Renungan Lainnya

Ahh aku dicuri lagi…

Rasanya kesal, rasanya ingin mengeluarkan sumpah serapah saat aku kehilangan sesuatu yang aku sayangi. Apalagi sesuatu itu adalah memiliki kesan yang dalam, terlalu banyak nilai yang tidak hanya bisa dihitung dengan satuan Rupiah. Tapi dengan seenaknya, ada orang-orang yang tidak bertanggungjawab mengambil sesuatu yang berharga itu dari padaku. Ya saat aku tidak waspada, dengan seenaknya dia mengambil yang menjadi milikku, hakku, kepunyaanku. Dalam hitungan detik telah terjadi pertukaran kepemilikan, padahal aku tidak pernah mengizinkannya untuk mengambilnya dariku.. Tapi kata Tuhan aku harus mengampuni, aku harus mengasihi musuhku.. Tuhan rasanya sulit, rasanya rasa marah itu lebih besar daripada kasih yang menutupi segalanya.

Mungkin itulah sedikit gambaran bagaimana hati kita menjadi tidak karu-karuan, saat kehilangan “sesuatu yang berharga dalam hidup kita”, tidak hanya materi, tapi bisa juga orang-orang yang kita cintai, kita kasihi, sahabat, semuanya. Ya, semua yang ada dalam dunia ini bisa hilang begitu saja, dalam hitungan detik, bahkan mili detik.

Sejenak aku merenung, saat kehilangan sesuatu yang berharga yang disebabkan oleh keteledoranku sendiri saja, aku tidak bisa tidur semalam-malaman. Tapi bagaimana, seandainya yang aku sia-siakan adalah keselamatan yang sudah Tuhan kasih ke semua manusia secara gratis?? (Tuhan berkata “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”), pasti penyesalan itu akan tidak pernah ada ujungnya saat kita menyia-nyiakan keselamatan itu.

Ternyata, dalam segala sesuatu pasti selalu ada pelajaran yang indah, yang dapat aku tarik, toh walaupun aku rugi secara materi, tapi ternyata aku masih dapat belajar suatu pelajaran yang sangat berharga, ya hidupku sangat berharga sampai Tuhan rela mati untukku.. Jangan sampai kita frustasi karena kehilangan sesuatu yang berharga, karena hidup kita lebih berharga dari apapun, karena Tuhan sangat mengasihi kita..

GBU..

Akhir Jaman

Dulu ketika semasa SMP, saya pernah dikejutkan isu bahwa akan ada kegelapan total selama tiga hari tiga malam. Beredar selebaran yang menyatakan bahwa pada saat kegelapan tersebut, penerangangan hanya bisa melalui lilin yang telah diberkati. Alhasil sebagian besar warga kota kecilku berbondong-bondong membeli lilin dan minta diberkati oleh pastor. Banyak keluarga memborong kebutuhan-kebutuhan pokok demi kelangsungan hidup selama tiga hari kegelapan tersebut. Mereka yang dapat bertahan hidup selama tiga hari kegelapan tersebut adalah mereka yang diselamatkan, sedangkan yang tidak layak akan binasa. Namun setelah hari yang ditunggu-tunggu tiba, ternyata kegelapan tidak terjadi. Sang surya dengan gagahnya tetap terbit dari ufuk timur, kembali memberi sinar dan pengharapan pada warga kotaku yang kebingungan. Ada rasa kecewa dan ada rasa suka. Kecewa karena sudah mempersiapkan diri sedemikian rupa tapi apa yang diramalkan tidak terjadi. Tetapi lebih dari itu, ada rasa suka. Ternyata Allah tidak kejam seperti yang diisukan. Ia tetap baik dan mengasihi umatnya. Cahaya matahari tidak saja hanya untuk orang-orang beriman tapi juga untuk orang berdosa. Kasih Allah ternyata melampaui batas definisi dosa yang dibuat manusia untuk saling mengeksklusifkan satu sama lain.

