Internasional

Paus Prihatin Jutaan Orang Kelaparan

Senin, 15 Juni 2009 | 04:25 WIB
VATIKAN, KOMPAS.com — Paus Benediktus XVI mengimbau konferensi PBB mendatang mengenai krisis ekonomi dunia untuk membahas bagaimana menjamin semua penduduk dunia cukup makan dan hidup layak, Minggu (14/6).

Ketika memberi khotbahnya dalam doa angelus di Lapangan St Peter, Paus mencela fakta yang sama sekali tidak bisa diterima bahwa jutaan orang menderita karena kelaparan.

“Untuk itu, saya berharap bahwa pada konferensi PBB mendatang, seluruh masyarakat internasional mengambil semua langkah dan keputusan strategis yang kadang sulit diambil, tetapi perlu dilakukan, untuk menjadi bahwa semua orang, sekarang dan esok, memperoleh makanan pokok yang diperlukan manusia untuk hidup bermartabat.”

Konferensi tiga hari PBB mengenai krisis keuangan dan ekonomi dunia serta dampaknya terhadap pembangunan akan diselenggarakan di Markas Besar PBB di New York antara 24 dan 25 Juni.

Paus Benediktus meminta semangat pertanggungjawaban dan solidaritas dari para peserta konferensi sehingga krisis yang tengah terjadi sekarang menjadi satu kesempatan untuk menciptakan pertahanan lebih baik bagi martabat manusia dan distribusi kekuasaan dan sumber daya yang lebih adil, terutama dalam hubungannya dengan meningkatnya jumlah penduduk miskin
=============================================================.
Pembantai 7.500 Muslim Itu di Daerah Ski

Jumat, 12 Juni 2009 | 08:22 WIB
SARAJEVO, KOMPAS.com — Stasiun TV Bosnia-Herzegovina menayangkan gambar penjahat perang Ratko Mladic yang masih jadi buronan.

Gambar-gambar tersebut diduga foto terbaru Mladic di daerah ski. Namun Pemerintah Serbia menyatakan, foto-foto tersebut adalah foto lama.

Mladic adalah mantan kepala tentara Bosnia-Serbia yang berhasil melarikan diri dari tribunal Yugoslavia sejak 1955. Mahkamah Internasional Den Haag ingin menyeretnya ke pengadilan, salah satunya karena genosida di daerah muslim Srebrenica.

Orang kepercayaan Mladic, Radovan Karadzic, ditangkap tahun lalu di Belgrado, di mana ia hidup dengan nama dan identitas palsu selama bertahun-tahun.

Mladic (66) ialah pemimpin tentara Serbia Bosnia selama Perang Bosnia. Bersama dengan Radovan Karadzic, ia melancarkan gerakan pembersihan etnis Kroasia dan Muslim di Bosnia dan merupakan salah satu tersangka yang paling diburu atas konflik Bosnia. Ia didakwa oleh pengadilan PBB atas genosida dan kejahatan lain terhadap kemanusiaan—termasuk pembantaian setidaknya 7.500 lelaki dan anak-anak Muslim di kota Srebrenica pada tahun 1995.

Setelah tinggal dengan aman di Beograd selama beberapa waktu, Mladic lenyap dari pandangan saat mantan Presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic ditangkap pada tahun 2001.
PM Israel Hancurkan Peluang Damai

KAIRO, KOMPAS.com — Presiden Mesir Hosni Mubarak mengatakan tuntutan Israel agar Palestina menerima kehadiran Israel, sebagai sebuah negara Yahudi, telah menghancurkan kemungkinan tercapainya kesepakatan damai.

Tuntutan itu merupakan satu dari sejumlah syarat yang dibuat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat dia mendukung pembentukan negara Palestina untuk pertama kalinya. Netanyahu juga menuntut negara Palestina tanpa militer.

Palestina telah menolak syarat-syarat Israel ini. Namun, AS menyebut sikap Netanyahu sebagai langkah maju yang penting. Uni Eropa menyatakan pidato Netanyahu merupakan sebuah langkah ke arah yang benar, tetapi tidak cukup untuk memperbaiki hubungan dengan Israel ke level yang lebih tinggi.

Mesir adalah negara Arab pertama yang mengakui keberadaan Israel dan salah satu kunci penengah negosiasi damai Timur Tengah. Mubarak mengatakan, Senin (15/6), dia telah menyatakan pada PM Netanyahu bahwa pembicaraan damai harus dilanjutkan.

“Saya juga katakan kepadanya dengan keras dan jelas bahwa seruan untuk mengakui keberadaan Israel sebagai sebuah negara Yahudi akan membuat kantor berita resmi MENA mengutip Mubarak yang bicara kepada petinggi militer,” kata Mubarak. “Saya bahkan mengingatkan bahwa seruan ini tidak akan mendapat respons baik dari Mesir atau negara lain,” lanjutnya.
Tujuh Tewas dalam Demo Menentang Ahmadinejad

Selasa, 16 Juni 2009 | 13:32 WIB
TEHERAN, KOMPAS.com — Radio pemerintah Iran, Selasa (16/6), melaporkan tujuh orang tewas selama terjadi demo di Teheran menolak kemenangan Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden kembali.

Laporan media-media di sana menyebut korban tewas setelah sejumlah oknum tak bertanggung jawab menyerang sebuah pos militer, Senin (15/6).

Capres yang kalah, Mir Hossein Mousavi, menuntut hasil pemilu dibatalkan karena terjadi kecurangan. Para pendukungnya pun bertekad kembali turun ke jalan hari ini. Aksi massa, Senin, melibatkan ratusan ribu orang, adalah yang terbesar sejak Revolusi Iran pada 30 tahun lalu.

Radio Iran melaporkan, insiden menewaskan tujuh demonstran itu terjadi di akhir aksi saat massa dalam perjalanan pulang. “Sejumlah oknum menyerang pos militer dan merusak barang-barang milik umum di Azadi Square,” demikian laporan radio.

Puluhan anggota kelompok oposisi ditangkap sejak aksi protes menentang hasil pemilu merebak. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, memerintahkan penyelidikan atas dugaan kecurangan pemilu. Sementara itu, Mousavi dan dua capres moderat lain dijadwalkan bertemu Dewan Pelindung, yakni kelompok ulama berwewenang penuh. Dewan ini didominasi ulama konservatif.

Seorang juru bicara Dewan Pelindung, Senin, mengatakan, hasil pemilu ini belum final. Hasilnya baru final setelah dewan tersebut mengesahkannya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s