sudah mengerti arah hidupnya dan panggilannya. Kemelaratan jasmani dan rohani rakyat kecil seperti menampar Romo kita dan menggugahnya untuk menanggapi masalah itu dengan tegas. Mulai saat itu karya-karya Vinsensius mengalir lewat dua jalur, yang dalam bahasa Perancis mendapat nama “Mission” dan “Charité”. Yang pertama menjawab pada kemelaratan rohani, melalui katekisasi menyeluruh yang diwujudkan dalam kegiatan Misi Umat. Yang kedua menjawab pada kemelaratan jasmani, melalui karya amal terencana dan terorganisir, yang pada awalnya ditangani oleh kelompok baru yang bernama “Persaudaraan Kasih”.
1. Dari karya Misi ke Kongregasi Misi
Pada akhir tahun 1617 keluarga Gondi berhasil membujuk Vinsensius untuk kembali ke Paris. Tetapi kali ini Romo kita menentukan syarat-syarat. Dia sanggup kembali menjadi Pembimbing Rohani keluarga Gondi, asal diberi kesempatan untuk menyelenggarakan Misi Umat di desa-desa dalam wilayah kekuasaan Gondi.
Maka selama kurang lebih tujuh tahun Vinsensius mengunjungi sekitar 40 desa untuk melakukan Misi Umat itu. Dengan satu atau dua teman imam, Vinsensius menetap di satu desa selama satu atau satu setengah bulan. Katekismus diajarkannya kepada semua lapisan masyarakat secara sederhana dan praktis. Seluruh umat pelan-pelan dituntun kepada pertobatan, yang diwujudkan dalam pengakuan dosa seluruh hidup dan dalam komuni. Masalah-masalah yang ditemukan dalam Paroki, seperti perselisihan antara keluarga, perkawinan yang tidak beres dan lain-lain, ditangani dengan sabar dan lembut, sampai dapat diselesaikan dengan tuntas.
Sampai tahun 1625 karya ini dipikul oleh Vinsensius secara pribadi, dengan bantuan insidentil beberapa teman imam. Namun Vinsensius dan Nyonya Gondi menyadari bahwa kegiatan ini demikian penting, sehingga membutuhkan penanganan yang profesional dan berkesinambungan dari satu Kongregasi khusus.
Vinsensius tidak bernafsu untuk mendirikan satu Kongregasi baru. Pertama-tama dia menghubungi beberapa Kongregasi yang sudah berkarya di Perancis dan minta agar mereka menerima Misi Umat sebagai karya mereka. Tetapi semua Kongregasi yang dihubungi tidak bersedia. Maka pada tanggal 17 April 1625, Vinsensius bersama Bapak dan Nyonya Gondi menandatangani sebuah kontrak yang menetapkan berdirinya Kongregasi Misi, dengan modal pertama sebesar 45.000 Lire yang disumbangkan oleh keluarga Gondi.
Kongregasi baru diwajibkan memberi Misi hanya di desa-desa saja dan secara gratis. Untuk melaksanakan tugas dengan baik, para anggotanya diwajibkan juga hidup bersama.
Untuk sementara Misi Umat hanya diberikan di daerah kekuasaan keluarga Gondi. Namun dalam waktu beberapa tahun kegiatan ini mulai diminati oleh banyak Keuskupan, sehingga Vinsensius kewalahan menanggapi semua permintaan.
Pada tahun 1626 Kongregasi baru itu mulai menerima anggota-anggotanya. Pada awalnya hanya tiga imam bergabung dengan Vinsensius, termasuk Antoine Portail, yang telah dibina oleh Vinsensius sejak menjadi Pastor Paroki Clichy, bersama dengan beberapa anak lain. Tetapi setiap tahun jumlah mereka pelan-pelan bertambah, sehingga pada tahun 1631 jumlah imam CM mencapai empat belas orang. Mereka tinggal di Kolese “Bons Enfants”, yang selama tahun-tahun pertama menjadi markas besar CM. Tetapi pada awal tahun 1632 markas besar CM pindah ke Saint-Lazare, suatu biara yang luas dan kaya. Karena Misi Umat harus diberikan secara cuma-cuma, maka kekayaan Saint-Lazare dapat dimanfaatkan untuk menghidupi para Romo dan mendukung karya-karya Kongregasi baru itu.
Dari Oktober sampai Juni para Romo CM keliling dari desa ke desa untuk membina rakyat jelata yang terlantar. Tak terhitung jumlah Misi Umat yang diselenggarakan oleh kelompok kecil yang telah dirintis Vinsensius itu. Dari Juni sampai Oktober para petani sibuk dengan pekerjaan pertanian. Maka para Romo tinggal di rumah untuk belajar, untuk melakukan latihan, dan untuk karya-karya lain yang segera mulai menyibukkan Kongregasi Misi.
Dengan menekuni pembinaan rakyat kecil, Vinsensius dan para Romo CM lambat laun menyentuh luka-luka lain yang merongrong Gereja, terutama kemerosotan rohani para imam. Justeru karena itulah rakyat sangat terlantar. Vinsensius tidak bisa tinggal diam di hadapan masalah-masalah yang menyangkut kesejahteraan jasmani dan rohani rakyat kecil. Dia sadar juga bahwa hasil Misi Umat tidak dapat bertahan bila Pastor Paroki tidak melanjutkan pembinaan umat. Karena itu sejak dini pembinaan para imam dan calon-calon imam mulai dipikirkan oleh santo kita. Tetapi,. seperti biasanya, dia menanti tanda dari Penyelenggaraan Ilahi sebelum bertindak. Tanda itu datang melalui permintaan Uskup Beauvais yang mendesak Vinsensius untuk membina calon-calon imam dari Keuskupannya sekitar 20 hari sebelum tahbisan. Vinsensius menerima permintaan itu dan dengan demikian dimulailah karya Retret untuk calon-calon tahbisan yang akan menyibukkan para Romo dan semua rumah CM. Setelah beberapa tahun sangat terasa bahwa pembinaan calon-calon imam hanya menjelang tahbisan itu, tidak cukup. Maka pelan-pelan waktu diperpanjang sampai beberapa tahun dan akhirnya menjadi Seminari, yang merupakan pengembangan karya retret.
Pada pertengahan tahun 1633 di Saint-Lazare dimulai, juga atas usul orang lain, suatu kegiatan yang nanti akan dikenal sebagai “Konferensi Hari Selasa”. Banyak Romo dari kota Paris dan sekitarnya pada hari Selasa berkumpul untuk membahas bersama-sama salah satu tema yang berhubungan dengan kehidupan para imam, yaitu masalah rohani atau pastoral. Banyak calon pejabat Gereja mendapat pembinaan Vinsensius melalui kegiatan ini. Hasilnya sangat memuaskan, sehingga banyak Uskup baru dipilih di antara anggota “Konferensi Hari Selasa”.
1. Dari karya kasih ke Puteri Kasih.
“Persaudaraan Kasih” yang dirintis di Châtillon-les Dombes merupakan permulaan suatu karya raksasa yang akan mempengaruhi secara mendalam kegiatan Gereja pada abad-abad berikutnya. Langkah pertama itu dapat diumpamakan dengan mata air sebuah sungai raksasa. Permulaannya sangat kecil, tetapi jangkauannya nanti sangat luas. Kunci keberhasilan perkumpulan baru itu mungkin terletak di sini: Pembagian tugas yang efektif di antara anggota, peraturan yang jelas, semangat rohani yang mendasari seluruh kegiatan, perpaduan antara usaha karitatif dan pembinaan iman.
Setelah tahun 1617, Vinsensius mengunjungi banyak desa untuk memberi Misi Umat. Di semua desa itu didirikan Persaudaraan Kasih. Perkumpulan itu berkembang dalam tiga bentuk: Yang pertama hanya terdiri dari ibu-ibu, yang kedua anggotanya hanya bapak-bapak, dan yang ketiga campuran. Harus diakui bahwa bentuk campuran mengecewakan dan pelan-pelan dihapus. Sedangkan perkumpulan yang hanya terdiri dari ibu-ibu mengalami kemajuan paling besar dan akhirnya hanyalah bentuk ini yang bertahan sampai sekarang.
Mulai tahun 1626 para Romo CM juga mengunjungi desa-desa untuk menyelenggarakan Misi Umat. Di mana-mana mereka juga mendirikan Persaudaraan Kasih. Dalam waktu beberapa tahun ratusan perkumpulan tersebar di Perancis, terutama di bagian utara.
Pada tahun 1621. dalam salah satu perjalanannya, Vinsensius mampir di Macon. Ternyata di kota itu terdapat sejumlah besar pengemis dan keadaan mereka sangat menyedihkan. Vinsensius langsung tanggap terhadap keadaan dan permasalahan dan mencari penyelesaian. Didirikannya dua Persaudaraan Kasih, yang satu terdiri dari ibu-ibu dan yang lain dari bapak-bapak. Bersama mereka Vinsensius mencari jalan keluar agar para pengemis dapat hidup dari pekerjaan mereka atau dari derma yang dibagikan oleh perkumpulan. Dua syarat ditentukan bagi para pengemis: Jangan mengemis lagi dan rajin mengikuti kegiatan rohani (Misa, Pelajaran agama dan lain-lain). Kota Macon seluruhnya dilibatkan, para pejabat pemerintah maupun Gereja, pedagang-pedagang serta seluruh umat. Dalam waktu yang singkat kota itu bebas dari pengemis.
Pada tahun 1629 Persaudaraan Kasih masuk juga di ibukota Paris, mulai dengan dua perkumpulan saja. Setelah pengalaman awal yang menggembirakan, pelan-pelam semua Paroki mendirikan Persaudaraan Kasih.
Juga kota Beauvais segera mendapat organisasi itu. Ibu-ibu yang dapat dihimpun sekitar 300 orang, yang terbagi dalam 18 Persaudaraan. Vinsensius rupanya belum dikenal di Buauvais. Seorang pejabat melaporkan kepada pemerintah pusat bahwa “seorang bernama Vinsensius, dengan tidak mengindahkan kekuasaan Raja dan tanpa pemberitahuan apapun kepada pemerintah kota, mengumpulkan sekitar 300 wanita dalam suatu wadah ‘persaudaraan’ yang mereka namakan ‘kasih’. Mereka berkumpul untuk kegiatan mereka dan untuk memberikan pertolongan serta membagikan makanan bagi orang miskin yang sakit dari kota itu. Hal ini tidak dapat ditolerir”[10].
Tetapi Vinsensius sudah dikenal dengan baik oleh pemerintah pusat, sehingga 18 Persaudaraan kota Beauvais tak mengalami hambatan apapun, malah terus berkembang dengan subur.
Dengan cepat Persaudaraan Kasih mengalami kemajuan dalam jumlah maupun dalam kegiatan. Namun apa yang akan terjadi tanpa pembinaan terus menerus? Dari mana-mana laporan mengenai keadaan perkumpulan itu sampai pada Vinsensius. Tidak semua laporan menggembirakan. Di suatu tempat anggota perkumpulan tidak mau mengunjungi orang sakit, di tempat lain keuangan tidak beres; bendahara satu perkumpulan terlalu kikir, anggota-anggota perkumpulan lain tidak dapat bekerja sama … Tanpa pembinaan, organisasi itu akan roboh di bawah masalah-masalah yang bertumpuk-tumpuk.
Untuk menjamin pembinaan itu, Vinsensius dan Romo-Romo merasa perlu sering mengunjungi Persaudaraan-Persaudaraan yang tersebar di daerah yang luas. Kunjungan-kunjungan ini sering bergema dalam korespondensi S. Vinsensius. Pada akhir tahun 1654 (umurnya sudah 73 tahun) dia menulis: “Nanti sore saya bermaksud mengunjungi ibu-ibu cinta kasih dari Paroki kecil Saint-Marceau. Di sana perkumpulan yang baik ini menghadapi bahaya kehancuran, bila tidak mendapat sedikit dukungan”[11].
Surat di atas ini ditulis Vinsensius kepada Luisa de Marillac. Wanita yang luar biasa ini sudah dikenalnya sejak tahun 1624. Pada waktu itu wanita muda yang baru ditinggal mati suaminya, membutuhkan bimbingan yang lembut dan tegas. Rupanya Vinsensiuslah orang yang tepat. Sejak tahun 1629, Luisa dilibatkan dalam pembinaan Persaudaraan Kasih di kota dan desa yang cukup jauh. Inilah salah satu langkah Vinsensius yang paling berani dan paling subur.
Luisa mengunjungi banyak Persaudaraan. Di mana-mana Luisa mempelajari situasi, memberi semangat, membantu menyelesaikan masalah, dan selalu rajin melaporkan segalanya kepada Vinsensius. Sebagian dari korespondensi antara dua tokoh ini masih dapat kita baca, dan itu sangat membantu kita untuk mengenal mereka.
Setelah Persaudaraan Kasih masuk kota, banyak Nyonya dari keluarga bangsawan atau dari keluarga terkemuka menjadi anggotanya. Tetapi lama-kelamaan mereka malu mengunjungi orang miskin dan sakit di lorong kota yang kecil dan di gubuk yang kumuh. Karena itu, pembantu rumah tanggalah yang disuruh mengunjungi orang miskin yang sakit dan membawa makanan kepada mereka. Dapat kita bayangkan bagaimana pelayanan kasih ini menjadi suatu kegiatan tanpa jiwa di tangan pembantu rumah tangga.
Vinsensius dan Luisa tak dapat menerima cara kerja ini, karena pelayanan seperti itu lebih menyakitkan daripada menghibur. Dua tokoh kita sadar, bahwa orang miskin lebih membutuhkan perhatian dan kelembutan daripada makanan. Untunglah beberapa gadis desa yang baik datang kepada Vinsensius dan Luisa dan menawarkan diri untuk berkarya demi orang miskin. Gadis-gadis ini diserahkan kepada Luisa untuk dibina dalam kasih kepada Tuhan dan sesama. Mereka membantu di Paroki-Paroki kota Paris dalam kunjungan kepada orang miskin yang sakit. Kegiatan ini mereka lakukan atas nama Persaudaraan Kasih. Gadis pertama yang datang kepada Vinsensius untuk melayani orang miskin bernama Margareta Naseau. Semangat pengabdiannya menjadi teladan bagi gadis-gadis yang lain. Setelah beberapa tahun dia meninggal, karena berani menolong orang sakit pes, sampai ketualaran penyakit itu.
Tanggal 29 November 1633 merupakan suatu hari yang bersejarah. Pada hari itu sejumlah gadis dipilih dan dihimpun di rumah Luisa de Marillac. Dengan langkah itu dibentuklah suatu komunitas baru dalam Gereja, dengan nama Serikat Puteri Kasih. Bukanlah suatu ordo yang terkurung dalam biara sesuai kebiasaan pada waktu itu, melainkan suatu kelompok kerasulan. Mereka memang hidup bersama dan harus memiliki semangat seperti biarawati-biarawati lain; tetapi anggota Serikat Puteri Kasih harus terbuka dan terarah kepada pelayanan orang miskin, di mana saja orang miskin membutuhkan pertolongan. Pada tanggal 31 Juli 1634 jumlah mereka hanya dua belas orang.
Dalam tahun 1634 pula, di kota Paris ibu-ibu yang membantu Vinsensius dalam karya amal sejak tahun 1625, dihimpun dalam suatu Persaudaraan Kasih yang mengambil nama dari Rumah Sakit Paris, “Hôtel Dieu”. Kelompok inilah yang akan menjadi pendukung utama Vinsensius dalam karya-karya besar yang akan ditanganinya. Nyonya-Nyonya terkemuka dari Paris berlomba untuk menjadi anggota Persaudaraan Kasih Hôtel Dieu.
Dengan demikian Vinsensius sudah berhasil membentuk satu barisan sukarelawan-sukarelawati yang sanggup menghadapi tantangan dan tuntutan jaman. Para Romo CM bersama dengan imam-imam yang tergabung dalam Konferensi Hari Selasa berkarya terutama di jalur pertama yang bersumber dari pengalaman Folleville (‘Mission’). Para Suster Puteri Kasih beserta Persaudaraan Kasih dan khususnya kelompok Hôtel Dieu , berkarya di jalur kedua yang bersumber dari pengalaman Châtillon-les-Dombes (‘Charité’).
IV Masa Panen (1634-1653)
Abad XVII di Perancis dikenal sebagai ‘le grand siècle’ (abad yang agung), karena pada abad itu Perancis mengalami masa yang cemerlang dalam bidang politik dan militer, maupun dalam sastra, seni serta filsafat. Pada masa itu Perancis berhasil menggeser Spanyol sebagai negara adikuasa dalam percaturan politik Eropa. Tetapi tak pernah rakyat Perancis menderita seperti pada abad ini, sehingga abad yang demikian diagung-agungkan itu dapat disebut juga ‘abad orang miskin’. Penyakit pes, bencana alam yang menghancurkan penghasilan para petani, struktur masyarakat yang sangat menekan orang kecil, dan terutama perang yang berkepanjangan merupakan sumber derita yang tak terkatakan.
Pada abad orang miskin Allah membangkitkan pula ‘Bapak orang miskin’, yaitu Vinsensius de Paul. Orang-orang miskin yang penuh luka dan derita dipandang Vinsensius sebagai “majikan”, karena dalam diri mereka, seirama dengan samangat Injil, dia melihat Kristus sendiri; bagi dia melayani orang miskin sama dengan melayani Kristus. Oleh karena itu karya dipandang sebagai lanjutan dari doa dan cinta kepada Tuhan berpadu dengan cinta kepada orang kecil.
Seluruh keluarga besar yang telah dihimpun Vinsensius siap untuk melayani orang kecil dan meringankan penderitan mereka.
1.Cinta kasih melawan kekejaman perang
Balatentara cinta kasih yang dihimpun Vinsensius mendapat ujian pertama di Lorraine, salah satu propinsi Perancis di daerah perbatasan bagian timur laut. Sepanjang sejarah propinsi tersebut menjadi rebutan antara Perancis dan tetangganya Jerman. Pada jaman Vinsensius, Lorraine mengalami penderitaan yang dahsyat.
Sekitar tahun 1630, selama beberapa musim para petani hampir tidak dapat memetik hasil apa-apa karena pelbagai sebab. Panen jelek membawa paceklik dan kelaparan. Tak ketinggalan penyakit pes mengamuk sampai tahun 1637. Musibah yang paling dahsyat ialah perang. Dari tahun 1635 sampai dengan tahun 1643 balatentara dari bermacam-macam negara dan golongan menjelajahi daerah yang malang itu. Dimana-mana para serdadu merampas apa saja yang dapat dimanfaatkan, terutama bahan makanan. Mereka membakar, membunuh, memperkosa, menghancurkan tanpa belaskasihan. Penderitaan para penduduk dapat kita bayangkan.
Di propinsi Lorraine terdapat satu komunitas CM, tepatnya di Toul. Melalui para Romo Vinsensius mengenal situasi gawat yang diderita oleh seluruh masyarakat Lorraine. Seperti biasa Vinsensius tidak bisa diam di hadapan penderitaan manusia.
Pertama-tama dia dan komunitasnya berdoa dan melakukan matiraga, untuk memohon belaskasihan Tuhan bagi orang miskin yang menderita di daerah itu.
Di samping itu Vinsensius mencoba pula memperbaiki situasi pada akarnya. Pada suatu hari dia memberanikan diri menghadap Perdana Menteri Perancis, Kardinal Richelieu, dan memohon kepadanya: “Monsinyur, usahakanlah kedamaian bagi rakyat”. Kardinal yang berkuasa itu menjawab: “Sayalah yang paling mencintai kedamaian. Tetapi damai itu tidak hanya tergantung pada saya”.