Berita tentang kedatangan akhir jaman (apokalipsi) selalu menarik perhatian banyak orang, terutama bila itu dilengkapi dengan sekian kesaksian para kudus, kutipan injil, atau pernyataan yang diasalkan pada perkataan Bunda Maria dalam beberapa penampakannya. Berita tentang kedatangan akhir jaman memang bukanlah sekedar isu. Injil hari Minggu ini berbicara tentang kedatangan akhir jaman tersebut. Dalam Injil hari minggu ini, Yesus memberi tanda-tanda yang mendahului kedatangan hari tersebut: bangsa akan bangkit melawan bangsa, gempa bumi, kelaparan, dan wabah penyakit di mana-mana. Bila menilik tanda-tanda tersebut, kita akan dengan mudah dituntun pada keterpenuhan nas tersebut. Peperangan dan bencana alam telah menjadi berita utama dunia ini. Juga kelaparan di banyak tempat, yang sering kali tidak terpantau oleh media. Belum lagi penyakit yang aneh-aneh dan baru di beberapa belahan bumi. Nampaknya dunia sudah menunjukkan gejala-gejala seperti yang dinyatakan Yesus tersebut.

Orang yang pintar membaca tanda-tanda jaman tidak bosan-bosannya menyerukan pertobatan. Dunia hanya biasa diselamatkan dengan pertobatan yang segera mungkin. Beberapa yang merasa terinspirasi semakin berani mewartakan atau membentuk aliran-aliran yang mengklaim bahwa mereka telah menerima wahyu akan kedatangan akhir jaman tersebut. Atau bahwa mereka adalah mesias kedua yang dijanjikan tersebut. Dengan memanfaatkan kemampuan retorik yang isinya didominasi oleh ancaman-ancaman dan berkat, bukan keselamatan yang mereka bawa, justru semakin banyak kesesatan yang ditimbulkan. Selalu ada klaim bahwa hanya kelompok merekalah yang akan diselamatkan. Beberapa aliran tersebut berujung pada aksi bunuh diri massal, seperti aksi bakar diri atau minum racun bersama.

Saya selalu merasa tertarik dengan konsep Alfred North Whitehead tentang Allah. Ia menempatkan Allah dalam dua hakikat, yaitu hakikat awali (primordial nature) dan hakikat akhiri (consequent nature). Dalam hakikat awali, Allah merupakan perwujudan konseptual dari seluruh kekayaan potensial absolut, suatu penataan segala kemungkinan bentuk perwujudan konkret. Dalam hakikat awalinya, Allah dikategorikan sebagai free, complete, eternal, actually deficient and unconscious. Sebaliknya dalam aspek akhiri, Allah bersifat determined, incomplete, consequent, everlasting, fully actual, and concious. Dalam aspek awalinya Allah berperan sebagai pencipta sedangkan dalam aspek akhiri Allah berperan sebagai penyelamat yang menampung segala sesuatu. Whitehead tidak melihat bahwa Allah sebagai yang sempurna dari permulaan, yang hanya memberi dan tidak membutuhkan apa-apa dari dunia, tetapi sebaliknya Allah pun mencerap dari dunia. Justru dengan mencerap dari dunia dan menyimpan, menampung, menyelamatkan segala sesuatu barulah Allah menjadi sempurna.

Allah dalam hakikat akhirinya bukanlah Allah yang dapat meramal atau dapat menentukan apa yang akan terjadi pada masa depan, tetapi bersama-sama dunia mengarungi masa depan. Dalam pola pandang ini berarti bahwa keputusan Allah tidaklah mutlak. Allah kita bukanlah Allah yang statis dan tidak peka. Ia bukanlah Allah yang sekali memutus maka akan berlaku selama-lamanya. Ia peka terhadap dunia, keputusanNya bisa berubah bila dunia berubah. Akhir jaman di sini tidak lagi ditempatkan pada suatu titik waktu di masa depan, tapi masih sebatas konsep. Terjadi atau tidaknya akhir jaman tersebut bukan lagi merupakan keputusan mutlak Allah, tetapi lebih merupakan keputusan dunia sendiri. Dunia menentukan akan jadi apa dirinya nanti. Bila bangsa-bangsa tidak lagi mampu mengontrol nafsu untuk saling menghabisi; bila egoisme sudah sedemikian merajalela sehingga manusia saling mengeksploitasi yang berujung pada kesengsaraan dan kelaparan; bila manusia tidak lagi mampu menjaga sikap dan perilakunya dalam batas-batas moral dan etika kristiani, maka akhir jaman sudah sedang terjadi.

