Tertullianus: Sang Bapa Teologi Latin

BAHASA LATIN SEBAGAI LINGUA FRANCA

Istilah lingua franca mengacu kepada bahasa pengantar yang sifatnya universal sehingga orang-orang dari berbagai latar belakang bangsa dan bahasa dapat memahami satu dengan lainnya. Kalau bahasa Melayu menjadi lingua franca di wilayah Asia Tenggara, khususnya perairan Indonesia kala itu, di daratan Eropa hingga ke Afrika bahasa Latinlah yang menjadi lingua franca.

Sebagai bahasa resmi di Kekaisaran Romawi, wajarlah bahasa ini menjadi lingua franca. Di puncak kejayaannya, bahasa Latin dituturkan dari Pulau Britania di barat laut sampai Palestina di ujung tenggara. Kini setelah bahasa Latin menjadi bahasa mati, bahasa Inggrislah yang menjadi lingua franca dalam berbagai pertemuan internasional.

Namun, tahukah Anda tokoh yang berperan dalam penulisan Latin untuk pertama kalinya? Tokoh tersebut tak lain ialah Tertullianus, salah seorang yang sangat berperan penting dalam sejarah gereja pada abad abad ke-2 dan awal abad ke-3. Sebagai salah seorang penulis yang sangat produktif pada masanya, Tertullianus menghasilkan begitu banyak tulisan, baik dalam bahasa Latin, maupun dalam bahasa Yunani.

LATAR BELAKANG TERTULLIANUS
Tidak ada angka yang pasti mengenai tahun kelahiran Tertullianus. Ada sumber yang menyebutkan bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 150. Sumber lain menyebutkan dia lahir sekitar tahun 200, sedangkan yang lain menyebutkan kelahirannya antara tahun 150 dan 160. Namun yang jelas, ia dilahirkan di Kartago, dari keluarga kafir.

Quintus Septimius Florens Tertullianus, itulah nama lengkapnya. Ayahnya yang adalah seorang komandan tentara Romawi mendorongnya untuk mempelajari hukum. Keahliannya di bidang hukum inilah yang kemudian memberinya kemampuan “mematikan” dalam melawan praktik tidak adil yang menghukum mati orang-orang beriman, hanya karena mereka Kristen.

Bila mengamati karya-karya tulisnya, memang bisa disimpulkan kalau Tertullianus memiliki pendidikan yang sangat baik. Ia disebutkan mendapatkan pendidikan di Homerus. Meski demikian, ia jauh lebih tertarik pada filosofi, sejarah, sains, dan pengetahuan mengenai barang-barang antik daripada kepada puisi.

PERTOBATAN TERTULLIANUS
Karena berasal dari masyarakat kafir, tidak heran jika Tertullianus juga menjalani kehidupan masa muda yang dekat dengan nuansa kekafiran. Ia memanjakan hasratnya kepada hal-hal yang dianggapnya sesuai baginya. Termasuk dalam hal seks, juga arena gladiator, di mana ia menyaksikan para gladiator saling menaklukkan; ia juga menyaksikan para kriminal dan orang-orang Kristen yang harus menjadi santapan singa di arena tersebut.

Setidaknya ada dua faktor yang bisa kita sebutkan sebagai penyebab pertobatan Tertullianus. Faktor pertama menyangkut kegemarannya di arena gladiator. Ia sangat terpukul tatkala menyaksikan bagaimana orang-orang Kristen dieksekusi dalam arena tersebut. Faktor kedua sangat berkenaan dengan tingkah laku dan keteguhan hidup orang-orang Kristen yang disaksikan sendiri oleh Tertullianus — termasuk ketika mereka akan disantap singa.

Diperkirakan ia bertobat sekitar tahun 192 di Kartago. Lalu ketika berusia 40-an hingga 60-an, ia mendedikasikan dirinya sebagai seorang penulis. Lewat tangannya, ia menjadi seorang apologetik yang tangguh. Sikapnya yang keras membuatnya menolak segala bentuk dosa secara tegas.

Catatan Hieronymus menyebutkan bahwa Tertullianus sempat berposisi sebagai uskup. Meski demikian, pandangan ini belakangan banyak diragukan oleh para ahli.

Disebutkan pula bahwa Tertullianus menikah. Sayangnya, ia tidak dianugerahi seorang anak pun. Meski demikian, ia pernah meminta kepada istrinya agar tidak menikah lagi ketika ia meninggal. Ia menambahkan, bila pun menikah, haruslah dengan seorang Kristen.

SEBAGAI BAPA TEOLOGI LATIN
Seperti kita ketahui, manuskrip-manuskrip seperti keempat Injil, dan juga surat-surat para rasul, ditulis dalam bahasa Yunani. Warisan penting ini tampaknya turut mendorong penulisan literatur gereja purba dalam bahasa Yunani. Akan tetapi, kecenderungan ini mulai beralih ke bahasa Latin.