Akhirnya Vinsensius terjun untuk meringankan penderitaan korban-korban perang. Dua belas Romo CM diutus ke Propinsi itu. Ibu-Ibu dari Persaudaraan Kasih digerakkan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin dana. Dengan dana yang disalurkan secara rutin melalui Romo-Romo CM yang sudah berkarya di daerah itu, berpuluh-puluh ribu jiwa diselamatkan dari kehancuran total.
Menurut laporan jaman itu, dari tahun 1639 sampai tahun 1649 telah dikumpulkan dan disalurkan bantuan sebanyak dua juta lire. Kalau kita membandingkan jumlah ini dengan data-data lain yang kita miliki (misalnya gaji seorang Pastor Paroki selama satu tahun mencapai tiga ratus lire), maka dapat disimpulkan bahwa dua juta lire sama dengan 55 miliar Rupiah masa kini.
Dalam karya raksasa ini, Vinsensius sibuk menjadi koordinator, para ibu dari Persaudaraan Kasih bergerak untuk mengumpulkan dana dan para Romo siap untuk menyalurkannya kepada orang miskin. Seorang Bruder CM, bernama Mateus Regnard, menjadi penghubung antara Paris dan Propinsi Lorraine. Seluruh dana yang dihimpun di Paris dapat disalurkan ke semua pos pertolongan di Lorraine berkat kecerdikan Bruder Regnard. Dia sudah dikenal oleh preman-preman zaman itu dan diincar oleh mereka; tetapi dengan kelihaiannya dia dapat selalu lolos dari perangkap mereka. Dalam kurung waktu sepuluh tahun dia melakukan perjalanan itu 54 kali. Setiap kali membawa 20 sampai 50 ribu lire.
Sebelum Lorraine pulih kembali dari kehancuran, musibah yang sama dialami oleh beberapa daerah lain, yaitu Picardie, Champagne dan Île de France. Kekejaman perang terulang kembali di suatu wilayah yang lebih luas. Sekali lagi rakyat terbawa ke ambang kehancuran. Dan sekali lagi seluruh “Keluarga Vinsensius” bergerak secara lebih efisien dan lebih efektif untuk menyembuhkan luka-luka masyarakat. Dari tahun 1650 sampai tahun 1654 para Romo dan Bruder CM dalam jumlah yang cukup besar (pernah sampai 18 orang) bersama dengan banyak Puteri Kasih pergi ke daerah-daerah yang menderita untuk menolong orang miskin dan orang sakit. Para ibu dari Persaudaraan Kasih sibuk untuk mengumpulkan dana di Paris. Bruder Parre mengantarkan dana itu dan membagikannya sesuai kebutuhan. Vinsensius dari Saint-Lazare memimpin ‘armada’ cintakasih ini. Di Ibukota Paris sendiri beberapa puluh ribu pengungsi mendapat pertolongan jasmani maupun rohani.
Menurut laporan Vinsensius, sekitar 370.000 lire telah dikirim dan dibagikan kepada orang miskin. Jumlah sebesar itu telah dimanfaatkan untuk memberi makan kepada orang sakit yang lapar, untuk menghimpun dan menjamin sekitar 800 anak yatim piatu, untuk mencukupi kebutuhan banyak Pastor Paroki yang miskin dan untuk keperluan lain. Dalam laporan itu belum diperhitungkan pakaian, selimut, peralatan Misa dan kebutuhan lain yang telah dikirim ke sana dalam jumlah yang sangat besar.
Dalam salah satu suratnya tertanggal 21 Juni 1652 Vinsensius menyampaikan ‘berita-berita kecil’[12] tentang apa yang dikerjakan di Paris untuk menampung dan menolong para pengungsi.
“Inilah karya-karya yang paling menonjol:
1. Setiap hari sekitar 15.000 orang miskin, baik para miskin yang tersembunyi karena malu maupun para pengungsi, menerima makanan yang sudah dimasak.
2. Sekitar 800 gadis yang telah mengungsi kemari, telah dikumpulkan di beberapa rumah khusus. Di situ mereka mendapat keperluan sehari-hari serta pembinaan. Romo sendiri dapat membayangkan nasib mereka andaikata dibiarkan mengembara di kota. Seratus di antara mereka kita tanggung di salah satu rumah di daerah Saint-Denis.
3. Tak ketinggalan para Suster yang telah dipaksa meninggalkan biara mereka oleh gerombolan tentara dan lari ke kota Paris. Di antara mereka ada yang berkeliaran di jalan, ada yang ditampung di tempat yang patut dicurigai, ada juga yang kembali kepada keluarganya. Pokoknya mereka semua terseret ke dalam bahaya dan kekacauan. Ada banyak usaha untuk melepaskan mereka dari keadaan yang membahayakan. Untuk itu telah diprakarsai satu usaha yang nampaknya berkenan kepada Tuhan. Mereka semua telah dikumpulkan bersama-sama dalam satu biara, di bawah bimbingan Suster-Suster Santa Maria.
Akhirnya semua Pastor Paroki, Pastor Pembantu dan Pastor-Pastor lain yang telah lari ke dalam kota Paris dari Paroki-Paroki mereka di pedesaan, telah dikumpulkan di rumah kita. Setiap hari ada pendatang baru. Mereka menerima makanan dan penginapan serta dibina dalam pengetahuan dan praktek yang perlu bagi hidup mereka.
Demikianlah Tuhan memperkenankan kami ambil bagian pada karya-karya suci yang sedang diusahakan di Paris. Para Suster Puteri Kasih lebih terlibat daripada kami, khususnya dalam pelayanan jasmani bagi orang miskin. Mereka mempersiapkan dan membagikan makanan di tempat Ibu Le Gras untuk 1.300 orang miskin yang malu dan bagi 800 pengungsi di daerah Saint-Denis. Malah dalam Paroki Santo Paulus, empat atau lima Suster Puteri Kasih memberikan makanan kepada 5.000 orang miskin, di samping tugas mereka yang rutin, yaitu merawat 60 atau 80 puluh orang sakit. Di tempat lain para Suster menangani karya-karya yang sama”[13].
S. Vinsensius tidak hanya pandai membagikan dana yang dikumpulkan dan disumbangkan oleh orang lain. Setiap kali kebutuhan mendesak, dia tidak segan-segan mengambil uang dari kas rumah Saint-Lazare. Karena itu sering kali kas rumah itu kosong. Namun Vinsensius percaya akan Penyelenggaraan Ilahi.
Pengorbanan yang lebih besar dituntut dari mereka yang langsung berkarya di daerah-daerah yang menderita. Banyak di antara mereka jatuh sakit dan terpaksa meninggalkan medan dalam waktu singkat. Beberapa Romo dan seorang Suster meninggal di tempat kerja. Namun Vinsensius tak pernah mengalami kesulitan untuk mencari Romo atau Suster yang rela mengganti para martir cinta kasih itu.
1. Menolong orang yang paling terlantar
Kemelaratan merupakan tanah yang subur untuk tumbuhnya segala macam dosa. Tidak mengherankan bila pada ‘abad orang miskin’ itu kita jumpai banyak masalah sosial yang bersumber dari kejahatan.
Salah satu masalah yang muncul ialah anak terbuang. Setiap tahun di kota Paris ratusan anak dibuang oleh ibu yang tidak bertanggung jawab, karena ibu itu terlalu miskin dan tidak mampu menghidupi anaknya, atau karena ibu itu masih gadis dan tidak berani menghadapi ‘penghakiman’ masyarakat tanpa seorang suami yang jelas. Biasanya anak dibuang di muka pintu salah satu gedung Gereja. Mungkin karena wanita yang gagal sebagai ibu itu masih ingat bahwa Gereja juga adalah Ibu. Vinsensius sendiri berkata bahwa setiap tahun anak yang dibuang berjumlah sekitar 365, rata-rata setiap hari satu.
Sesungguhnya di Paris sudah tersedia penampungan resmi bagi anak-anak itu. Namanya ‘la couche’(dalam bahasa Perancis berarti ‘tempat untuk berbaring bagi anak-anak’). Vinsensius mengetahui keadaan asrama itu. Ibu-ibu yang tak berperikemanusiaan memperlakukan anak-anak sebagai barang yang mengganggu, sehingga mereka tidak segan menjual anak-anak kepada para pengemis. Kaki dan tangannya nanti akan dipatahkan, dan dengan anak yang sudah cacat itu di pangkuannya, para pengemis dapat menggugah belaskasihan masyarakat sehingga memperoleh banyak derma.
Setelah melihat orang miskin yang menderita, Vinsensius tak pernah mencari alasan untuk mengelak dari tanggung jawabnya. Dia sadar pula bahwa anak-anak itu oleh masyarakat dianggap makhluk terkutuk karena ‘anak haram’. Dia tidak mundur. Dengan caranya sendiri dia sanggup mendobrak mentalitas masyarakat. Untuk karya ini pun dia melibatkan semua organisasi besar yang dipimpinnya: Ibu-Ibu dari Persaudaraan Kasih untuk mencari dana, para Suster Puteri Kasih yang akan langsung menanganinya, dan para Romo CM sebagai koordinator.
Pada tahun 1637, setelah mengunjungi ‘la Couche’, Ibu-Ibu dari Persudaraan Hôtel Dieu mengambil keputusan untuk mencoba menampung dua belas anak yang terbuang. Jumlah anak yang diasuh pelan-pelan bertambah. Akhirnya pada tanggal 17 Januari 1640, atas desakan Vinsensius, para Ibu menyediakan diri untuk menampung semua anak terbuang. Proyek besar ini dimulai pada tanggal 30 Maret 1640 dan dipikul bersama oleh putera-puteri Vinsesius untuk seterusnya, di tengah-tengah kesulitan yang dapat kita bayangkan: Kesulitan tempat untuk menampung semua anak, mencari ibu yang mau menyusui bayi, mengarahkan anak-anak yang sudah menjadi remaja kepada suatu pekerjaan yang memungkinkan mereka mandiri, dan terutama kesulitan ekonomi.
Semua kesulitan ini sering kali mematahkan semangat kelompok-kelompok yang terlibat. Vinsensius selalu siap untuk melindungi anak-anak dan memberi semangat kepada putera-puterinya.
Kepada anggota CM dia menjelaskan: “Penyelamat kita berkata kepada murid-muridNya: ‘Biarkanlah anak-anak datang kepadaKu’. Apakah kita berani menolak atau meninggalkan anak-anak yang datang kepada kita? Itu berarti menolak Kristus sendiri”[14].
Kepada Ibu-Ibu dari Persaudaraan Kasih ia berkata: “Sampai sekarang kalian menjadi ibu bagi anaka-ank ini. Sekarang kalian menjadi hakim bagi mereka. Kehidupan atau kematian anak-anak ini ada di tangan kalian. Bila kalian terus memberi perhatian kepada mereka, anak-anak akan hidup. Bila mereka kalian tinggalkan, anak-anak akan mati. Putuskanlah sendiri”[15].
Kepada para Suster Puteri Kasih ia berkata: “Dalam karya ini kalian menyerupai Bunda Maria, karena sekaligus menjadi perawan dan ibu”[16].
Beberapa keterangan dapat memberikan gambaran yang nyata: Dari tahun 1638 sampai tahun 1643 ditampung 1200 anak; pada tahun 1644 (hanya satu tahun!) biaya untuk karya itu mencapai 44.000 lire; pada tahun 1656 biaya hanya 17.221; pada tahun 1657 jumlah anak yang diasuh 395.
Luisa de Marillac paling disibukkan oleh karya ini, karena dia bersama Suster-Susternya langsung menanganinya. Kalau usaha ini bertahan terus Luisalah yang paling berjasa.
Masalah sosial lain yang sudah lama menarik perhatian Vinsensius dan putera-puterinya ialah pendayung-pendayung galea (galea adalah kapal perang). Di Perancis dan negara-negara lain para narapidana dimanfaatkan sebagai pendayung galea. Keadaan mereka sangat tidak manusiawi. Vinsensius memberi komentar ini: “Saya melihat sendiri bahwa mereka diperlakukan seperti binatang”[17].
Pada tanggal 8 Februari 1619, atas prakarsa Bapak Gondi, Jenderal Armada Perang Perancis, Vinsensius diangkat sebagai Kapelan Armada Perang. Sejak permulaan Vinsensius mengusahakan perbaikan-perbaikan dalam makanan dan pengobatan bagi para pendayung. Pembinaan rohani juga diperhatikannya, khususnya lewat Misi Umat. Bila sementara tidak dimanfaatkan di kapal, para pendayung tinggal di penjara khusus. Beberapa kali Vinsensius mengusahakan tempat yang lebih pantas sebagai kediaman bagi mereka. Malah pada tahun 1645 di Marseille dapat dibangun sebuah rumah sakit. Saat narapidana yang sakit dipindahkan dari galea ke rumah sakit, rasanya seperti meninggalkan neraka untuk masuk surga.
Di Marseille, kota pelabuhan terbesar di Perancis, Vinsensius menempatkan beberapa Romo CM dengan tugas utama pemeliharaan rohani dan jasmani para pendayung galea. Para Romo menjadi penghubung antara narapidana dengan dunia luar, yaitu dengan orang tua, saudara-saudara, isteri, anak, pacar, dan tentu dengan para penderma.
Tinggal di tengah-tengah narapidana merupakan pekerjaan yang sulit dan berbahaya. Namun Vinsensius dan Luisa tidak segan-segan melibatkan Puteri Kasih dalam karya ini juga. Rencana ini dapat diwujudkan tahun 1640. Para Suster Puteri Kasih ditugaskan untuk pemeliharaan para pendayung galea dalam sebuah penjara di Paris.
Semua ini dapat dilaksanakan berkat dukungan finansial dari Nyonya d’Aiguillon, keponakan Kardinal Richelieu, dan ibu-ibu lain.
Kemiskinan muncul dengn seribu wajah, dan Vinsensius selalu di barisan terdepan untuk menolong. Kelompok lain yang mengalami kasih Vinsensius ialah para budak yang diperjual-belikan di Afrika Utara, setelah ditangkap oleh bajak laut di perairan Laut Tengah. Beberapa puluh ribu (mungkin 50.000) orang Kristen Eropa menderita di Afrika Utara sebagai budak. Beberapa anggota CM ditugaskan di Tunis dan di Aljazair untuk membina mereka, dan juga untuk membebaskan mereka bila dapat diusahakan uang tebusan. Bahkan Vinsensius menerima tugas sebagai konsul di Tunis dan di Aljazair bagi beberapa Romo atau Bruder, supaya dengan jabatan ini para budak dapat dilayani dengan lebih baik. Nyonya d’Aiguillon juga dalam karya ini menjadi pendukung utama Vinsensius. Sedangkan para Romo yang berkarya di Marseille menjadi penghubung antara Perancis dan Afrika Utara. Menurut Abelly, pengarang riwayat Vinsensius yang pertama, santo kita berhasil menebus 1.200 budak dengan biaya 1.200.000 lire.
Catatan singkat ini tak dapat mengungkapkan secara lengkap perjuangan dan pengorbanan Vinsensius, para ibu, dan terutama para Misionaris CM yang ditugaskan di Afrika Utara. Beberapa di antara mereka dipenjarakan dan disiksa. Seorang imam dan seorang Bruder dibunuh sebagai martir oleh penguasa Afrika Utara; juga seorang pemuda Maroko yang bertobat menjadi Kristen dibunuh secara kejam.
1. Misi Universal
Semua karya Vinsensius dijiwai oleh cinta kepada Tuhan dan kepada Gereja. Bukanlah cinta kepada Gereja Perancis atau Gereja Eropa, melainkan cinta kepada Gereja Katolik yang tersebar di seluruh dunia. Cinta Vinsensius pun menjadi universal seperti Gereja. Oleh karena itu sejak dini Vinsensius berusaha melampaui batas Perancis dan memperluas pelayanannya ke daerah-daerah lain.
Pada tahun 1639 Romo Lebreton diutus ke Roma, bukan hanya untuk menangani kepentinga CM di pusat Gereja, tetapi juga untuk mengabdi kepentingan Gereja di tengah-tengah kaum miskin (narapidana, orang-orang terlantar, masyarakat pedesaan). Pada tahun 1645 sebuah rumah CM dibuka di Genova (Italia) dan para putera Vinsensius mendarat di Tunis, seperti telah kita singgung di atas. Dua tahun kemudian para misionaris CM mulai berkarya di Irlandia dan di sini Romo Taddeus Lee, putra Irlandia, menjadi martir CM pertama (tahun 1652) Satu tahun sebelumnya, yaitu 1651, Skotlandia dan Polandia juga dapat mengalami kasih Vinsensius lewat putera-puteranya. Akhirnya pada tahun 1654 karya CM mulai berkembang di Torino (Italia) dan di Aljazair.
Di mana-mana para putera Vinsensius menangani karya yang sama seperti sang pendiri di Perancis: Misi Umat, terutama di daerah pedesaan, yang sampai saat itu agak terlupakan oleh petugas Gereja; pembinaan imam dan calon imam; pertolongan bagi orang-orang yang terlantar. Melalui kegiatan ini putera-putera Vinsensius mendekatkan Gereja pada umat sederhana dan membawa pembaharuan semangat kristiani di semua lapisan masyarakat.
Di luar Perancis pun para Romo CM berada di garis terdepan bila situasi membahayakan. Misalnya di Polandia yang digoncangkan oleh perang antara Polandia sendiri dengan Swedia, di Genova yang dilanda pes, di tengah-tengah umat katolik Skotlandia dan Irlandia yang dikejar dan dibunuh oleh tentara pemerintah London. Banyak Romo CM menjadi martir cintakasih. Di Genova, misalnya, tujuh imam dan seorang Bruder meninggal karena merawat orang sakit pes.
Usaha Vinsensius di luar Perancis yang paling berani ialah misi ke Madagaskar. Vinsensius menerima pekerjaan itu atas desakan Nuntius (utusan Paus) yang berkedudukan di Paris. Sebetulnya sudah lama Vinsensius mencari kesempatan untuk mengirim misionaris-misionaris CM ke daerah misi. Dia menulis: “Saya mengakui bahwa, dengan kasih dan semangat besar, menurut perasaanku, saya menginginkan perluasan Gereja di daerah-daerah yang penghuni-penghuninya masih kafir”[18].
Kepada Romo Nacquart, misionaris pertama yang diutusnya ke Madagaskar, Vinsensius menulis: “Serikat kita telah memandang Romo sebagai korban yang paling pantas untuk dipersembahkan kepada Sang Pencipta yang Mahakuasa”[19]. Sejarah misi CM di Madagaskar selama Vinsensius masih hidup itu membuktikan bahwa memang karya itu merupakan suatu ‘korban’besar.
Dari tahun 1648 sampai tahun 1660 Vinsensius mempersiapkan enam kelompok misionaris CM untuk diutus ke pulau Afrika Timur itu. Tiga kelompok pertama sampai di pulau itu, sedangkan tiga kelompok terakhir tak pernah menyentuh Madagaskar karena keganasan Lautan Atlantik. Selama 12 tahun Vinsensius berusaha menegakkan Kerajaan Allah di pulau Madagaskar. Selama waktu yang cukup singkat itu tujuh anggota CM meninggal setelah mencapai tujuan. Seorang meninggal dalam perjalanan dan 13 yang lain berangkat tetapi tak pernah sampai pada tujuan.