Hemat saya, kita sebagai orang Kristen tidak perlu takut akan kedatangan akhir jaman. Akhir jaman bukanlah hukuman dari Allah untuk dunia, tetapi hukuman dari dunia bagi dirinya sendiri. Akhir jaman juga bukan tiga ketukan palu dari sang hakim yang akan menentukan nasib kita selanjutnya. Kita memang harus tetap membentengi diri kita dengan mempraktekan ajaran-ajaran Yesus. Peringatan Yesus tentang akhir jaman bukanlah untuk menakut-nakuti kita, tetapi saya kira lebih sebagai dorongan untuk saling berbuat baik dan mengasihi satu sama lain. Isu tentang kedatangan hari terakhir atau tentang kedatangan Mesias, janganlah membuat kita terpeleset dengan bergabung pada aliran-aliran sesat yang mengklaimnya. Bayangan tentang akhir jaman yang mengerikan bisa kita hindari dengan menjadikan bumi kita sebagai tempat diam yang lebih baik; menjadikan kehendak Allah di atas bumi seperti di dalam surga. Amin.

Aku datang untuk orang berdosa, bukan untuk orang saleh

Renungan untuk MINGGU BIASA X/TAHUN A
Hos 6:3-6; Rm 4:18-25; Mat 9:9-13

Apakah Anda pernah berdosa?? Berapa kali sehari? 3 kali sehari, atau malah lebih?? Hari ini Yesus memanggil Matius, si pemungut cukai, menjadi pengikut-Nya. Yesus tidak segan-segan untuk makan bersama dengan para pendosa dan pemungut cukai. Tindakan Yesus itu dinilai merendahkan martabat para rabi dan ahli Taurat dari Kaum Farisi, karena mereka biasanya menghindar untuk makan bersama dengan orang yang mereka anggap berdosa.

“Dosa” menurut kaum Farisi dan ahli Taurat adalah tidak mentaati hukum dan adat istiadat keagamaan Yahudi. Orang yang dapat mentaati hukum itu adalah kalangan terbatas: para rabi, sementara umat tidak mungkin melaksanakan karena keterbatasan pengetahuan ataupun keuangan (untuk biaya membeli bahan persembahan di kenisah sesuai dengan aturan). Mereka membuat aturan dari mencuci tangan dan kaki sebelum makan, sampai soal penghormatan mutlak terhadap Hukum Sabat dengan tidak berbuat apapun juga. Pemungut cukai dianggap orang pendosa berat karena memang kerap kali menarik cukai di luar kewajaran. Namun mengapa Yesus memanggil Matius? Yesus mau menjungkirbalikkan jalan pikiran orang Farisi dan ahli Taurat yang beranggapan bahwa mereka dapat menyelamatkan diri sendiri dari hukuman kekal dengan usahanya sendiri berbuat baik, yakni ketaatan terhadap hukum Taurat dan adat istiadat Yahudi. Jadi orang yang tidak taat akan mengalami kebinasaan.

Sikap Yesus yang mau makan bersama dengan orang pendosa dan pemungut cuka mengubah radikal jalan pikiran “keselamatan” itu. Keselamatan bukan melulu diusahakan manusia melainkan pertama-tama karunia Allah yang serta merta cuma-cuma. Allah berinisiatif memanggil orang berdosa untuk kembali menjadi anak-Nya. Keselamatan itu buah kasih Allah yang maharahim. Karena itu, yang dimohon dari pihak manusia bukanlah kesombongan: merasa diri menjadi orang saleh, tetapi justru pengakuan sebagai orang berdosa. Bagaikan sebuah botol berisi air keruh, mustahil dapat diisi air jernih kalau tidak dikeluarkan dulu, demikian juga, hati manusia tidak mungkin dimurnikan kalau manusia tidak terbuka untuk dibersihkan hatinya oleh Allah.

Siapakah kita? Kita akan menjadi orang yang mengaku diri yang sakit dan berdosa dan mohon pengampunan, atau mengaku diri orang yang merasa sehat dan saleh sehingga tidak lagi membutuhkan Yesus?