Ketika itu, Kartago merupakan bagian dari Kekaisaran Romawi. Selain itu, kota ini merupakan pusat pendidikan dan budaya kedua setelah Roma. Dengan demikian wajar saja kalau bahasa Latin, yang juga bahasa resmi Romawi digunakan di sini. Karena lahir dan besar di Kartago, tidak heran kalau bahasa Latin menjadi bahasa yang akrab bagi Tertullianus.

Tertullianus sendiri diyakini sebagai orang pertama yang berperan memperkenalkan bahasa Latin ke dalam lingkungan gereja. Semula, ia memang menulis dalam bahasa Yunani, sebagaimana para pendahulunya. Sayangnya, tidak satu pun dari karya-karya berbahasa Yunaninya ini yang disebutkan tersisa. Karya-karya yang hilang itu meliputi Ecstasy, Paradise, Fate, The Hope of Believers, Flesh and Soul, dan Against the Apellians. Namun, Tertullianus juga mulai menulis dalam bahasa Latin. Ia menulis begitu banyak karya. Sayangnya, saat ini hanya tersisa 31 tulisan berbahasa Latin yang ia hasilkan dan menjadi warisan berharga yang ada sampai saat ini.

Mengingat perannya dalam penulisan pemikiran teologi dalam bahasa Latin, juga jumlah tulisannya yang diyakini banyak itu, Tertullianus pun dianggap sebagai Bapa Teologi Latin.

MENJADI PENDUKUNG MONTANISME
Pada awalnya, Tertullianus merupakan pendukung gereja ortodoks. Ia banyak menentang kekafiran. Bahkan setelah menjadi Kristen, ia malah membenci hiburan umum, termasuk pertunjukan gladiator. Akan tetapi, sikapnya yang keras membuatnya berbalik dan menyerang gereja ortodoks.

Tertullianus berpendapat bahwa orang-orang Kristen dan gereja harus bertindak tanpa kompromi terhadap kehidupan orang-orang di sekitarnya. Ketika ia melihat bahwa sikap yang kompromi ini mulai menjalar di tengah kehidupan gereja, ia menunjukkan kemarahannya. Sikap-sikap yang ditentangnya adalah keengganan untuk menjadi martir, termasuk sikap mengampuni dosa meskipun itu dosa yang serius. Situasi ini kemudian membuatnya mendukung aliran Montanisme.

Aliran Montanisme merupakan aliran yang muncul sekitar tahun 170-an. Saat itu, Montanus beserta dua wanita mulai bernubuat di Frigia. Mereka menyerukan kehidupan yang sederhana: tidak lagi mengadakan pernikahan, berpuasa lebih lama, dan tidak menghindari mati martir.

Semula, Irenaeus menganjurkan agar gerakan ini tidak dikutuk tanpa pertimbangan. Meski demikian, terjadi keretakan dalam gerakan ini sampai akhirnya, gerakan yang kemudian dikenal sebagai “ajaran sesat Frigia” ini dikutuk. Ia diperkirakan mulai mendukung montanisme sekitar tahun 210.

Tertullianus pun segera menjadi pembicara yang tangguh bagi kaum montanis. Walaupun baginya, kaum montanis sendiri tidak cukup ketat. Dan tampaknya hal ini juga yang membuatnya berpisah dengan mereka dan membentuk sektenya sendiri, yang kemudian bertahan hingga abad ke-5 di Afrika.

Akibat sikap ini, ia tidak pernah diangkat sebagai salah satu orang suci, sebagaimana Augustinus. Lalu pada abad ke-6, melalui sebuah dekrit gereja, Decretum Gelasianum, karya-karya Tertullianus, beserta sejumlah karya dari penulis lainnya ditolak.

SEBAGAI SALAH SATU PELETAK FONDASI
Meski demikian, Tertullianus merupakan salah seorang yang sangat berpengaruh, baik pada masanya, maupun pada masa-masa sesudahnya. Pengaruhnya diwariskan melalui berbagai tulisan. Selain itu, ia juga menjadi orang pertama yang mencetuskan istilah Trinitas, istilah yang berkenaan dengan kepribadian Allah yang tidak ditemukan di seluruh Kitab Suci. Istilah tersebut terdapat dalam Adversus Praxean, sebagai responsnya atas suatu ajaran sesat. Ia juga turut berperan menetapkan fondasi dasar dalam Kristologi. Dalam karyanya, Baptism, ia juga memperkenalkan eksposisi pertama Doa Bapa Kami.

Berikut ini sejumlah tulisannya yang dianggap relevan dengan Perjanjian Baru.
- Adversus Marcionem (Against Marcion)
- De Baptismo (Concerning Baptism)
- De Cultu Feminarum (Concerning the Apparel of Women)
- De Fuga in Persecutione (Concerning Flight in Persecution)
- De Oratione (Concerning Prayer)
- De Pudicitia (Concerning Modesty)
- Scorpiace

Tidak ada sumber yang jelas mengenai kapan dan bagaimana Tertullianus meninggal. Catatan Hieronymus menyebutkan bahwa ia meninggal dengan tenang sekitar tahun 220-an. Spekulasi lain menyebutkan kemungkinan kalau ia mati martir.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s