Hanya dua Romo dapat merintis pembangunan Gereja di pulau itu, yaitu Romo Nacquart yang bertahan sekitar satu setengah tahun dan Romo Bourdaise yang lebih beruntung karena dapat berkarya hampir tiga tahun, sampai dipatahkan oleh disentri yang gawat.
Satu demi satu semua tenaga yang telah diutus ke Madagaskar menjadi korban keganasan iklim atau korban semangat kerja yang tak dapat mereka kendalikan. Siapa yang tak patah di bawah pukulan dan kegagalan yang begitu dahsyat? Namun Vinsensius tetap teguh.
Kepada komunitas CM dia berkata: “Mungkin darah dan daging cenderung meninggalkan Madagaskar, tetapi saya yakin bahwa roh mempunyai niat yang berbeda … Saya yakin bahwa dalam serikat kita tak seorang pun akan mundur kalau diminta mengambil tempat mereka yang telah gugur”[20]. Keyakinan Vinsensius itu sesuai dengan kenyataan. Beliau tak pernah mengalami kesulitan pada saat mencari Romo atau Bruder untuk diutus ke Madagaskar.
1. Dalam kancah politik
Vinsensius sangat dekat dengan rakyat kecil, tetapi sekaligus dekat pula dengan orang besar, karena Vinsensius ingin menjadi jembatan antara masyarakat yang kaya dan masyarakat yang miskin. Empat orang yang mengendalikan Pemerintah Perancis mengajak Vinsensius untuk bekerja sama: Kardinal Richelieu, Kardinal Mazzarino, Raja Louis XIII dan Ratu Anna dari Austria Khususnya pada masa Ratu Anna memegang pucuk Kerajaan dengan Kardinal Mazzarino sebagai Perdana Menteri, Vinsensius mendapat kedudukan yang cukup tinggi dalam ‘kabinet’ Perancis. Sebagai Bapak Pengakuan Ratu, santo kita menjadi anggota ‘Dewan Hati Nurani’. Dewan ini bertugas memberikan saran kepada Ratu dalam segala urusan kenegaraan yang menyangkut hati nuraninya.
Vinsensius berperan penting, terutama dalam pengangkatan Uskup-Uskup. Dia yakin bahwa pembaharuan Gereja Perancis, sesuai dengan harapan Konsili Trente, banyak tergantung pada Uskup-Uskup. Vinsensius mencoba memperjuangkan imam-imam yang pantas untuk kedudukan itu. Karenanya Vinsensius harus banyak berkorban, sebab perjuangannya itu tidak seiring dengan pandangan Kardinal Mazzarino, yang lebih cenderung menganggap pengangkatan Uskup sebagai suatu permainan politik. Vinsensius mendapat kesulitan juga dari banyak keluarga terkemuka, yang hanya ingin memperjuangkan kehormatan keluarga tanpa mempedulikan kepentingan Gereja.
Vinsensius menjadi anggota Dewan Hati Nurani dari tahun 1643 sampai tahun 1652, Pada masa itu Perancis diguncangkan oleh perang saudara yang diberi nama perang ‘Fronde’ (1648-1649, 1651-1653). Di tengah-tengah pertentngan antara golongan yang bertikai, Vinsensius menjadi tokoh penengah, karena dia dekat dengan Ratu dan Perdana Menteri, dan dekat pula dengan rakyat, parlemen dan keluarga-keluarga bangsawan. Dua kali Vinsensius melakukan tindakan yang bersejarah, pada bulan Januari 1649 dan pada bulan September 1652. Dia mengusulkan kepada Kardinal Mazzarino agar mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri, karena dialah yang dipandang oleh rakyat sebagai biang keladi perang itu. Pertama kali langkah Vinsensius gagal; tetapi pada tahun 1652 berhasil dan menyelamatkan Perancis dari pertumpahan darah yang tak berguna.
V Senja yang cerah (1653-1660)
Pada tahun-tahun terakhir hidupnya Vinsensius dipandang oleh seluruh masyarakat Perancis dan pejabat-pejabat Gereja sebagai tokoh yang penuh wibawa karena karya, kesucian dan kebijaksanaannya. Dari pusat CM di Paris Vinsensius masih mengikuti perkembangan semua karyanya dan masih bertindak sebagai ‘jenderal’, terutama lewat surat-suratnya. Santo kita tidak dapat terjun langsung di lapangan seperti dulu, karena kesehatannya mulai terganggu. Namun pikirannya masih jernih, kemauannya masih keras dan kesuciannya makin kentara.
Selama periode ini dia dapat lebih memusatkan perhatian pada pembinaan CM dan Puteri Kasih. Peraturan CM disetujui oleh Uskup Paris, atas nama Paus, pada tahun 1653. Dua tahun kemudian Paus sendiri menyetujui kaul sebagai unsur hakiki CM. Tahun 1658 peraturan CM, yang sudah direvisi dan disetujui kembali oleh Uskup, dicetak dan dibagikan kepada semua anggota. Puteri Kasih juga mendapat persetujuan sebagai Serikat oleh Uskup Paris.
Vinsensius masih memberi perhatian kepada Misi Umat, sebagai karya utama CM. Malah pada tahun 1653 dia ikut ambil bagian dalam salah satu Misi di Sevran. Nyonya d’Aiguillon menulis kepada Romo Portail, wakil Pimpinan CM, dan menegurnya karena Romo Vinsensius yang sudah lanjut usia dibiarkan membuang tenaganya: “Saya merasa bahwa hidupnya sangat berharga dan berguna bagi Gereja dan Serikatnya. Tidak masuk akal kalau tenaganya dibuang begitu saja”[21]. Vinsensius, sebelum berangkat, sudah memberi penjelasan kepada ibu yang baik itu: “Saya merasa berdosa di hadapan Tuhan apabila saya tidak melakukan apa saja yang dapat saya kerjakan bagi rakyat miskin dari daerah pedesaan”[22].
Pada senja hidupnya Vinsensius disibukkan secara khusus oleh dua usaha: Pembebasan para budak kristen di Afrika Utara dan rencana pemerintah Perancis untuk mengumpulkan semua pengemis di satu tempat yang diberi nama “l’Hôpital Général” (rumah sakit umum). Usaha yang kedua ini sebetulnya dirintis oleh ibu-ibu dari Persaudaraan Kasih, yang ingin melaksanakan untuk lingkup yang lebih luas dan umum apa yang sudah dikerjakan oleh Vinsensius dengan asrama “Nama Kudus Yesus” bagi orang-orang jompo. Selanjutnya pemerintah mengambil alih gagasan itu. Vinsensius diberitahu mengenai rencana itu, didesak untuk memberi dukungan dan diminta melibatkan diri dan semua organisasinya dalam usaha itu. Malah para Romo CM secara resmi diangkat menjadi Kapelan, tanpa sebelumnya minta persetujuan kepadanya. Ternyata Vinsensius menolak melibatkan dirinya dan CM dalam karya itu. Sikap Vinsensius nampaknya aneh, sebab dia berpedoman: ’orang-orang miskin adalah warisan kita’ dan karenanya dia tak pernah mengundurkan diri di hadapan kebutuhan mereka. Namun “l’Hôptal Général” mendapat penilaian cukup negatif dari santo kita. Dasar usaha itu bukanlah cinta kepada orang miskin dan keinginan untuk memenuhi kebutuhan mereka, melainkan pandangan bahwa orang miskin merupakan ancaman bagi masyarakat, karena itu harus disingkirkan dan dimasukkan dalam semacam “penjara” yang hanya namanya lebih manis.
Usaha kedua yang menyibukkan Vinsensius ialah karya untuk membebaskan para budak di Afrika Utara. Para anggota CM yang berkarya di sana sangat menderita, terutama Bruder Barreau, Konsul di Aljazair, yang dipenjarakan oleh penguasa setempat. Di seluruh Perancis diadakan propaganda besar-besaran guna mengumpulkan dana untuk membebaskan umat Kristen yang dijadikan budak. Namun hasilnya, betapapun menyenangkan, tak seimbang dengan kebutuhan. Karena itu Vinsensius mengambil keputusan untuk mendukung prakarsa seorang bernama Paul, yang merencanakan suatu serangan terhadap Afrika Utara untuk membebaskan para budak. Serangan memang dilakukan, tetapi gagal.
Pada masa ini Vinsensius mendapat percobaan-percobaan berat: Kegagalan Misi di Madagaskar dengan banyak misionaris yang gugur, kehancuran Rumah CM di Warsawa, kematian tujuh imam yang berkarya di Genova. Justeru sikapnya terhadap percobaan-percobaan ini menunjukkan seluruh kesuciannya, seperti dapat dilihat dari contoh berikut.
Komunitas Saint-Lazare mempunyai beberapa tanah bengkok. Salah satu yang paling luas dan paling produktif ialah Orsigny. Beban yang harus dipikul CM sungguh sangat berat, maka tanah itu sangat penting bagi kelangsungan hidup komunitas dan karya-karyanya. Ternyata pada tahun 1658 pengadilan memutuskan bahwa CM tidak berhak atas tanah Orsigny. Santo Vinsensius sangat terpukul. Pada waktu itu dia di luar Saint-Lazare dan menulis surat berikut ini kepada komunitasnya:
“Apa saja yang dilakukan Tuhan pasti itulah yang terbaik. Kehilangan tanah tersebut akan menguntungkan kita, karena pengalaman ini pun berasal dari Allah. Untuk orang yang saleh segalanya akan membawa kebaikan. Saya yakin bahwa segala kemalangan akan menjadi sukacita dan berkat bila diterima dari tangan Tuhan. Kita harus bersyukur kepada Tuhan karena kejadian ini, yaitu karena kita kehilangan kekayaan itu, dan kita harus bersyukur pula karena ternyata, berkat rahmat Tuhan, kita siap untuk menerima malapetaka itu demi cinta kepada Tuhan. Kerugian yang kita alami memang besar, tetapi kebijaksanaanNya yang patut kita sembah itu mampu mengubah malapetaka menjadi keuntungan besar bagi kita”[23].
Sejak tahun 1656 kesehatan Vinsensius sangat menurun, tetapi Vinsensius sudah siap menghadap Bapa. Dia sendiri mengakui: “Sejak 18 tahun yang lalu, setiap malam sebelum tidur saya mempersiapkan diri untuk menerima kematian malam itu juga”.
Beberapa temannya mendahului dia. Jean-Jacques Olier, murid Vinsensius dan pembina calon imam seperti gurunya, wafat pada tahun 1657; Antoine Portail, pendamping Vinsensius sejak di Clichy, menyusul pada tanggal 14 Februari 1660; Luisa de Marillac wafat tanggal 15 Maret 1660.
Kepergian sahabat-sahabat semakin mempersiapkan Vinsensius untuk melepaskan segala ikatan dunia, sehingga pada akhir September 1660, ketika dia menghadapi ajalnya, tampak begitu damai dan pasrah kepada kehendak Bapa. Dan pada pagi hari tanggal 27 September 1660, didampingi oleh seluruh komunitas CM yang ada di Saint-Lazare, menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan damai.
Kata Penutup
SPIRITUALITAS SANTO VINSENSIUS
“Inilah kunci utama hidup rohani, menyerahkan kepadaNya segala sesuatu yang kita cintai sambil menyerahkan diri kepada kehendakNya”.
Bagi siapa saja kehidupan rohani berarti usaha untuk mencintai Allah. Cinta kepada Allah itu dalam pengertian S. Vinsensius mendapat warna khas: “Saudara-saudaraku, marilah mencintai Allah, sekali lagi marilah mencintai Allah, tetapi dengan mencucurkan keringat dan dengan menyingsingkan lengan baju”[24].Santo Vinsensius berkata bahwa ada dua macam cinta kepada Allah, afektif dan efektif, dan keduanya diperlukan.
Maka menurut Santo Vinsensius cinta kepada Allah dengan sendirinya bermuara dalam karya Allah, yaitu dalam usaha melaksanakan kehendak Allah. Oleh karena itu bagi Vinsensius doa dan karya merupakan satu kesatuan: doa dilanjukan dalam karya, karya dibawa dalam doa dan karenanya menjadi subur. Vinsensius tidak segan-segan menganjurkan kepada Puteri Kasih: “Bila Suster terpaksa meninggalkan doa untuk melayani orang miskin, jangan cemas, karena itu berarti meninggalkan Tuhan untuk berjumpa lagi dengan Tuhan dalam diri orang miskin”.
Santo Vinsensius bukanlah seorang santo yang menonjol karena pengalaman rohani istimewa, seperti kontemplasi, penglihatan, matiraga luar biasa, mukjizat. Spiritualitasnya menonjol karena bagi dia acara-acara rohani maupun karya sama-sama merupakan doa. Doa di kapel sangat penting: “Berilah aku seorang pendoa dan dia akan mampu melakukan apa saja”. Karya juga penting dan bernilai sebagai doa, karena merupakan perwujudan kehendak Allah. Lebih tegas lagi: dalam doa manusia mencari kehendak Allah yang nantinya akan dilaksanakan dalam karya.
Kalau kita mempelajari karya maupun tulisan Vinsensius, nampaklah suatu kekhawatiran: jangan-jangan karya yang direncanakan tidak sesuai dengan kehendak Allah. Dia mempunyai prinsip: “Mengikuti Penyelenggaraan Ilahi dan tidak pernah mendahuluiNya”, yaitu menunggu tanda-tanda yang jelas bahwa sesuatu dikehendaki oleh Tuhan. Dia yakin bahwa kalau Tuhan menghendaki sesuatu pasti Dia akan menunjukkan kehendakNya dengan jelas.
Pengalaman membuktikan kepadanya bahwa Tuhan pasti menghendaki Vinsensius membaktikan seluruh hisupnya bagi orang miskin. Setelah peristiwa Folleville, Châtillan-les-Dombes dan peristiwa-peristiwa lain, dia sedikit pun tidak ragu-ragu. Karena itu untuk dirinya dan CM dipilihnya semboyan: “Evangelizare pauperibus misit me” (Tuhan telah mengutus aku untuk mewartakan kabar gembira kepada orang miskin); sedangkan untuk para Suster Puteri Kasih dia memilih motto: “Caritas Christi urget nos” (Cinta kasih Kristus mendesak kita).
Karena para imam CM dan para Suster Puteri Kasih bertugas untuk berkarya di tengah-tengah orang kecil, maka Vinsensius memilih bagi mereka keutamaan-keutamaan yang tepat. Bagi para imam CM: Kesederhanaan, Kerendahan hati, Kelemah-lembutan, Matiraga, Semangat merasul. Bagi para Suster PK: Kesederhanaan, Kerendahan hati, Kasih.
Berdasarkan kesadaran atas panggilan hidupnya itu, maka dia tak pernah mundur di hadapan masalah yang menyangkut orang kecil. Dia tak mungkin berkata: “Saya terlalu sibuk, itu bukan urusan saya, biar ditangani orang lain”. Karena itu kita melihat bahwa semua masalah sosial yang muncul ke permukaan atau berhasil ditangkap oleh kepekaannya, dihadapinya dengan penuh tanggung jawab. Penanganan masalah itu bukanlah untuk sekedar menunjukkan kehendak baik. Selalu diusahakan penanganan yang tuntas, sesuai dengan kemampuan maksimal. Banyak contohnya: Folleville, Châtillon, Macon, korban perang, anak-anak terbuang, budak dan lain-lain.
Karena semua ini, Vinsensius menjadi kreatif, bahkan revolusioner. Dia membentuk organisasi yang serba baru, seperti Serikat Puteri Kasih, komunitas suster pertama yang berani meninggalkan biara dan berkarya di tengah-tengah masyarakat, di mana saja diperlukan, dalam kancah perang, di tengah narapidana, di tengah pengungsi yang penuh masalah. Kepada suster-susternya Vinsensius berkata: “Biaramu ialah rumah orang-orang sakit, kamar biaramu ialah kamar-kamar yang kamu sewa, kapelmu ialah Gereja Paroki, lorong biaramu ialah jalan-jalan kota atau lorong-lorong rumah sakit, klausuramu ialah ketaatan, kisi-kisimu ialah rasa takut akan Tuhan, kerudungmu ialah sikap sopan”[25].
Melalui Serikat Suster yang serba baru, melalui Kongregasi imam yang benar-benar terjun di tengah-tengah orang-orang kecil daerah pedesaan, melalui gerakan awam yang tidak hanya mengutamakan kegiatan tetapi mencari ispirasi dalam spiritualitas, melalui pembinaan para imam dan calon imam, Vinsensius membangun Gereja modern[26], Gereja yang hidup di tengah-tengah masyarakat dan siap melayani kebutuhan dan tantangan masyarakat.
Tulisan: Romo Silvano Ponticelli, CM
(Dikutip dari Buku Sahabat-Sahabat Tuhan dan Orang Miskin, SERI VINSENSIANA No. 1).
Santo Alfonsus dari Liguori (27 September 1696 – 1 Agustus 1787) adalah seorang Uskup, Doktor Gereja, dan pendiri Kongregasi Redemptorist. Ia terlahir sebagai Alphonsus Marie Antony John Cosmos Damien Michael Gaspard de Liguori pada tanggal 27 September 1696 di Marianella, dekat Naples, Italia.
Dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama, Alfonsus sering pergi retret bersama ayahnya, Don Joseph, yang merupakan seorang perwira angkatan laut dan seorang komandan kapal perang kerajaan. Alfonsus adalah anak sulung dari tujuh bersaudara, dibesarkan oleh seorang ibu yang taat beragama dan berdarah Spanyol.
Alfonsus menerima gelar doktor hukum dari Universitas Naples dalam usianya yang masih enam belas tahun. Ia sudah praktek menjadi pengacara pada usia sembilan belas tahun. Namun dia sudah berpikir untuk meninggalkan profesinya itu. [1]
Niat Alfonsus ini baru terwujud pada tahun 1723. Alfonsus kemudian mendedikasikan dirinya ke dalam kehidupan religius, walaupun sebagai akibatnyadia menderita perlakuan buruk dari keluarganya. Ia akhirnya setuju untuk menjadi imam tapi ia minta untuk tetap tinggal di rumah sebagai anggota sebuah grup misionaris sekular.
Alfonsus ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 21 Desember 1726, dan kemudian ia menjadi misionaris selama enam tahun di seluruh daerah Naples.
Pada bulan April 1729, Alfonsus tinggal di “Chiflese College” yang didirikan di Naples oleh Romo Matthew Ripa, seorang misionaris utama di Tiongkok. Disana ia bertemu dengan Uskup Thomas Falcoia, pendiri Kongregasi Pekerja Taat (Congregation of Pious Workers/Pii Operarii). Persahabatan seumur hidup dengannya, dan hubungannya dengan seorang biarawati suci Suster Mary Celeste, benar-benar mengarahkan jalan religius Alfonsus. Dengan bantuan mereka berdua, Alfosnus mendirikan Kongregasi Penebus Dosa Paling Suci (Congregation of the Most Holy Redeemer/Congregatio Sanctissimi Redemptoris (C.Ss.R atau CSSR)) pada tanggal 9 Nopember 1732.
[sunting] Rujukan
1. ^ Tannoja, Antonio. “The life of St. Alphonsus Maria de Liguori” (1855) p. 30
[sunting] Pranala luar
(en)The life of St. Alphonsus Maria de Liguori, Bishop of St. Agatha of the Goths and founder of the Congregation of the Holy Redeemer (1855) Biografi Alfonsus dari Liguori di Internet Archive dalam berbagai format
Benediktus dari Nursia
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia
Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.
Santo Benediktus