ANAK KECIL DALAM HUJAN

Malam pukul 21.00. Hujan deras mengguyur. Jalan Veteran terasa sepi dan gelap. Entah mengapa, banyak lampu jalan yang padam. Sementara genangan air nampak mulai memenuhi tepian jalan. Aku lewat amat pelan sambil memperhatikan sekelilingku dengan seksama. Malam itu malam minggu, namun tak nampak orang-orang yang biasa berkumpul untuk menonton balapan liar seperti yang biasa terjadi di malam-malam minggu yang cerah. Dan menjelang perempatan Jalan Landak Baru dan Lama, aku melihat sesosok tubuh seorang anak, usianya mungkin sekitar tujuh atau delapan tahun, meringkuk di sudut pintu sebuah ruko yang tertutup rapat. Dengan hanya berselimut sebuah kain spanduk, nampak seperti spanduk kampanye seorang calon walikota dalam Pilkada beberapa waktu lalu, anak itu kulihat tertidur dengan nyenyak. Malam yang dingin dan deru hujan yang deras tak sanggup untuk mengganggu keasyikan anak itu dari lelapnya. Aku lewat bersama beberapa kendaraan dan dua buah becak, melintas jauh di tengah jalan, menghindari genangan air di sisinya, sambil melirik ke arah anak itu sekejap. Hanya sekejap. Lalu anak itupun menghilang dari pandanganku.

Jauh meninggalkan anak itu, terlindung dari udara malam yang dingin dan basah, di dalam kamarku yang hangat dan terang, aku kembali memikirkan anak tadi. Siapakah dia? Dimanakah orang tuanya? Saudara-saudarinya? Keluarganya? Mengapa sampai dia harus tertidur di atas trotoar depan sebuah ruko tanpa perlindungan sama sekali? Dimanakah kepedulian mereka-mereka yang mengenalnya? Teman-temannya? Apakah yang diimpikannya saat tertidur lelap dalam hujan dan dingin di sudut pintu depan ruko itu? Pedulikah dia dengan hidupnya? Apakah dia sedih, kecewa dan merasa putus asa menghadapi kehidupannya sendiri? Sendiri? Berapa banyakkah anak-anak lain yang mengalami nasib seperti dirinya? Anak-anak yang mungkin tak diinginkan, disisihkan dan dilupakan oleh kita semua? Yang sesekali mungkin kita sadari keberadaannya saat kita merasa dirugikan oleh tindakan anak-anak yang tersisih itu, saat mereka melakukan hal-hal yang menyentuh kepentingan kita? Namun, jika tidak, tak pernah kita anggap ada dan tak pernah kita pikirkan kesepian-kesepian mereka, kemiskinan-kemiskinan mereka, ketak-berdayaan mereka menghadapi dan menerima hidup yang bagi mereka terasa amat keras dan pahit. Ya, keras dan pahit, jika kita mau memikirkan dan mengambil posisi mereka sekali-sekali saat melihat anak-anak itu berjuang untuk bisa tetap hidup.

Di dalam kamarku yang hangat dan terang, sambil mendengarkan alunan musik dan ditemani secangkir teh hangat, tiba-tiba aku merasa risau dengan hidup ini. Berapa banyakkah rasa sepi dan tak berdaya yang pernah kualami? Berapa banyakkah hasrat dan ambisi yang masih ingin kuraih dan kureguk? Mengapa semuanya terasa tak pernah cukup? Mengapa jika hasrat, ambisi dan cita-cita yang ingin kuraih itu mengalami kegagalan, seringkali aku mengalami kekecewaan, kekesalan dan kemarahan yang membuat aku sedih, tak berdaya dan bahkan terkadang merasa putus asa? Bagaimana pula dengan pemikiran, perasaan dan penghidupan anak kecil yang tadi kulihat di emperan ruko itu? Sedihkah dia? Kecewakah dia? Ataukah ini suatu perbandingan yang tidak masuk akal? Tidak masuk akal? Bukankah anak itu juga seorang anak manusia seperti diriku? Sementara aku berdiam di sebuah rumah yang dapat melindungiku serta menghangatkan tubuhku, jauh dari cucuran air hujan, anak tadi meringkuk dengan lelap walau aku tahu bahwa terkadang tempias air hujan yang turun deras sesekali membasahi tubuhnya yang kecil itu. Membasahi tubuh kecilnya yang menggigil kedinginan tanpa mampu ditemani secangkir teh hangat seperti yang saat ini kuhirup dengan enak. Kuhirup dengan enak dan rakus….