Detail dari fresko karya Fra Angelico

Abbas dan Pelindung Eropa
Lahir ± 480, Norcia, Umbria, Italia

Wafat ± 547
Dihormati di Gereja Katolik Roma, Komuni Anglikan, Gereja Ortodoks Timur, Gereja Lutheran

Dikanonisasikan
1220 Masehi
Tempat ziarah utama Biara Monte Cassino, dan makamnya di
Saint-Benoît-sur-Loire, dekat Orléans,Perancis
Sacro Speco, di Subiaco, Italia

Hari peringatan 11 Juli dan 21 Maret (bagi biarawan-biarawati Benediktin) dalam Ritus Latin dan Gereja Lutheran; 14 Maret dalam Ritus Byzantium (Katolik dan Ortodoks Timur)
Atribut
genta; cawan retak; cawan retak dan ular berbisa melambangkan racun; pinggan retak; semak belukar; tongkat gembala; seorang pria mengenakan seragam Benediktin dan menggenggam peraturan Benediktus atau sebatang tongkat disiplin; burung gagak
pelindung
terhadap racun; terhadap tenung; buruh-tani; peneliti gua; insinyur sipil; pengrajin tembaga; orang-orang sekarat; penyakit kulit; Eropa; petani-peternak; demam; sakit usus-buntu; Kota Heerdt, Jerman; luka bakar; para arsitek Italia; sakit ginjal; biarawan; gatal-gatal pada kulit; Kota Norcia, Italia; anggota-anggota ordo religius; anak sekolah; pelayan yang telah merusak milik majikannya; ahli gua; penjelajah gua; godaan
Portal Santo

Santo Benediktus dari Nursia (lahir di Nursia, Italia ± 480 – wafat ± 547) adalah seorang pendiri komunitas-komunitas monastik Kristen dan penyusun peraturan bagi biarawan yang hidup dalam komunitas. Tujuannya tersurat dalam peraturan yang disusunnya, yakni “semoga Kristus … menuntun kita sekalian ke dalam Kehidupan Kekal” (Peraturan Santo Benediktus 72.12). Gereja Katolik Roma mengkanonisasikannya pada tahun 1220.
Benediktus mendirikan dua belas komunitas biarawan, yang paling terkenal diantaranya adalah biara pertamanya Monte Cassino di pegunungan Italia Selatan. Tidak ada bukti bahwa dia bermaksud pula untuk mendirikan sebuah ordo religius tersendiri. Ordo Santo Benediktus berdiri di zaman modern, lagi pula, ordo tersebut bukanlah sebuah “ordo” sebagaimana lazimnya dipahami orang melainkan hanya merupakan sebuah federasi kongregasi-kongregasi tempat biara-biara Benediktin yang secara tradisional mandiri itu berafiliasi dengan maksud menyuarakan kepentingan-kepentingan bersama, namun tanpa meniadakan otonomi masing-masing biara.[1]
Pencapaian utama Benediktus adalah sebuah “Peraturan” berisi petunjuk-petunjuk bagi para biarawan yang dipimpinnya, yang disebut pula Peraturan Santo Benediktus. Peraturan ini sangat dipengaruhi tulisan-tulisan Santo Yohanes Cassian (± 360 – 433, salah seorang Bapa Padang Pasir) dan memperlihatkan kesesuaian dengan Peraturan Sang Guru. Namun peraturan ini juga memiliki suatu semangat unik dari keseimbangan, moderasi, akal sehat (επιεικεια, epieikeia), dan hal ini memikat banyak komunitas yang didirikan sepanjang abad pertengahan, termasuk komunitas-komunitas biarawati, untuk mengalihgunakannya. Hasilnya, Peraturan Santo Benediktus menjadi salah satu tata-tertib rohani yang paling berpengaruh dalam dunia Kristiani Barat. Karena alasan inilah maka benediktus kerap disebut “pendiri Monastisisme Kristiani Barat”.
Daftar isi
[sembunyikan]
1 Biografi
2 Peraturan St. Benediktus
3 Catatan kaki
4 Galeri gambar yang berhubungan dengan St. Benediktus

[sunting] Biografi
Satu-satunya catatan kuna mengenao Benediktus terdapat dalam jilid kedua dari keempat kitab Dialog karya Santo Gregorius, yang ditulis pada tahun 593. Kitab kedua terdiri atas sebuah prolog dan tiga puluh delapan bab pendek. Sejarahwan Romawi abad ke-19 Thomas Hodgkin memuji riwayat St. Benediktus karya Gregorius sebagai “biografi rahib terbesar, yang ditulis oleh Paus terbesar, yang juga seorang rahib.”[2]
Meskipun demikian, riwayat Benediktus karya Gregorius ini bukanlah sebuah biografi dalam arti modern. Tulisan tersebut justru berisi sebuah potret rohani dari abbas yang lembut namun berdisiplin itu. Dalam sepucuk suratnya kepada Uskup Maximilianus dari Sirakusa, Gregorius menyatakan maksudnya sehubungan dengan tulisannya dalam Dialog itu, katanya tulisannya itu merupakan sejenis floretum (suatu antologi, secara harafiah, ‘bunga rampai’) dari mukjizat-mukjizat paling mengesankan dari si orang kudus Italia itu.[3]
Ia berasal dari keluarga Italia yang kaya. Hidupnya penuh dengan petualangan dan perbuatan-perbuatan hebat. Semasa kanak-kanak, ia dikirim ke Roma untuk belajar di sekolah rakyat. Tumbuh dewasa sebagai seorang pemuda, Benediktus merasa muak dengan gaya hidup korupsi para kafir di Roma. Benediktus meninggalkan kota Roma dan mencari suatu tempat terasing di mana ia dapat menyendiri bersama Tuhan. Ia menemukan tempat yang tepat, yaitu sebuah gua di gunung Subiako. Benediktus mengasingkan diri selama tiga tahun lamanya. Setan sering kali membujuknya untuk kembali ke rumahnya yang mewah dan kehidupannya yang nyaman di sana. Tetapi, Benediktus berhasil mengatasi godaan-godaan tersebut dengan doa dan mati raga. Suatu hari, iblis terus-menerus menggodanya dengan bayangan seorang wanita cantik yang pernah dijumpainya di Roma. Iblis berusaha membujuknya untuk kembali ke kota mencari wanita itu. Hampir saja Benediktus jatuh dalam pencobaan. Kemudian ia merasa sangat menyesal hingga menghempaskan dirinya dalam semak-semak dengan duri-duri yang panjang serta tajam. Ia berguling-guling di atas semak duri hingga seluruh tubuhnya penuh dengan goresan-goresan luka. Sejak saat itu, hidupnya mulai tenang. Ia tidak pernah merasakan godaan yang dahsyat seperti itu lagi.
Setelah tiga tahun, orang-orang mulai datang kepada Benediktus. Mereka ingin belajar bagaimana menjadi kudus. Ia menjadi pemimpin dari sejumlah pria yang mohon bantuannya. Tetapi, ketika Benediktus meminta mereka untuk melakukan mati raga, mereka menjadi marah. Bahkan para pria itu berusaha meracuninya. Benediktus membuat Tanda Salib di atas anggur beracun itu dan gelas anggur tiba-tiba pecah berkeping-keping.
Di kemudian hari, Benediktus menjadi pemimpin dari banyak rahib yang baik. Ia mendirikan dua belas biara. Kemudian ia pergi ke Monte Kasino di mana ia mendirikan biaranya yang paling terkenal. Di sanalah St. Benediktus menuliskan peraturan-peraturan Ordo Benediktin yang mengagumkan. Ia mengajar para rahibnya untuk berdoa dan bekerja dengan tekun. Terutama sekali, ia mengajarkan mereka untuk senantiasa rendah hati. Benediktus dan para rahibnya banyak menolong masyarakat sekitar pada masa itu. Mereka mengajari orang banyak itu membaca dan menulis, bercocok tanam dan aneka macam ketrampilan dalam berbagai lapangan pekerjaan.
St. Benediktus mampu melakukan hal-hal baik karena ia senantiasa berdoa. Ia wafat pada tanggal 21 Maret tahun 547. Pada tahun 1966, Paus Paulus VI menyatakan St. Benediktus sebagai santo pelindung Eropa. Pada tahun 1980, Paus Yohanes Paulus II menambahkan St. Sirilus dan St. Metodius sebagai santo pelindung Eropa bersama dengan St. Benediktus.
“Tempatkan Kristus di atas segala-galanya.” ~ Peraturan St. Benediktus

>small 2small 0<, Kardinal Ratzinger memilih nama Benediktus XVI juga didasarkan pada pertimbangan tradisi spiritual. Santo Benediktus (480-543) adalah Pelindung Eropa, demikian deklarasi Paus Paulus VI pada 24 Oktober 1964. Rahib yang mengepalai banyak biara ini dinilai telah membuat masyarakat Eropa memiliki karakter keagamaan dan kebudayaan yang tinggi melalui praktik asketisme-praktik kesederhanaan, kejujuran, dan kerelaan berkorban-doa, belajar, serta kerja keras. Untuk mewujudkan praktik hidup tersebut, Benediktus kemudian mengajarkan betapa pentingnya ketaatan, konsistensi pendirian, serta ketekunan. "Karakter Eropa yang ada saat ini adalah hasil dari ajaran Benediktus," ujar Paus Paulus VI.

Santo Benediktus dari Nursia (480-550 M) mendirikan ordonya di Monte Cassino, Italia, dengan dekrit ketat yang meminimkan kebebasan dalam pendidikannya. Pendidikan yang dilakukan mewajibkan setiap biarawan membaca kitab-kitab suci sekurang-kurangnya dua jam perhari, dan tidak memperkenankan membaca buku-buku lain, tidak membolehkan para biarawan itu memiliki pena untuk menulis sendiri.[6] Setelah masa itu dilanjutkan dengan monopoli Gereja atas pendidikan formal di seluruh Eropa yang berlangsung seribu tahun, kebebasan di dalam pendidikan diminimkan lagi sebagai pelaksanaan pendidikan atas doktrin Gereja (kaum Skolastik). Kebebasan berpikir ditekan, kebebasan berbeda pendapat diberangus yang sampai memakan korban seperti Galileo yang harus kehilangan nyawanya akibat berbeda pendapat dengan pihak gereja akan pengetahuan ilmu alam. Berbagai perguruan pendidikan yang bertebaran sampai abad ke 16 masih dilandasi niat untuk memasok calon-calon pendeta dan mendidik kaum ningrat yang kawasan rohaniahnya dikendalikan oleh pejabat gereja.
[sunting] Peraturan St. Benediktus
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Peraturan Santo Benediktus
“Seekor anak domba dapat mandi tanpa tenggelam, dan seekor gajah dapat berenang di dalamnya”; pepatah kuno ini adalah kiasan bagi sebuah karya tulis sepanjang hanya 73 bab pendek. Ada dua macam kearifan yang terkandung dalam peraturan ini: spiritual (bagaimana menjalani hidup yang Kristosentris di bumi) dan administratif (bagaimana mengelola sebuah biara secara efisien). Lebih dari setengah bab di dalamnya memaparkan cara-cara untuk menjadi taat dan rendah hati, serta apa yang harus dilakukan bilamana salah seorang anggota komunitas tidak taat dan rendah hati. Sekitar seperempat bagiannya mengatur peribadatan (Opus Dei). Sepersepuluh bagiannya menjelaskan bagaimana, dan oleh siapa biara harus dikelola. Sisanya secara khusus membahas kewajiban-kewajiban pastoral dari abbas.[4]
St. Antonius dari Padua
Santo Antonius dari Padua adalah seorang bangsawan Portugis, tapi pada umur 16 ia bergabung dengan kanon dari St. Augustine.Ia menjadi yatim piatu umur 11 tahun, lalu dididik oleh pamannya yang sangat memanjakannya. setelah menjadi pemuda yang apandai, arif dan bijaksana, Fernandez mempunyai cita-cita yang lain sama sekali. Ia ingin masuk biara di Lissbon. Meskipun mendapat tantangan yang hebat dari pamannya, ia pantang menyerah, hingga akhirnya ia diijinkan.
Suatu hari ia mendengar kabar, bahwa lima orang sahabatnya dibunuh oleh orang-orang Islam di Afrika. Tiba-tiba ia bangkit. Buku yang tengah dipelajarinya ditutupnya seraya berkata kepada diri sendiri. "Teman-temanku telah mati demi Tuhan. Apakah aku akan duduk-duduk terus mempelajari buku?" Jiwanya bergolak. Panggilan Tuhan bergema di hatinya.
Ia kemudian bergabung dengan Ordo Fransiskan dan dipilih oleh St. Francis dari Asisi sendiri untuk mengajar teologi kepada calon-calon imam di Padua dan Bologna. Bertahun-tahun ia menjelajahi Italia Utara untuk berkhotbah dang mengajar. Siang malam ia meniupkan Kabar Gembira baik di gereja maupun di pasar, di ladang ataupun di persimpangan jalan.Ia adalah penkhotbah yang besar, sering membuat Gereja sering penuh bila orang mendengar bahwa Antonius singgah di kota mereka Mereka terkesima dang mengagumi wejangan, nasehat dan hiburan yang diberikannya. Oleh sebab itu banyak orang sesat yang bertobat. Konon bahkan ikan-ikan di danaupun bersembulan mengelompok mendengarkan dengan khidmat khotbah Antonius.. Sering ia digambarkan sedang memegang bayi Yesus di tangannya, Bayi yang dikatakan muncul ketika Antonius berdoa dan dikisahkan ia sering bercakap-cakap denganNya di kamar..
Ia begitu tekun akan tugasnya, sampai sering lupa makan dan kurang tidur, itu sebabnya ia meninggal umur 36 di usia muda, jenasahnya disemayamkan di gereja S.P Maria di Padua dan dikanonisasikan pada tahun itu juga. St. Antonius adalah patron santo untuk barang-barang yang hilang dan sangat dicintai di seluruh dunia. Ia memperoleh gelar "Wonderworker" karena keajaiban-keajaiban yang diasosiasikan dengannya. Jika doa anda membutuhkan "keajaiban", ini adalah santo yang perlu 'dipanggil'!. Ia sering diminta bantuannya untuk menemukan kembali barang-barang yang hilang Pesta perayaaannya tanggal 13 Juni..
St. Blasius dari Sebaste
(juga dikenal sebagai Blase, Blasien, Biagio)
Meninggal tahun 316, pesta Santo Blasius, sejak abad 16, pelindung orang sakit tenggorokan diberkati sampai hari ini dengan menggunakan alat sakramen terdiri daridua salib atau lilin yang bersilang. Alasan kenapa St. Blasius sebagai penyembuh orang sakit tenggorokan adalah karena ia dilaporkan menyembukan seorang anak laki-laki yang hampir mati karena menelan tulang ikan. (dalam beberapa versi, membangkitkan anak yang sudah mati). Lilin digunakan dalam berkat diturunkan dari lilin-lilin yang dibawa oleh Bunda Maria ke Blasius di penjara.
Menurut legenda, ia lahir dari keluarga kaya dan terhormat, menerima pendidikan Kristen dan diangkat menjadi uskup ketika masih cukup muda. Blasius adalah seorang dokter di Sebaste, Cappadocia (sekarang Armenia). Sebagai seorang doktor Blasius pergi ke tiap rumah di sepanjang waktu, siang dan malam, dikenal oleh orang kaya dan orang miskin, menghibur, menyembuhkan dan menasehati mereka semua. Sebagai uskup, ia melakukan hal yang sama.
Ketika gubernur Cappadocia dan Armenia kecil, Agricolaus mulai mengejar umat Kristen, Uskup Blaise dari Sebastia bersembunyi di gua dimana binatang buas melindunginya karena ia merawat mereka ketika mereka terluka. Tempat persembunyiannya ditemukan oleh pemburu yang mengamati ia mengobati orang sakit dan binatang yang terluka. Ketika ia dibawa ke Gubernur Agricolaus, seorang wanita miskin minta tolong karena seekor serigala telah mengambil babinya dan Blasius meminta serigala itu untuk melepaskan babi tanpa melukainya. Gubernur memutuskan untuk membuat Blasius mati kelaparan, tetapi wanita itu secara diam-diam membawa makanan untuknya dan lilin-lilin untuk menghapus kegelapan di penjaranya. Ketika ditemukan bahwa Blasius masih hidup, gubernur meminta perajurit merajam kulitnya dengan sisir untuk wool dan kemudian Blasius di penggal.
Ini adalah satu-satunya versi tentang Blasius, dalam cerita lain ia berulang-ulang disiksa, tetapi menolak untuk menyerah. Ia dilemparkan ke danau, tetapi airnya tetap membeku seprti es, tidak bersedia menjadi alat untuk kematian orang suci ini. Karenanya, ia akhirnya dibunuh dengan pedang. Canterbury menyimpan tubuhnya, dan paling sedikit ada empat keajaiban terjadi di kuilnya
Sebagai satu dari Empatbelas Penolong Suci, Santo Blasius sangat dikenal di seluruh Eropa Tengah. Dalam karya seni, ia adalah seorang uskup dengan sisir logan dan lilin yang tinggi. Kadang-kadang ditunjukkan dengan:
• Dengan tongkat uskup dan dua lilin (tanpa sisir)
• Menjadi martir dengan dicabik-cabik dengan sisir besi
• Di gua dengan binatang buas
• Ditemukan oleh pemburu, seekor rusa di dekatnya
• Memberkati burung-burung di depan gua
• Menyelamatkan seekor babi milik wanita miskin dari serigala
• Menyelamatkan hidup seorang anak laki-laki yang menelan tulang ikan
• Dengan kota Dubrovnik di tangannya atau dibawa ke seluruh kota oleh malaikat (Roeder)
ps: Biasanya dalam upacara berkat dari St. Blasius, imam meletakkan salib lilin di leher kita sambil mengucapkan "Semoga berkat Santo Blasius melindungi anda dari segala penyakit badan dan gangguan jiwa. Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus"
Pesta perayaannya tiap tanggal 3 Februari.
St Cecilia
Perawan dan Martir, pelindung Pemusik
Sejarah menunjukkan bahwa St. Cecilia adalah orang suci pertama yang diketahui memiliki fenomena 'tubuh yang tidak rusak' (incorruptible). tahun kelahirannya tidak diketahui tetapi ia diperkirakan meninggal pada tahun 177. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang kaya. Semenjak kecil Cecilia berikrar untuk hidup suci murni dan tidak menikah.
Namun pada saat dewasa orang tuanya menikahkan dia dengan Valerianus, seorang pemuda berhati mulia namun masih kafir. Pada malam pernikahannya Cecilia berhasil membujuk suaminya untuk tidak menyentuhnya sebagaimana suami-istri dan tetap menghormati keperawanan istrinya. Valerianus kemudian bersedia dibaptis oleh Paus Urbanus setelah ia memperoleh karunia penampakan ajaib dan pengertian iman. Dan ketika ia kembali ia melihat istrinya sedang berdoa didampingi oleh malaikat pelindung. Ini membuatnya terharu dan semakin memperkuat rasa hormatnya atas keputusan istrinya untuk tetap perawan. Valerianus dan Tiburtus (adiknya yang juga dipertobatkan oleh Cecilia) ditangkap oleh para pengejar umat Kristen awal dan dipaksa untuk menolak imannya. Keduanya menolak dengan berani sehingga dihukum pancung. Cecilia sendiri ditangkap karena menguburkan kedua 'penjahat' ini, ia juag diminta untuk memilih antara menyembah dewa-dewa kafir atau dibunuh. Secara teguh Cecilia menolak dan memilih mati dari pada menyangkal iman.
Karena Cecilia cukup dihormati dan masih muda, maka para penangkapnya bermaksud membunuhnya secara diam-diam di tempat tersembunyi untuk menghindari kemarahan rakyat. Cecilia dimasukkan ke dalam tempat mandi uap di rumahnya selama seharian dengan maksud agar mati lemas, tetapi ternyata Cecilia masih tetap segar. Akhirnya diputuskan untuk memenggal kepalanya, namun karena pemenggalnya tidak tega dan ragu-ragu, ia gagal memisahkan kepala Cecilia dari tubuhnya. Cecilia ditinggalkan dalam keadaan terluka parah meskipun tetap sadar, ia terbaring dalam keadaan kepalanya menghadap ke bawah sambil terus menerus berdoa selama tiga hari tiga malam. Dalam posisi inilah martir suci ini menghadap Allah Tritunggal di Surga.
Para umat Gereja Perdana memakaikan pakaian sutra pada tubuh sang martir dan menempatkannya dalam peti dengan posisi yang sama seperti saat meninggalnya. Tubuhnya kemudian diletakkan dalam katakombe St. Kalistus oleh Paus Urbanus.
Pada tahun 822, selama masa restorasi gereja yang dibangun untuk mengenangnya, Paus Paskal I berkeinginan memindahkan tubuhnya ke katedral, tetapi ia tidak dapat menemukan letak makamnya. Ketika Paus sedang berdoa, St. Cecilia menampakkan dirinya dan menunjukkan tempat dimana tubuhnya dibaringkan. Paus ternyata menemukan tubuh St. Cecilia dalam keadaan masih utuh di tempat yang ditunjukkan oleh St. Cecilia. Oleh Paus tubuh St. Cecilia bersama-sama dengan tulang-tulang Valerianus, Tiburius dan martir Maximus diletakkan di bawah altar gereja.
Tujuh ratus tahun kemudian, dokumen yang menyangkut keadaan tubuh St. Cecilia diterbitkan oleh Kardinal Sfondrato sewaktu ia merestorasi beberapa bagian basilika. Dalam catatan itu dikatakan bahwa tubuh St. Cecilia berada dalam keadaan baik dengan posisi seperti keadaan yang sama dengan saat St. Cecilia meninggal. Atas perintah Paus Klemens VIII tubuh St. Cecilia hendak dipertunjukkan kepada umum sampai dengan tanggal 22 November, saat pesta sang santa. Tubuhnya ditempatkan pada sebuah peti berjeruji, dan kemudian diletakkan di bagian atas basilika sehingga dapat dilihat oleh umat. Secara misterius beberapa kali tubuh St. Cecila mengeluarkan keharuman wangi bunga. Setelah itu tubuh St. Cecilia kembali diletakkan di bawah altar.
Seorang pematung, Stefano Moderno, dengan bakat yang luar biasa membuat patung St. Cecilia dalam posisi yang sama dengan saat meninggalnya. Patung ini diletakkan di atas altar pada Basilika St. Cecilia di Roma. Pesta perayaannya tiap tanggal 22 November.
St. Dominikus
Pendiri Ordo Biarawan Pengkhotbah

Dominic de Guzman dilahirkan di sebuah Puri Tua sekitar tahun 1170. Ayahnya adalah Ayahnya adalah penjaga puri di perbatasan Kristen Spanyol. Dua kakak laki-laki Dominikus mempelajari keagamaan ketika Dominikus lahir. Mengambil studinya di Universitas Palencia, ia berhasil dan segera bergabung dengan cabang Kanon Augustinian di Osma. Ia berhasil menjadi pemimpin di Kanon pada usia yang masih muda.
Pada tahun 1203 kedamaiannya terusik oleh uskup, yang mengirimnya dalam misi diplomatik ke 'Marches' – mungkin Denmark sekarang. Ketika mereka berkeliling ke seluruh Perancis, ia bertemu dengan orang-orang murtad yang menjadi musuh utamanya dalam hidup: ajaran Albigensians. Ajaran itu mengakibatkan dan menggerogoti seluruh propinsi-propinsi di Perancis Selatan. Yakin bahwa seseorang harus menyampaikan kebenaran kepada orang-orang yang tersesat ini, ia berdiskusi dengan Uskup Diego tentang rencananya.
Dominikus mulai karyanya dengan hasil yang mengagumkan, walaupun ada beberapa kemunduran juga. Uskup Diego meninggal, Cistercian, yang menjadi penjamin karya mereka, mengundurkan diri karena takut, dan Dominikus ditinggalkan dengan sejumlah pengikutnya. Dominikus memutuskan untuk mengorganisir pengikutnya menjadi kelompok resmi dengan ijin Paus yang dikhususkan untuk khotbah; ia melakukan beberapa perjalanan ke Eropa untuk memperoleh ijin, yang akhirnya diterimanya tahun 1216.
St. Dominikus mendirikan Ordo ini dengan beberapa pembaharuan yang mengagumkan. Dominikus mengusulkan bentuk demokrasi dari pemerintahan, pada saat dimana bentuk pemerintahan yang ada hanyalah monarki, dimana saudara-saudara tak bisa memilih pemimpinnya, yang akan memimpin untuk selang waktu terbatas. Dominikus menyatakan bahwa aturan dari Ordonya tidak terikat di bawah penderitaan dosa, hanya dibawah hukuman yang ditetapkan karena pelanggaran. Ia adalah yang pertama menngusulkan suatu Ordo yang mengkhususkan diri untuk berkhotbah, pada waktu dimana tak seorangpun kecuali uskup berkhotbah tiap hari.
Pandangan Dominikus menarik banyak orang suci dan orang-orang berbakat. Pada awal seratus tahun dari Ordonya ada 30.000 anggota dari seluruh negeri Eropa yang bergabung; dan segera Ordo ini menyebar ke seluruh dunia.
St. Dominikus meninggal di Bologna tanggal 6 Agustus 1221. Pada saat sebelum kematiannya, ia mengucapkan kepada saudara-saudaranya keinginan terakhir dan testamennya: "Beramallah, jagalah kerendahan hati, berpuasalah untuk kemakmuran." Ia berjanji kepada mereka bahwa ia akan lebih berguna bagi mereka di surga daripada di neraka- janji yang tetap diteruskan bahkan sampai sekarang. Ia dikubur sesuai dengan keinginannya "dibawah kaki patungnya". St. Dominikus dikanonisasi tahun 1234 oleh Paus Gregorius IX.
Pengikut Dominikan di seluruh dunia melanjutkan kharisma St. Dominikus untuk melanjutkan sebagai pembawa Kabar Gembira. Dominikan membentuk seluruh hidup mereka menurut empat pilar yang ditetapkan oleh St. Dominikus : Doa, Studi, Pengajaran dan Komunitas. Tradisi kita tentang spiritualitas berakar dari kehidupan biasa. Doa Liturgi dan meditasi, Studi, dan pengutusan ke seluruh Dunia; suatu spiritualitas yang berarti untuk memikul buah dari kerasulan yang aktif. Lambangnya adalah bintang dan anjing dengan obor di mulutnya.

St. Elisabet

Tak banyak informasi diketahui tentang Elisabet, tetapi ia secara khusus dikenal sebagai orang yang pertama mengetahui tentang berkah terbesar bagi Maria sebagai Bunda Tuhan.
Zakarias adalah seorang imam di Yerusalem dimana istrinya, Elisabet, sepupu Maria sedang mengandung. Ia di beritahu oleh malaikat dalam suatu penglihatan bahwa mereka akan mempunyai seorang putra dan harus diberi nama Yohanes. Ketika ia meragukan hal ini, ia menjadi seperti orang bodoh. Elisabet di kunjungi oleh Maria, pada saat itu Maria mengucapkan hymne pujian yang sekarang dikenal di Magnificat, dan setelah kelahiran Yohanes, Zakarias bisa ber kata-kata lagi. Ini adalah hal yang diketahui tentang Elisabet dan Zakarias, dan ditemukan di Perjanjian Baru di Injil Lukas bab 1. Cerita yang tak dapat dibuktikan kebenarannya, bahwa Zakarias terbunuh di bait Allah ketika ia menolak memberitahu Herodes dimana anaknya Yohanes bisa ditemukan. Perayaan bagi mereka diadakan tanggal 5 November.
St. Fransiskus Assisi
Fransiskus lahir di Assisi di Umbria tahun 1181 atau 1182.Pada masa mudanya Fransesco Bernardone telah mereguk kenikmatan dan kesenangan dunia. Ayahnya, Piero Bernardone, seorang pedagang kain yang kaya di Assisi (Italia). Ketika berkecamuk perang saudara tahun 1201, ia ditangkap dan disekap dalam penjara selama satu tahun sampai jatuh sakit. Pengalaman pahit ini mengubah lembaran hidupnya. Suatu hari tahun 1206 ia masuk gereja San Damiano. Ketika sedang berlutut, seakan-akan ia mendengar suara: "Fransiskus, perbaikilah rumahKu!"- 'Tentu suara Tuhan Yesus', pikir pemuda berusia 26 tahun itu. Tanpa pikir panjang ia mengambil setumpuk kain mahal dari gudang ayahnya dan menjualnya. Hasilnya ia pergunakan untuk memperbaiki gereja yang hampir ambruk itu. Ayahnya sangat marah, ia mengusir Fransiskus tanpa memberikan uang sepeserpun. Fransiskus tidak kecil hati, apalagi sedih hati, dengan bangga ia berkata: "Nah, sekarang barulah aku dapat berdoa sungguh-sungguh ' Bapa kami yang ada di surga'." Dan sabda Yesus ' Siapa yang mau mengikuti Aku, ia harus menjual segala harta kekayaannya dan membagikannya kepada orang miskin', terpateri dalam benaknya. Ia mengunjungi sebuah kapel kecil memuji Tuhan dalam kesunyian. Sehari-hari ia mengemis dan sebagian hasilnya sering masih dibagikannya kepada pengemis lain. Siang hari ia keliling dusun mewartakan penebusan Yesus dan menolong mereka yang melarat ataupun ditinggalkan oleh masyarakat yang mendewakan uang. Ia begitu baik, sehingga diceritakan, bahwa hewan buas sekalipun menjadi jinak dihadapannya. Selang beberapa waktu kemudian banyak orang datang kepadanya ingin mengikuti Yesus dengan hidup bebas dari segala ikatan harta dunia ini. Semangat persaudaraan, hidup sederhana, samadi dan berdoa menjiwai kelompok yang cepat tumbuh makin besar itu. Tiga tahun kemudian Paus Innocentius III mengesahkan kelompok Fransiskus yang beranggotakan sebelas orang, sebagai pewarta Injil pengembara dalam kemiskinan dan kerendahan. Itulah awal mula berdirinya Ordo Saudara-saudara Hina Dina. Komunitas mereka berpusat di kapel Porsiuncola, dekat Assisi. Khotbah mereka sangat berkesan, akrena mereka menghayati sendiri apa yang diwartakan. Fransiskus mendaki lembah dan bukit Italia. Ia juga berziarah ke Tanah Suci dan mengunjungi Sultan Mesir untuk mentobatkannya. Pengikutnya kian hari kian bertambah banyak. Untuk kaum Hawa Fransiskus bersama S Klara mendirikan biara khusus dengan hidup miskin, yaitu ordo Suster Klaris. Pada umur 43 tahun, ketika tengah berdoa di gunung La Verna, sekonyong-konyong terasa dan nampak luka-luka sama seperti yang dialami Yesus di kayu salib (stigmata). Luka-luka ini tidak pernah hilang, sehingga menjadi sumber rasa sakit dan kelemahan tubuhnya. Menjelang tahun-tahun terakhir hidupnya, ia mengundurkan diri, sebab diantara saudara-saudara se ordo terjadi selisih paham mengenai penghayatan hidup miskin seperti yang dicintai Fransiskus. Ia hidup amat sederhana, menderita lapar dan sakit. Namun Fransiskus tetap mendendangkan madah pujian ciptaan ilahi: 'Kidung Matahari'. Dikala Gereja menjadi lemah dan sakit karena harta kekayaan dan kekuasaan, Fransiskus menemukan kembali cita-cita Injili yang asli, kerendahan,kemiskinan dan Cinta. Ia meninggal di Porziuncula 3 Oktober 1226, Pestanya diadakan tiap tanggal 4 Oktober.
St. Fransiskus Xaverius
Pelindung Gereja di tanah misi.
Fransiskus Xaverius lahir di Navarra (Spanyol) tahun 1506, ia dikaruniai otak yang cerdas, sehingga dapat belajar dengan mudah. Ia masuk Universitas Paris dalam usia 28 tahun berhasil menjadi mahaguru. Orangtuanya seorang bangsawan kaya. Lingkungan pergaulannya adalah kaum terpelajar dan terkemuka Paris. Oleh sebab itu karier Fransiskus gemilang. Tapi 'Apa gunanya manusia mendapatkan seluruh dunia, jika kehilangan jiwanya?' Inilah pertanyaan yang diulang-ulang oleh mahasiswa sebangsanya Ignatius Loyola. Pertanyaan ini mengusik hati Fransiskus dan membuka babak baru dalam lembaran hidupnya, sehingga pada suatu saat ia menyerah dan menjadi satu dari ketujuh anggota Serikat Jesuit pertama. Pada 15 Agustus 1534 mereka berjanji dihadapan Tuhan di gereja Montmatre untuk mengabdikan hidup mereka demi pentobatan orang tak beriman dan penyelamatan jiwa yang kemudian menandai berdirinya 'Serikat Yesuit' (diresmikan oleh Paus Paulus III pada tahun 1540). Tahun 1541 Fransiskus bersama dua rekan Portugis diutus ke Goa, India. Di tempat baru ini ia segera memulai karya misi dan bergerak menyusuri India Selatan dan Sri Langka. Puluhan ribu orang bertobat menjadi orang Kristen yang baik. Buah karyanya mengagumkan. Penderitaan orang pribumi yang ditimbulkan oleh tingkah laku penguasa sebangsa maupun penjajah 'selalu menggores pedih di hatiku', kata Fransiskus pada suatu saat.
September 1545 di akhir bulan penduduk Malaka berbondong-bondong ke pantai menyambut 'Padre yang suci' dengan meriah dan gembira. Perbuatan-perbuatan baik dan ajaib yang dilakukannya di India sudah tersebar di Malak. Fransiskus, nama padre termashur itu, sebenarnya singgah di Malaka hanya dengan maksud mencari kapal yang dapat membawanya ke Makasar. Sebab di India ia mendengar (1545) dari tiga pemuda Makasar, bahwa daerah ini dapat ditobatkan. Rakyat akan memeluk agama Katolik asal seorang imam diutus ke sana.
Selama tiga bulan di Malaka, Fransiskus memanfaatkan waktunya untuk menyegarkan akhlak dan kehidupan perkawinan penduduk Malaka yang sangat merosot karena kekayaan yang berlimpah-ruah. Fransiskus menjadi sahabat kaum Portugis maupun rakyat Melayu. Mereka menghormatinya sebagai orang saleh. Ia berkhotbah dan rajin mengajar orang-orang yang sudah lama tidak mendapatkan pemeliharaan jiwa yang baik. Guna menunjang karya misinya, ia belajar bahasa Melayu dan menterjemahkan doa-doa penting dengan menambah sedikit keterangan.
Hari pertama tahun 1546 Fransiskus berlayar dengan kapal dagang ke pulau Ambon. Ia mencatat: "Para pelaut meminta seluruh waktuku dari pagi sampai malam; terus menerus mendengarkan pengakuan dosa, mengunjungi orang sakit, memberikan sakramen-sakramen dan penghiburan rohani kepada mereka yang akan meninggal, dan sering pula berkhotbah. Selama masa puasa saya kerjakan itu… Pulau Ambon banyak penduduknya, diantaranya tujuh desa yang beragama Kristen. Begitu tiba saya mengunjungi desa-desa itu dan memberikan Sakramen Permandian kepada anak-anak yang belum menerimanya. Kira-kira 390 mil dari situ terdapat suatu negeri, Pantai Moro namanya. Konon, di sana banyak orang Kristen yang sama sekali belum mendapatkan pelajaran agama. Saya akan pergi ke sana secepatnya. Saya menulis laporan ini supaya kamu tahu, betapa kamu dibutuhkan di sini. Memang saya sadar bahwa kamu diperlukan di India juga, tapi pulau-pulau ini sangat membutuhkan pertolongan yang lebih besar lagi…" Fransiskus mempermandikan kira-kira 1000 orang Ambon dan mempersiapkan kedatangan imam-imam baru. Lalu ia menuju Ternate (Juli 1646).
Setiap pagi Fransiskus berkhotbah kepada saudagar-saudagar Portugis, yang seluruh pikirannya dijejali oleh rempah-rempah dan wanita. Malam hari ia mengumpulkan orang-orang berbahasa Melayu, melatih mereka baik-baik untuk mengerti dan menghafalkan doa-doa dan menyanyikan cerita-cerita Kitab Suci. Tentang hasil jerih payahnya ia menulis: "Syukur kepada Allah! Di Ternate ini sudah menjadi kebiasaan, anak lelaki di jalan-jalan dan anak perempuan serta wanita di rumah, para buruh di perkebunan dan nelayan di laut, siang malam menyanyikan lagu suci, bukan lagi nyanyian-nyanyian kotor. Mereka senang menyanyikan Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria, Kesepuluh Perintah Allah, Perbuatan-perbuatan belas kasih, Pengakuan Dosa Umum serta banyak lagu dan doa seperti ini. Mereka itu, baik yang baru bertobat maupun yang masih kafir, menyanyi dalam bahasa mereka sendiri. Syukur kepada Allah bahwa saya dengan cepat disukai, baik oleh orang Portugis di pulau ini maupun oleh orang pribumi yang beragama Kristen dan yang bukan!"
Setelah Fransiskus mengatur kedatangan pengganti-penggantinya, ia kembali ke Malaka lalu menuju Jepangpada tahun 1549 dimana ia diterima dengan baik dan penuh hormat. Belakangan ada usaha perlawanan dari kaum pendeta Budhis yang cemburu namun dapat di atasi. Namun sayang karya misi di Jepang terpaksa harus ditinggalkan karena ia harus kembali ke India untuk menyelesaikan permasalahan administratif.
Kemudian ia mengalihkan perhatiannya ke Tiongkok, sebuah negara besar yang pada waktu itu tertutup bagi orang asing. Ia didaratkan oleh sebuah kapal Portugis di pulau Sancian di depan muara sungai Chu Kian. Di sana ia menunggu jemputan perahu jung yang bersedia menyelundupkannya ke daratan Tiongkok. Tetapi ia jatuh sakit dan dalam waktu dua minggu meninggal di sebuah gubuk ditemani oleh Antonio,seorang Tionghoa muda yang telah menemani dia dari Goa.Menurut penuturan Antonio, dalam kematiannya St. Fransiskus tampak demikian bahagia sehingga banyak yang menyangkanya masih hidup. Ketika jenazah St. Fransiskus dimakamkan selama sepuluh minggu sebelum dapat dibawa oleh kapal, salah seorang menyarankannya untuk membungkus tubuh St. Fransiskus dengan kapur supaya daging-dagingnya cepat terserap dan tinggal tulangnya saja.
Fransiskus dipanggil Tuhan pada usia 46 tahun (1552). Tubuh St. Fransiskus dibawa lengkap dengan petinya yang asli ke Malaka dan diterima oleh Gereja. Pada tanggal 17 Februari 1553, peti jenasah dikeluarkan dan ternyata tubuh St. Fransiskus masih tetap utuh meskipun dilapisi oleh bahan yang destruktif. Makam yang disiapkan oleh Gereja ternyata terlalu pendek dan tidak dapat diperpanjang lagi. Akibatnya tubuh St. Fransiskus terpaksa dimakamkan tanpa peti dalam keadaan kepala tertekuk. Tubuh Santo suci ini terbaring dalam posisi demikian dan dalam keadaan kontak langsung dengan tanah selama hampir 5 bulan lamanya. Akhirnya Juan de Beira, seorang kawan sang Santo, mengunjungi kota tersebut dan mendapatkan tubuh St. Fransiskus masih tetap utuh. Kemudian diputuskan untuk membawa tubuh St. Fransiskus ke Goa, dimana St. Fransiskus Xaverius memiliki karya penginjilan yang luar biasa. Sesampainya di Goa tubuh St. Fransiskus disambut secara luar biasa oleh masyarakat yang berkerumun sampai empat hari lamanya. Sampai sekarang tubuh St. Fransiskus Xaverius disemayamkan di Basilika Bom Yesus – Goa. Ia dikanonisasi pada tahun 1622 oleh Paus Gregorius XV. Pada tahun 1614 atas perintah Claudius Acquaviva, Pemimpin Serikat Yesuit, tangan kanannya dilepas dari sikunya dan dibawa ke Roma, dan di taruh di altar di gereja Gesu. Pesta perayaannya tiap 3 Desember.
St. Ignatius dari Loyola

Ignatius Loyola (Iñigo Lopez Oñazy Loyola) lahir di Azpeitia, Spanyol Utara tahun 1491 dari keluarga aristrokat
Pada masa mudanya, ia tampaknya tidak ditakdirkan untuk menjalani hidup religius. Ia menjalani hidup dengan berjudi, berkelahi dan mengganggu. Ia, sebagai keluarga Loyola dan dipersiapkan untuk menjadi seorang perajurit. Ia bergabung dengan militer dan terluka pada pertempuran Pamplona tahun 1521, terkena meriam di kakinya. Kakinya patah dan komplikasi menyebabkan ia harus di operasi lagi yang berarti menghabiskan beberapa bulan di ranjang.
Selama waktu itu, karena tak ada buku lain yang menarik, terpaksa ia membaca kisah Kehidupan Kristus dan para Santo/Santa yang akhirnya mengubah hidupnya. Ia menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan dengan semangat yang sama seperti yang telah dia lakukan pada gaya hidup sebelumnya.
Kehidupan Ignatius dari saat itu termasuk hal-hal seperti berdoa, puasa, meminta sumbangan, pergi ke sekolah dengan siswa yang kurang dari separuh umurnya, merawat orang sakit, hidup mengasingkan diri, travel ke negara lain, dan masih banyak hal-hal lain yang ia lakukan.
Tahun 1534, Ignatius dan enam orang lainnya (termasuk St. Francis Xavier) membentuk kelompok yang ditujukan untuk melakukan peziarahan ke Tanah Suci untuk mentobatkan mereka , tetapi di tolak karena perang antara Turki dan Itali, akhirnya mereka tidak pergi ke Yerusalem, melainkan ke Roma.
Tahun 1540 Serikat Yesuit , atau juga disebut Kelompok Yesuit secara resmi dikenal oleh gereja dan Ignatius dipilih sebagai pemimpin pertamanya.
Serikat Yesuit secara khusus berpengaruh di Jerman, di kebangkitan paham Katolik di Inggris dan penyebaran iman di Amerika Latin. Pada awalnya, kehidupan imam ordo komunitas ini, diabdikan untuk pendidikan dan pengarahan spiritual, — tetapi tidak umum pada saat ini. Organisasi dan disiplin merupakan hal yang sangat ditekankan pada ordo ini.
Ignatius Loyola meninggal pada tanggal 31 Juli 1556 yang menjadi tanggal pesta perayaannya, dan di kanonisasi tahun 1622.

St. Katarina dari Bologna

Pelindung para Artis
Katarina dilahirkan dari sebuah keluarga bangsawan, John dari Vigri. Ia dikirimkan ayahnya untuk belajar di istana seorang kerabat, Marquis dari Este, yang tinggal di Ferrara. Meskipun ia cerdas dan cantik, kehidupan istana tidak cocok baginya. Ia kehilangan minat atas segala kemegahan istana dan pada usia 17 tahun bergabung dengan ordo ketiga Fransiskan di Ferrara.

Pada masa novisiatnya ia menyusun sebuah tulisan penting 'Tujuh Senjata Rohani', yang menggambarkan kualitas mistik hidup spiritualnya.
Karya-karyanya antara lain buku-buku kotbah, devosi, dan kutipan-kutipan ayat. Katarina juga memiliki bakat seni dan telah menghasilkan beberapa karya seni.

Suster Katarina mendapat karunia beberapa penampakan yang luar biasa. Sesuai penuturannya sendiri, ia mendapat penampakan peristiwa Malam Natal dimana Tuhan Yesus berada di pangkuan Bunda Maria. Selain itu ia juga sering
mendengarkan paduan suara malaikat di saat Misa.

Setelah menjalani kehidupan biara selama 24 tahun di Ferrara, ia dikirimkan kembali ke daerahnya di Bologna bersama 15 orang biarawati untuk mendirikan biara serupa dimana ia menjadi kepala biara tersebut sampai akhir hidupnya.
St. Katarina meninggal pada tanggal 9 Maret, 1463, dan meninggalkan kesedihan mendalam bagi para biarawatinya.

Tubuh St. Katarina dimakamkan tanpa menggunakan peti sebagaimana kebiasaan ordo tersebut. Ketika tubuhnya diturunkan, secara tiba-tiba mengeluarkan keharuman yang menyebar ke seluruh kompleks pemakaman dan daerah-daerah
sekitarnya. Bahkan beberapa hari setelah itu keharuman itu masih terus keluar dari makam santa suci tersebut. Delapan belas hari setelah itu mulai timbul beberapa keajaiban di makam St. Katarina dimana orang-orang yang sakit parah menjadi sembuh.
Para biarawati kemudian merasa bersalah karena telah menguburkan St. Katarina tanpa menggunakan peti, mereka berniat membongkar kembali makamnya.
Ketika dibongkar tampaklah bahwa tubuh St. Katarina tetap segar dan tidak menunjukkan proses kerusakan sama sekali. Malah keharuman yang keluar dari tubuhnya lebih nyata lagi dan memenuhi gereja serta seluruh desa.

Setelah tubuhnya diperiksa secara medis dan oleh pejabat gereja, diputuskan untuk meletakkan tubuh tersebut di dalam peti di bawah altar selama beberapa bulan. Kemudian tubuhnya dipindahkan ke kamar di mana St. Katarina tinggal selama di biara. Setiap kali peziarah ingin melihat tubuh Santa suci ini, tubuhnya dibawa oleh para biarawati melalui lorong sempit dan tangga yang menghubungkan kamar St. Katarina dengan tempat para peziarah dapat melihatnya. Ini sering menimbulkan kesulitan sehingga akhirnya dibuatkan peti khusus dan tubuh St. Katarina diletakkan di atasnya dalam posisi duduk.
Hal ini dilakukan 12 tahun setelah kematian sang Santa.

Pada suatu hari di akhir tahun 1500, St. Katarina menampakkan dirinya kepada seorang biarawati, Leonora Poggi. St. Katarina meminta agar tubuhnya diletakkan dalam suatu kapel khusus yang tempat dan spesifikasinya ditentukan sendiri olehnya. St. Katarina juga minta agar tubuhnya tetap diletakkan dalam posisi duduk. Kapel tersebut lalu segera dibangun sesuai
permintaan sehingga memudahkan para peziarah untuk mengunjunginya. Pada tahun 1688 dibuat sebuah kapel yang lebih besar dan lebih indah dimana dengan suatu pesta meriah relikwi St. Katarina dipindahkan ke kapel tersebut
sampai sekarang.

Selama lebih dari empat setengah abad, tubuh St. Katarina dibiarkan terbuka tanpa pelindung apapun dan tetap utuh. Wajahnya mulai tampak hitam karena asap lilin dan minyak yang dinyalakan di kapel tersebut selama berabad-abad.
Pada tahun 1953, relikwi tersebut di kelilingi oleh tabung kaca dengan maksud menghindarkan kerusakan lebih lanjut. St. Katarina dikanonisasi pada tahun 1712 oleh Paus Klemens XI. Pesta perayaannya tiap tanggal 9 Maret.

St. Martinus dari Tours

Pelindung Perajurit
Dilahirkan sekitar tahun 315 -316 di Pannonia, Hungaria yang merupakan propinsi Roma, Martinus dilahirkan ke dunia yang sedang berubah. Umat Kristen tidak lagi di kejar-kejar oleh kekaisaran Roma, tetapi iman Kristen tetap belum diterima oleh semua orang. Ayah Martinus, seorang perajurit Roma tetap percaya kepada kepercayaan lama dan mencurigai sekte baru ini, begitu juga ibu Martinus. Karenanya, merupakan keinginan dan kehausan spiritual Martinus sendiri yang membawanya untuk secara diam-diam mengetuk pintu gereja Kristen lokal dan minta untuk menjadi katekumen ketika ia berumur sepuluh tahun. Dalam doa kontemplatifnya, ia menemukan waktu bersama-sam Tuhan yang menjaganya. Pada diskusi tentang misteri-misteri Allah, ia menemukan kebenaran yang dicarinya. Ia tetap merupakan katekumen yang belum dibaptis ketika ia dipaksa bergabung ke tentara pada umur 15 tahun. Tentara Roma tampaknya mempunyai hukum yang membutuhkan putra-putra dari veteran untuk mengabdi kepada militer. Betapapun, Martinus menemukan bahwa ini sudah terlalu jauh dari keinginannya untuk menjadi biarawan Kristen karena ia harus diikat di rantai sebelum mengucapkan sumpah militer. Begitu sumpah diucapkan ia merasa terikat untuk mentaati. Ia ditugaskan ke kavaleri seremonial yang melindungi kaisar dan jarang terlibat pertempuran. Seperti ayahnya, ia menjadi pejabat negara dan lambat laun ditugaskan ke garnisun di Gaul (Perancis). Bahkan di militer Martinus mencoba hidup seperti biarawan. Walaupun dia berhak mempunyai pelayan, karena ia seorang pejabat, ia memaksa untuk mengubah aturan dengan pelayannya, membersihkan sepatu si pelayan daripada sebaliknya.
Pada suatu malam di musim dingin, ia sedang dalam perjalanan dinas. Di tengah jalan ia bertemu dengan seorang pengemis yang menggigil kedinginan. "Bagaimana aku dapat membantu orang yang malang ini? pikirnya. Sebab, perwira itu tak membawa uang sepeserpun. Lalu ia melepaskan mantelnya dan dengan pedangnya dibelahnya menjadi dua, separuh diberikan kepada pengemis itu yang dengan gemetar menerimanya.
Malam itu juga Martinus seolah-olah mendengar Kristus berkata kepada para malaikat: "Dia seorang magang, tapi sudah memberikan separuh mantelnya kepadaKu." Sabda ini meneguhkan niat Martinus dan tak lama kemudian iapun dibaptis. Lalu ia minta berhenti dari dinas ketentaraan, "Saya ini tentara Kristus, karenanya saya tak boleh berperang," katanya. Atasannya dan perwira-perwira lain menuduhnya pengecut. Tetapi dengan lantang ia menjawab "Saya bersedia berdiri tanpa senjata di tengah-tengah dua barisan yang sedang bertempur." Tak ada bukti bahwa Martinus pernah terlibat pertempuran sebelumnya, tapi tampaknya itu merupakan waktu yang kurang baik untuk membuat keputusan itu. Yulianus, marah melihat kepengecutannya, memberitahu Martinus bahwa ia akan mengijinkan keinginannya dan membawa ia tepat di tengah pertempuran hari berikutnya. Sebelum itu terjadi, Martin di penjara, Tapi, bertentangan dengan perkiraan, suku nomad mengirim pesan bahwa mereka ingin bernegosiasi untuk perdamaian dan pertempuran dibatalkan. Martinus dilepaskan dari penjara dan dari ketentaraan. Martinus kemudian menjadi murid S. Hilarius di Poitiers (Perancis) dan diutus ke Iliricum (Yugoslavia) untuk memberitakan Injil. Ia berhasil mentobatkan ibunya, tetapi ayahnya tetap menolak. Martin mulai dicap sebagi penghianat Arian yang memegang kekuasaan di seluruh kekaisaran, bahkan di Gereja, Martinus di cambuk dan diusir dari kota kelahirannya sendiri. Karena perlakuan buruk dari kaum Arian, ia mengundurkan diri dan bertapa di sebuah pulau dekat pantai selatan Perancis. Pada usia 45 tahun, ia menggabungkan diri lagi dengan serikat rohaniwan setengah pertapa di Liguge. Inilah biara pertama di Perancis. Lima tahun kemudian umat di Tours memilihnya menjadi uskup.
Martinus sangat giat dalam menyebarkan Kabar Gembira. Khotbahnya ditunjang oleh banyak keajaiban. Dengan jalan kaki, naik keledai atau dengan perahu layar, ia mengunjungi semua desa di keuskupannya. Ia tak gentar menghancurkan tempat-tempat pemujaan berhala, namun tanpa takut-takut menentang hukuman mati yang dijatuhkan kaisar kepada tukang-tukang sihir dan penyebar ajaran sesat. Itulah sebabnya ia tidak disukai oleh orang-orang Kristen yang fanatik. Tetapi Martinus tetap pada pendiriannya: menjunjung tinggi keadilan dan menentang sistem paksaan. Martinus merupakan salah seorang diantara orang-orang suci pertama yang bukan martir. Pestanya diadakan tiap 11 November, ia meninggal di Tours tahun 397.
St. Anne

"Anne" adalah nama yang secara tradisional diasosiasikan dengan ibu bunda Maria. Betapapun, kita hampir tidak tahu apa-apa tentang ia dan suaminya Joachim- bahkan tak jelas bahwa itu adalah betul-betul nama sesungguhnya. Tak ada informasi tentang orang tua Maria di Kitab Suci; semua informasi yang kita dapat tentang mereka datang dari literatur di luar Kitab Suci dan legenda.
Kita mendapat cerita tertua dari dokumen yang disebut Gospel James, walaupun tak bisa dikatakan bahwa dokumen ini bisa dipercaya dan berdasar fakta, sejarah, atau sabda Tuhan.
Dongeng tradisional menceritakan bahwa Anne dan Joachim tak mempunyai anak selama bertahun-tahun. Mereka merupakan orang yang taat dan setelah banyak doa dan penderitaan, seorang malaikat muncul kepada mereka secara terpisah dan menyatakan bahwa mereka akan dikaruniai seorang anak Anne berjanji untuk mendedikasikan anak ini ke Tuhan (sama seperti Samuel di dedikasikan oleh ibunya Hannah — Anne — di 1 Raja-raja).
Dari informasi kecil yang kita tahu tentang dia, mengapa kita harus memilih St. Anne sebagai seorang intercessor? Untuk alasan sederhana bahwa ia adalah ibu dari bunda Maria dan kakek dari Yesus. Nama Anne berarti rahmat dan ia diberkati untuk menerima banyak rahmat dari Tuhan – yang paling utama, rahmat untuk dipilih menjadi nenek Yesus secara darah. Karena kita menganggap Yesus saudara kita, ia adalah nenek kita juga secara otomatis.
Ia juga merupakan ibu dari Bunda Maria dan bertanggung jawab membesarkan dan mendidik Maria sebagai anak-anak dan karenanya, merupakan contoh model orang tua yang baik.
St. Anne adalah patron santa dari ibu-ibu dan wanita dalam pekerjaannya.

St. Patrik

Patrik lahir tahun 389, ia anak seorang diakon dan pegawai Romawi keturunan Skotlandia.Kakeknya adalah seorang pendeta, seharusnya ia penuh dengan cinta Kristen dan berkat yang dapat diterima seorang anak, tetapi tidak dengannya, ia tidak tahu kebenaran Tuhan dan tidak percaya Allah yang hidup, sampai ia ditangkap perampok dan dijual sebagai budak belian di Irlandia pada umur enam belas, di sini baru ia mulai berpikir tentang Tuhan kembali, ia percaya penderitaannya adalah hukuman dari kehidupannya yang kacau. Setelah enam tahun menjadi budak, ia berhasil melarikan diri ke Perancis. Disini Patrik masuk biara, kemudian belajar dan ditahbiskan menjadi Imam. Usulan agar ia menjadi uskup Irlandia ditolak karena dosa-dosanya di masa muda. Setelah kematian Palladius, uskup pertama Irlandia tahun 431 oleh paus Celestine I, tahun 432 ia ditahbiskan sebagai uskup misionaris dan diutus oleh paus ke Irlandia untuk mentobatkan penghuni pulau yang masih kafir itu. Khotbahnya yang penuh wibawa menggentarkan para dukun (druits) dan kepala suku, tetapi justru membuat rakyat bertobat, juga keluarga kerajaan. Patrik mendirikan keuskupan agung Armagh dan membangun banyak biara. Doktrin St. Patrik dianggap ortodox dan diinterpretasikan sebagai anti Pelagian. Walaupun ia tidak secara khusus dianggap sebagai penulis, beberapa dari tulisannya tetap diakui: "Pengakuan" ,yang merupakan autobiografi St Patrik di saat-saat akhir hidupnya berupa jawaban kepada penentangnya dan beberapa surat-surat kepada Coroticus. Lorica adalah hymne terkenal tentang Patrik.
Pada akhir hidupnya ia menarik diri untuk bersemedi. Patrik dipandang sebagai 'Rasul Irlandia'. Ia meninggal tahun 461, pesta perayaannya tiap 17 Maret

St. Rita dari Cascia

The Wonder Worker
St. Rita dilahirkan pada tahun 1381, ia mendapatkan nama baptis Margarita, tetapi namanya kemudian ia lebih populer dengan nama St. Rita – Pembuat keajaiban dari Cascia. Pada usia 12 tahun, gadis yang saleh ini menikah dengan Paolo Ferdinando. Hal ini diluar kehendaknya sendiri, dan dilakukan hanya karena ketaatan pada orang tuanya saja.

Setelah menjalani pernikahan selama 18 tahun suaminya terbunuh dalam pertikaian politik. Kedua anaknya yang telah beranjak dewasa berkeinginan untuk membalas dendam. Rita merasa terpukul melihat kenyataan itu dan mendoakan agar lebih baik anaknyalah yang mati dari pada harus membunuh orang. Doanya dikabulkan Allah dan kedua anaknya meninggal dalam keadaan berdamai dengan gereja serta telah mengampuni para pembunuh ayahnya.

Setelah kejadian yang menyedihkan ini Rita bermaksud untuk memasuki biara Ordo Agustin di Cascia yang sudah didamba-dambakannya sejak masa kecil.
Tetapi permohonan ini ditolak karena peraturan biara yang tidak mengijinkan para janda untuk menjadi anggota. Ia berdoa agar dirinya dapat memasuki biara yang sudah lama diimpikannya, dan lagi-lagi doanya dikabulkan setelah para santo pelindungnya (St. Agustinus, St. Nikolas dari Tolentino, dan St Yohanes Pembabtis) menampakkan diri kepadanya pada suatu malam dan menemaninya pergi ke biara Agustin. St. Maria Magdalena juga menampakkan diri kepadanya lalu membuka gerbang dan menguncinya kembali dengan ajaib sehingga Rita dapat masuk ke kapel. Para suster biara begitu terkejut ketika
menemukan Rita di kapel tersebut pada pagi hari. Akhirnya Rita diperkenankan masuk menjadi anggota biara.

Tergugah oleh isi kotbah St. Yakobus dari Marches, ia memohon pada Tuhan untuk ikut serta dalam kesengsaraan Kristus dan ia mendapat luka agung di kepala yang bernanah dan mengeluarkan bau yang menyengat sehingga selama 15 tahun ia terpaksa menyingkir ke tempat yang terpisah di biara tersebut. Ia mendapat karunia merasakan penderitaan Kristus yang terhina dan disisihkan manusia.

Tiga hari sebelum meninggal pada tahun 1457, Rita mendapat penampakan Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Pada saat suster Rita memasuki surga, kamar tempatnya berbaring dipenuhi oleh harum wewangian yang luar biasa, luka di kepalanya mengeluarkan sinar yang menakjubkan, dan lonceng-lonceng gereja di kota secara ajaib dibunyikan oleh para malaikat.

Suster Rita dibeatifikasi pada tahun 1627 oleh Paus Urbanus VIII. Tubuhnya diperiksa dan ternyata berada dalam keadaan sempurna tanpa mengalami kerusakan sama seperti saat meninggalnya. Pada saat upacara beatifikasi dilaporkan bahwa mata santa suci itu membuka sendiri selama beberapa waktu dengan disaksikan oleh kerumunan orang.

Pada saat kanonisasinya pada tahun 1900, devosi kepada 'Santa ajaib dan perantara berbagai kasus mustahil' telah tersebar ke seluruh Eropa dan lintas benua. Pada tahun 1946 sebuah gereja di Cascia didirikan sebagai penghormatan terhadap St. Rita.

Tubuh St. Rita sampai saat ini tetap berada dalam keadaan utuh dan sempurna, meskipun pada tahun 1650 salah satu alisnya dan pipi kanannya sedikit berubah. Kondisi ini sudah diperbaiki sebagaimana dilaporkan pada pemeriksaan medis tahun 1743 dan 1892. Pesta perayaannya:22 Mei

Santa Sperandia

Sperandia lahir tahun 1216, kedua orang tua Sperandia menanamkan hidup doa dan religius yang sangat dalam di hatinya sejak kecil melalui teladan hidup mereka. Di kemudian hari ia memiliki keinginan melakukan silih dan hidup asketik yang ekstrim. Karena merasa kenikmatan hidup di rumahnya merupakan halangan maka ia pergi meninggalkan itu semua dan tinggal di sebuah gua.
Pada suatu saat ia terdorong untuk melakukan ziarah ke Tanah Suci. Akhirnya selama sepuluh tahun ia menghabiskan waktu dengan berziarah ke berbagai tempat suci di seluruh Italia dan di Roma. Selama perjalanannya ia mengajarkan pad orang-orang di desa yang dilewatinya untuk melakukan praktek silih. Setelah menyelesaikan perjalanannya, ia mendaftarkan diri untuk masuk ke biara Benediktin di Cingoli. Abas (pemimpin biara) setempat langsung mengenali kesucian Sperandia dan menerimanya sebagai anggota.

Di dalam biara tersebut Sperandia menunjukkan kesungguhan yang luar biasa dalam pelayanan-pelayanan kasih, hidup silih, dan praktek hidup asketik. Akhirnya ia terpilih sebagai pemimpin biara dan menjalaninya dengan baik selama bertahun-tahun. Pada tahun 1276, dengan diiringi doa seluruh komunitas biara, akhirnya ia meninggalkan dunia dengan cara yang sangat luar biasa, yaitu timbulnya keharuman wewangian yang memenuhi seluruh biara. Beberapa saat setelah meninggalnya, masyarakat sekitar yang merasakan bantuan doa dan silihnya, menerima St. Sperandia sebagai santa pelindung kota mereka.

Tubuh Santa Suci ini pertama kali diperiksa sekitar dua tahun setelah meninggalnya. Pada saat itu tubuh tersebut tampak masih sempurna, segar, dan cantik. Tubuh tersebut lalu dimasukkan ke dalam peti yang baru dan disemayamkan di bawah altar utama gereja biara. Pada tahun 1482 ketika diperiksa dengan disaksikan oleh uskup, tubuhnya masih tampak sempurna. Pada tahun 1525, tubuhnya dipindahkan ke kapel khusus yang dimaksudkan untuk menghormatinya.
Tubuhnya berkali-kali mengalami pemeriksaan pada tahun 1635, 1768, 1834, 1870, dan 1952.

Pada pemeriksaan terakhir pada tahun 1952, tubuhnya masih berada dalam kondisi sempurna, fleksibel, dan mengeluarkan keharuman yang lembut.
Meskipun kulitnya mengering, warnanya tetap natural dan hanya sedikit saja berubah agak gelap. Kondisi yang luar biasa ini telah bertahan selama tujuh abad, karena alasan ini tempat ziarah tersebut dijuluki "Miracolo Permanente".
St. Teresa dari Avila

St. Teresa dari Avilla terlahir dari keluarga bangsawan dengan nama 'Teresa Sanchez Cepeda Davilay Ahumada' pada tanggal 28 Maret 1515 di Avilla, Spanyol Tengah. Sebagai seorang anak, Teresa sangat taat pada agama. Romantika dan semangat heroik seorang bangsawan rupanya mendarah daging di dalam dirinya. Pada umur 7 tahun, Teresa ingin lari dengan kakaknya,Rodrigo untuk menjadi martir dalam Iman di Afrika untuk mempertobatkan orang-orang Moor, tetapi rencana ini gagal karena pamannya menghadangnya di tengah jalan. Sewaktu beranjak dewasa Teresa tumbuh menjadi wanita cantik yang pesolek. Ini tentu saja mencemaskan ayahnya yang religius, sehingga ayahnya memasukkan Teresa ke dalam sekolah putri yang dikelola Suster-suster St. Agustinus dimana Teresa mendapat didikan dalam disiplin yang keras. Suatu saat Teresa mengalami sakit-sakitan sehingga ia harus kembali tinggal di rumah. Dalam masa inilah sikap religius Teresa mulai terbangun akibat pengaruh pamannya yang saleh. Teresa menjadi tertarik pada hidup religius dan masuk ke dalam Ordo Karmel di Avila pada umur 20, dimana ia mengucapkan kaulnya pada tahun 1534. Teresa sangat suka mengatakan hal-hal seperti "Tuhan menyelamatkan kita dari wajah-wajah seram para santo!".
Pada saat Teresa bergabung, semangat religius dan kedisiplinan ordo sangat longgar dan menyimpang dari peraturan ordo yang asli. Teresa cukup menikmati situasi ini sampai suatu saat ia tergugah semangat spiritualitasnya setelah membaca buku "Pengakuan St. Agustinus". Dari sejak itu ia menyadari bahwa semangat spiritualitas ordo Karmel telah jauh menyimpang dari yang dikehendaki Tuhan. Pada tahun 1560 Teresa mengalami penampakan penderitaan orang-orang di neraka, penampakan itu semakin memperkuat tekatnya untuk menjalani hidup spiritualitas yang benar dengan melayani Yesus sepenuhnya. Pada tahun 1562 Teresa mulai memperbaharui semangat spiritualitas Karmel sebagaimana yang ditetapkan dalam regula (peraturan) ordo pada mulanya, meskipun untuk itu ia menghadapi berbagai tentangan dan hambatan dari berbagai pihak. Bersama-sama dengan St. Yohanes dari Salib, ia terus maju dalam usaha pembaharuannya dengan melakukan hidup doa kontemplatif sesuai semangat para pertapa Karmel.
Ia menekankan kecerdasan dan keberanian moral kepada para susternya, yang hidupnya terdiri dari doa, kerja manual dan kekayaan pribadi.
Dalam usahanya itu Teresa sering mengalami pengalaman-pengalaman mistik, berbagai penampakan, dan juga mengalami fenomena levitasi. Ia juga berkali-kali mendapatkan godaan setan yang memunculkan diri dalam berbagai bentuk, tetapi semua itu dengan mudah dihalau dengan memerciki air suci. Meskipun mendapat berbagai karunia pengalaman mistik, Teresa tetap setia menjalankan berbagai tugasnya sebagai pemimpin biara, pembimbing rohani, dan penulis. Berbagai bukunya yang terkenal antara lain, "Autobiografi", "Jalan Kesempurnaan", dan karya terbesarnya "Puri Batin" yang judulnya diberikan sendiri oleh Tuhan Yesus
Santa Teresa adalah seorang mistik dan kontemplatif dan menulis banyak buku-buku menarik dengan subyek itu. Cukup menarik, ia menyatakan bahwa ia mempunyai banyak kesulitan dengan doa mental pada bagian pertama dari hidupnya, bahkan sempat mengabaikannya pada suatu waktu.
Karena berbagai penyakit yang dideritanya, St. teresa meninggal dunia pada tgl. 4 Oktober 1582 ketika ia mengunjungi biara Karmel di Alba de Tormes. Tubuh St. Teresa selama hidupnya memang sering mengeluarkan keharuman, tetapi pada saat kematiannya keharuman ini semakin terasa dan menyebar sampai jauh. Berbagai keajaiban juga dilaporkan terjadi di makamnya. Kondisi ini membuat para suster menjadi curiga dan ingin melihat kondisi dari tubuh St. Teresa. Hal ini kemudian diijinkan oleh provinsial Ordo Karmel, Romo Jerome Gracian, ketika ia berkunjung ke biara tersebut. Ketika peti dibuka pada tanggal 4 Juli 1583 (sembilan bulan setelah kematiannya), tubuh St. Teresa masih tampak segar. Romo Francisco de Ribera, bapa pengakuan St. teresa bahkan melukiskan bahwa jenasahnya tampak segar seolah-olah baru saja dimakamkan. Ini juga diikuti oleh munculnya keharuman yang baru berakhir selama berhari-hari.
Makam St. Teresa berkali-kali dipindahkan sehubungan karena perebutan antara beberapa biara yang merasa berhak untuk menjadi tempat peristirahatan terakhir sang Santa suci. Juga beberapa bagian tubuhnya dibagi-bagikan kepada beberapa biara dan gereja di seluruh Eropa.
Pada tahun 1872, jantung dari St. Teresa diperiksa secara medis oleh peneliti dari Universitas Salamanca, mereka sepakat bahwa ini merupakan kasus keajaiban karena jantung tersebut tetap awet tanpa ada bahan pengawet apapun. Demikian juga ketika makam dibuka terakhir kalinya pada tahun 1914, tubuhnya yang dilaporkan masih tetap berada dalam keadaan baik sebagaimana pada pemeriksaan sebelumnya
Ia dikanonisasi pada tahun 1622, dan pada tahun 1970 secara resmi diangkat sebagai Pujangga Gereja oleh Paus Paulus VI sebagai santa wanita pertama yang dinyatakan sebagai pujangga Gereja. Pestanya diadakan tiap tanggal 15 Oktober.

St. Thomas Aquinas

Pangeran Landolf Aquinas menyerahkan anaknya (Thomas) pada biarawan Benediktin di Monte Kasino(Italia) dengan harapan agar suatu saat anaknya bisa menjadi abbas biara yang kaya itu. Tapi ketika kaisar menyerang paus dan biara-biara. Thomas pindah ke perguruan tinggi Napoli. Di kampus ini para DOminikan mempunyai biara. Dan pada umur 19 tahun ia masuk Ordo Dominikan. Tetapi seluruh keluarganya tidak setuju ia menjadi biarawan melarat yang hidup hanya dari derma. Maka ia disuruh pindah ke Paris. Namun atas perintah ibunya – yang kecewa karena tidak sempat melihat anaknya,- THomas dikejar dan diculik oleh kedua kakaknya. THomas dikurung dalam sebuah benteng dan tidak boleh pergi sampai dua tahun lamanya. Tetapi Thomas tetap pada pendiriannya. Untuk menjatuhkan imannya, kedua kakaknya memasukkan seorang wanita cantik ke kamarnya. Namun dengan bara menyala yang diambilnya dari tungku, Thomas mengusir keluar perempuan itu. Kemudian ia menggores tanda salib di dinding dan berdoa secara khusyuk. Dalam mimpi ia merasa seorang malaekat mengikatkan tali pada pinggangnya sebagai tanda karunia kemurnian abadi dari Tuhan. Ikatan itu begitu kencang sehingga ia menjerit kesakitan yang mengakibatkan penjaganya terjaga. Ia tidak pernah menceritakan kurnia ini kepada siapapun, kecuali kepada bapa pengakuannya menjelang detik-detik kematiannya. Akhirnya ia berhasil melarikan diri. Santo Thomas Aquinas adalah seorang Filsuf dan Teolog Itali, Pujangga Gereja, dikenal sebagai Pujangga Mazmur. Ia seorang ordo Dominikan, yang secara resmi dinamakan Ordo Pendoa (OP) Didirikan oleh St. Dominic tahun 1216, ordo ini berdoa melawan kesesatan dari Albigenses dan menghasilkan banyak ahli teologi. Anggotanya diterima tidak ke rumah yang khusus tetapi ke seluruh ordo, dan memakai pakaian putih dan jubah hitam (dipakai ketika berdoa). Gurunya adalah St Albertus Magnus (Albertus Agung), awalnya dikenal sebagai Albert, Count von Bollstadt (1206-1280), seorang filsuf religius di Koln, Jerman.
Aquinas adalah figur terbesar dari skolatikisme, satu dari santo/santa utama dari Gereja Roma Katolik, dan pendiri dari sistem resmi filsafat Katolik yang dideklarasikan tahun 1879 oleh Paus Leo XIII.
Ketika ia berumur 31 tahun, Aquinas menerima dispensasi paus untuk menerima gelar Master Teologi di Universitas Cologne, yang pada saat itu mensyaratkan bahwa Master Teologi harus berumur setidaknya 34 tahun. Aquinas dipilih untuk mengisi satu dari dua kursi yang dialokasikan untuk Ordo Dominikan di universitas itu, dan mulai menulis skripsi yang menolak tuduhan terhadap ordo Dominikan dan Fransiskan.
Karya utamanya, yang merupakan karya monumental Summa Theologia (1267-73), merupakan eksposisi sistematik dari teologi Kristen berdasarkan prinsip filosofi. Ia mulai bekerja tahun 1267, tapi berhenti menulis sebelum selesai pada tanggal 6 Desember. Ia berkata " Saya tak bisa melakukan lagi; banyak hal telah ditunjukkan kepada saya bahwa semua yang saya tulis tampak seperti tumpukan jerami saja, dan saya sekarang menunggu akhir dari hidupku" (ia meninggal tanggal 7 Maret tahun berikutnya). Karyanya yang lebih singkat, 'On Being and Essence' (1256), berisi metafisiknya. St. Thomas sistem mempengaruhi realisme dari Aristoteles dan bertentangan dengan Platonisme dan Neoplatonisme yang telah menang dalam teologi Katolik sejak waktu St. Augustine. Tidak seperti Platonis, dimana kebenaran adalah merupakan iman, St. AThomas percaya bahwa iman dan alasan merupakan dua realisme yang seimbang; teologi dan ilmu pengetahuan tak bisa ber kontradiksi satu sama lain. Seperti tak adanya konflik antara filsafat dan teologi. Di dunia ini, segala sesuatu diatur secara berurutan menuju Tuhan, satu-satunya yang terpenting. St. Thomas berhasil menggabungkan filsafat natural dari Aristoteles dan kepercayaan Kristen, mungkin kemajuan terbesar dalam bidang filsafat.
Oposisi setelah Aquinas, seperti St. Bonaventure, Duns Scotus dan William dari Occam, memecahkan sintesa iman dan alasan. Arus sekular dari Renaisans dan pertumbuhan dari ilmu alam membawa dan menurunkan metafisik skolastik, walau cara pendekatannya masih diikuti di bidang politik dan hukum.
Thomas Aquinas di kanosisasi oleh Paus Yohanes XXII 49 tahun setelah kematiannya. Pesta perayaannya tiap tanggal 28 Januari.

Yakobus Rasul

Dari dua belas RasulNya, Yesus memilih tiga orang sebagai rasul inti : Petrus, Yohanes dan kakaknya Yakobus. Mereka bertigalah yang diijinkan masuk rumah Yairus, ketika Yesus membangkitkan gadis yang sudah mati itu. Juga ketika Yesus dimuliakan di gunung Tabor, merekalah yang menyaksikan wajah Yesus bercahaya dan berpakaian putih bagaikan salju. Dan hanya mereka pulalah yang diperbolehkan mengiringkanNya ke taman Getsemani, tatkala Yesus pedih menyongsong detik-detik kematianNya. Apa keistimewaan Yakobus hingga ia terpilih di antara ketiga rasul inti itu? Dari jejak langkahnya dapat diketahui bahwa Yakobus terkenal beriman teguh, bersemangat baja dan bersikap terus terang. Namun pandangannya tentang kerajaan Allah masih duniawi, sehingga perlu dijernihkan, sampai ia menjadi saksi iman pertam di antara para Rasul. Yakobus dan Yohanes pernah mendesak Yesus supaya menghancurkan kota Samaria karena menolak kedatangan Yesus. Tambahan lagi Salome, ibu mereka, suatu ketika terang-terangan minta kepada Yesus supaya kedua anaknya meraih kursi terhormat dalam kerajaanNya kelak. Yesus memarahi mereka- dmeikian pula Rasul-rasul lain yang bersungut-sungut- dan meramalkan bahwa bukan kehormatan melainkan penderitaan dan bahkan Yakobus diseret ke depan Raja Herodes Agrippa, pengakuan imannya yang tulus dan berani itu sangat menyentuh lubuk hati orang yang menghianatinya, sehingga seketika itu juga ia bertobat dan percaya kepada Yesus. Akhirnya, Yakobus dan penghianat yang bertobat itu bersama-sama dijatuhi hukuman mati. Dalam perjalanan ke tempat penghukuman, penghianat itu merangkul Yakobus dan bertubi-tubi meminta maaf. Dengan lembut Yakobus menyahut: "Damai Tuhan bagimu!" Dengan penuh sukacita keduanya melambungkan pujian dan nyawa mereka kepada Tuhan. Yakobus adalah kakak Yohanes Penginjil; bersama dengan Andreas dan Petrus bekerja sebagai nelayan. Waktu Yesus memanggilnya, ia langsung meninggalkan Zebedeus, ayahnya, lalu mengikuti Yesus. Konon jenazahnya dipindahkan dari Yerusalem ke Spanyol. Hingga kini makamnya di Santiago de Compostela merupakan tempat ziarah yang selalu kebanjiran pengunjung. Pesta perayaannya tiap tgl 25 Juli. Ia dihormati sebagai pelindung orang yang berjuang membela umat Kristen terhadap penganiayaan.

St. Yohanes Rasul

St. Yohanes, Rasul dan Pembawa Kabar Gembira (pestanya tiap tanggal 27 Desember), teladan Asia Kecil
St. Yohanes, anak Zebedeus dan adik kandung dari St. Yakobus Tua, dipanggil menjadi Rasul oleh Yesus pada tahun pertama tugas pelayananNya. Ia menjadi 'murid yang paling dikasihi' Yesus dan murid ini juga yang menangkap segala tutur kata Yesus, dari ramalan tentang penghianatan Yudas sampai ke Perayaan Ekaristi yang pertama. Waktu Yesus digiring ke rumah imam agung dan Petrus menyangkalNya sampai tiga kali, Yohanes menyaksikan dari dekat pengadilan atas Gurunya yang sangat ia cintai. Ia satu-satunya dari dua belas Rasul yang tidak mengingkari Yesus pada saat-saat penyalibanNya. Ia berdiri dengan penuh kepercayaan di depan salib Yesus ketika Yesus meminta ia sebagai penjaga bagi IbuNya. Pada Minggu Paskah, tatkala para wanita yang kembali dari makam Yesus itu ramai berkisah tentang seorang malaekat yang mereka jumpai, Yohanes terus lari mendahului Petrus ke makam. Ia pulalah yang paling awal percaya Kristus bangkit dari antara orang mati. Memang, ia tidak tergesa-gesa masuk ke makam, ia menunggu serta mempersilahkan Petrus masuk lebih dulu, karena Petruslah yang ditunjuk Yesus sebagai pemimpin mereka. Ketika Yesus menampakkan diri di telaga Gensaret, Yohanes langsung mengenali Yesus. Dalam kisah para Rasul, Yohanes kerapkali besama Petrus : Saat penyembuhan orang lumpuh di Baitullah, ketika dipenjarakan sewaktu mengunjungi umat baru di Samaria. Yohanes oleh Paulus pernah disebut sebagai sokoguru jemaat di Yerusalem. Hidup selanjutnya dijalani sebagai pemimpin di Yerusalem dan di Efesus. Ia mendirikan banyak gereja di Asia Kecil. Ia menulis Injil ke Empat dan tiga Surat, dan Kitab Wahyu juga merupakan karyanya. Di bawa ke Roma, tradisi menyatakan, oleh perintah Kaisar Dometian ia dilemparkan ke kauldron yang berisi minyak mendidih, tetapi keluar tanpa luka dan akhirnya dibuang ke pulau Patmos selama setahun. Ia hidup sampai umur yang sangat tua, melebihi semua rasul lain, terakhir ia tinggal bersama bunda Maria dan meninggal di Efesus sekitar tahun 100. St. Yohanes dikenal sebagai Rasul Amal / Kasih, bahkan ketika Yohanes sudah tuapun dalam khotbahnya selalu mengulang-ulang : "Saling cinta-mencintailah! Itu perintah Tuhan. Asal itu kau lakukan, cukuplah bagimu!" suatu ajaran yang ia pelajari dari Gurunya, dan secara terus-menerus dilakukannya dengan kata-kata dan tindakan. "Murid yang dikasihi" meninggal di Efesus, dimana gereja didirikan di atas kuburannya. Gereja ini akhirnya di ubah menjadi mesjid
Pesta perayaannya tiap tanggal 27 Desember.

Yohanes dari Salib

Yohanes, terlahir Juan de Yepes, dilahirkan tahun 1542 di keluarga miskin bangsawan Spanyol. Pada masa kecilnya ia dua kali diselamatkan dari tenggelam secara ajaib oleh Bunda Maria. Ia bergabung dengan ordo Karmelit tahun 1542 dan menjadi imam empat tahun kemudian. Teresa dari Avila, pendiri dari Ordo Karmel, meminta Yohanes untuk bergabung dan memperbaharui semangat spiritualitas Ordo Karmel melalui hidup doa dan puasa/pantang yang keras. Ia dipenjara lebih dari satu kali karena terlibat gerakan reformasi ini.Ketika berada di penjara, Yohanes mendapatkan berbagai pengalaman mistik yang membuatnya mampu menggubah kidung-kidung dan puisi mistik serta memperoleh hikmat pengertian yang luar biasa dalam memahami ajaran Kristus. Pengetahuan ini kemudian ditulis dalam buku-bukunya yang terkenal seperti "Malam Gelap Jiwa", "Mendaki Gunung Karmel", "Madah Rohani". Setelah meringkuk selama 9 bulan dalam penjara akhirnya Yohanes berhasil melarikan diri secara ajaib dengan bantuan Bunda Maria.
Akibat dari proses pembaharuan tersebut, Ordo Karmel Tak Bersepatu secara resmi dipisahkan dari Ordo Karmel Bersepatu pada tahun 1580. Yohanes kemudian menjabat berbagai posisi penting di Ordo Karmel Tak Bersepatu. Selama beberapa tahun Yohanes sempat menjadi pembimbing di biara Karmel di Avila dimana St. Teresa menjadi pemimpin biara. Disana Yohanes bersama-sama St. Teresa sering mengalami fenomena levitasi yang disaksikan sendiri oleh banyak anggota biara, terutama saat mereka tenggelam dalam pembicaraan mengenai misteri Tritunggal.
Secara fisik, ia dikatakan bertubuh kecil. Ia adalah seorang mistik yang sangat hebat, dan bisa menghafal dokumen-dokumen yang panjang dengan ingatannya. Bukunya yang "harus di baca" adalah 'Ascent of Mount Carmel (Mendaki Gunung Karmel)'. Ia menekankan pada estetikisme sebagai alat untuk kontemplasi dan karyanya secara praktis merupakan petunjuk tahap demi tahap untuk mencapai kontemplasi mistik.
Sebagai peringatan, jika anda terbiasa untuk membaca cerita panjang, yang menarik tentang spiritualitas dimana pengarangnya berusaha untuk membuat anda tertarik dengan pengetahuannya. St Yohanes gaya "polos" mungkin membuat anda bosan pada awalnya. Tetaplah teruskan dan anda akan memperoleh anugrah yang besar!
Pada tahun 1591 di Ubeda, Yohanes meninggal dunia karena sakit. Pemakamannya di gereja dihadiri begitu banyak umat beriman yang ingin menyentuh tubuhnya. St. Yohanes dimakamkan di ruangan bawah tanah gereja. Pada keesokan harinya terjadi suatu keajaiban dimana para frater melihat sinar terang di ruang tersebut selama beberapa menit.
Seorang wanita, Dona Ana de Penasola, mendapatkan hak secara legal untuk memindahkan tulang-tulang St. Yohanes delapan bulan setelah pemakaman ke sebuah ruangan yang disediakan secara khusus untuknya. Pemindahan itu sendiri baru dilakukan sembilan bulan setelah pemakaman sang santo. Ketika makam dibongkar ternyata tubuh St. Yohanes masih tetap utuh sempurna dan menyebarkan keharuman. Akhirnya pimpinan biara menolak untuk memindahkan tubuh St. Yohanes karena yang diminta adalah tulang-tulangnya, bukan tubuhnya secara utuh. Salah satu jari St. Yohanes kemudian dipotong dan dibawa kepada Dona Ana sebagai bukti bahwa tubuh St. Yohanes tetap utuh. ketika amputasi dilaksanakan ternyata darah segar mengalir seperti layaknya pada seorang yang masih hidup.
Setelah menunggu sembilan bulan kemudian, makam St. Yohanes kembali dibongkar. Ternyata kali inipun tubuh St. Yohanes masih tetap utuh seperti sebelumnya. Akhirnya Zavallos, utusan Dona Ana membawa pergi tubuh St. Yohanes dengan menggunakan kantong. Keharuman yang menyebar dari tubuh St. Yohanes membuat Zavallos berkali-kali ditanya dalam perjalanan. Sesampainya di Madrid, para anggota Karmelit meletakkan tubuh St. Yohanes dalam sebuah peti sehingga lebih layak untuk dibawa dalam perjalanan ke Segovia. Di Segovia tubuh St. Yohanes mendapat perhatian dan penghormatan yang besar dari masyarakat, relikwi tersebut disemayamkan di kapel selama 8 hari untuk memberi kesempatan umat beriman melihatnya.
Makam St. Yohanes kembali dibuka pada tahun 1856, tahun 1909, dan kemudian tahun 1926 dimana makamnya dipugar secara istimewa. Pada tahun 1955 makam St. Yohanes dibuka terakhir kali dalam rangka kunjungan Jendral Provinsial Ordo Karmel. Pada waktu itu tubuh St. Yohanes mulai mengalami sedikit perubahan warna tetapi tetap fleksibel.
St. Yohanes dikanonisasi pada tahun 1726 dan pada tahun 1926 dinyatakan sebagai Doktor Gereja oleh Paus Pius XI. Perayaan tiap 14 Desember.

St. Zita

Dikenal sebagai santa pelindung para pembantu rumah tangga
Zita dilahirkan oleh keluarga miskin yang saleh di desa Monte Sagrati. Pada usia 12 tahun ia dikirimkan ke Lucca untuk bekerja pada sebuah keluarga pedagang kaya di Lucca. Ia menjalankan segala tugasnya dengan penuh kegembiraan dan cinta meskipun ia mendapatkan bagian pekerjaan yang kasar dan berat. Ia juga menjalani kehidupan doa dan silih yang luar biasa dan penuh ketaatan. Seringkali ia bangun untuk berdoa di tengah malam dan memberikan tempat tidurnya bagi para wanita tuna wisma. Ia selalu menghadiri misa harian dan sering berpuasa untuk menyisihkan sebagian makanannya bagi orang-orang miskin. Sikap kesalehannya ini kurang disukai oleh teman-teman kerjanya sehingga seringkali ia mendapatkan cemoohan dan perlakuan buruk.
Bahkan keluarga majikannyapun pada mulanya tidak menyukai perilaku saleh Zita, tetapi kemudian mereka bisa memahami dan malahan mendukungnya. Oleh karena kesabaran dan perbuatan-perbuatan kasihnya, Zita malahan kemudian diangkat sebagai kepala urusan rumahtangga dan penasehat keluarga. Menjelang akhir hidupnya, Zita dibebaskan dari segala tugasnya sehingga ia bisa mencurahkan waktunya untuk melayani orang sakit dan miskin di kota itu.

Pada tahun 1278, St. Zita meninggal dunia dengan penuh kekudusan dan dimakamkan dengan upacara yang meriah di Gereja St. Frediano, Lucca. Petinya dibuka tahun 1446, 1581, dan tahun 1652, dimana tubuhnya masih berada dalam keadaan sempurna. Sampai saat ini setelah lebih dari tujuh abad semenjak kematiannya, tubuhnya disemayamkan di Basilika St. Frediano dalam keadaan masih tetap sempurna meskipun sedikit kering dan agak gelap.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s