Maka sambil menulis renungan ini, aku mendengarkan suara lirih dari Ralph McTell: �So how can you tell me, you�re lonely. And say for you that the sun don�t shine…. (Streets of London). Ya, bagaimana kita dapat berkata bahwa kita menderita, kita kesepian, kita gagal, kita kalah, kita sakit, kita patah hati, kita putus asa, lalu mungkin ingin menghabisi hidup ini, jika kita tak pernah merasakan kehidupan mereka-mereka yang tak memiliki apa-apa. Mereka-mereka yang setiap malam tak punya tujuan, tak punya kata pulang, tak memiliki perteduhan, tak seorang pun yang menghangatkan hati dan tubuhnya, tak memiliki apa-apa sama sekali. Dan anak kecil dalam hujan tadi masih bisa tertidur dengan nyenak. Nyenyak sekali. Bahkan hujan deras dan dingin pun tak mampu untuk mengusik mimpi-mimpi yang sedang dialaminya. Tidakkah kita pantas memimpikan dia malam ini?

Anak-anakku: Anugerah terindah dalam hidupku

Setelah menunggu dalam penantian selama 7 tahun, Tuhan menganugerahkan anak-anak yang luar biasa dalam kehidupan kami, melalui doa yang kami panjatkan kepada Bunda Suci, Bunda Kudus Maria. Mohon maaf sebelumnya kami tidak menggunakan nama asli kami dalam menulis artikel ini, hal ini disebabkan kami tidak ingin anak pertama kami mengetahui cerita ini, namun kami ingin memberitakan kepada umat di dunia akan kuasa Kasih Yesus melalui Bunda Maria pada keluarga kami.

Saya menikah pada Agustus 1992 dengan upacara agama Budha, dikarenakan suami dan keluarga suami beragama Budha yang fanatik. Namun saya tetap sebagai seorang katolik yang taat. Saya tetap ke gereja namun tidak menyambut komuni sejak menikah tersebut, hingga akhirnya pada Juni 1998 suami mau dan bersedia dilakukan pemberkatan secara katolik dengan dispensasi khusus dari keuskupan agung. ( Namun suami tetap beragama budha sampai saat saya menulis kesaksian ini ). Hal ini juga merupakan suatu mujizat buat saya, di mana saat akan menikah, suami pernah mengatakan jangankan masuk ke gereja, melangkahkan sebelah kaki ke halaman gereja pun tidak akan dilaksanakannya, namun saya diam saja. Hingga pada awal 1998 saya berdoa Rosario 100 hari tiap malam sebelum tidur, akhirnya doa saya dijawab, dengan tiba-tiba suamiku setuju untuk dilakukan pemberkatan nikah secara katolik tersebut di gereja katolik, bahkan pernah ikut misa Natal beberapa kali dan mengantar jemput kami ke gereja saat ini.

Sejak menikah tahun 1992 tersebut, kami sebenarnya langsung ingin mempunyai anak dan kami langsung berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk hal tersebut. Menurut teori kedokteran, sperma suami sangat lemah, bentuknya tidak sempurna, jumlahnya terlalu sedikit dan pergerakannya sangat lambat, sampai-sampai kandungan saya pun pernah dilakukan tindakan medis (di tiup – istilahnya). Namun saat itu kami hanya bisa pasrah menunggu tanpa hasil. Usaha yang sudah kami lakukan luar-biasa sampai-sampai kami menuruti apa yang dianjurkan keluarga, kerabat maupun teman-teman, ya ke dokter anu di kota anu ( sudah puluhan dokter kandungan ) …. ke orang pintar … ke dukun sini… dukun sana… sampai ke pedalaman kalimantan kami jelajahi…. semua kami lakukan tanpa hasil. Akhirnya kami pasrah dan tidak memikirkan sama sekali mengenai hal tersebut, dan saya hanya berdoa pada Yesus melalui perantaraan Bunda Maria, intinya apabila Tuhan berkenan, saya ingin memiliki anak walau melalui kandungan orang lain. Akhirnya pada 1999 ada seseorang yang tidak kami kenal melalui perantara kerabat kami ( sampai hari ini pun kami tidak mengenalnya dan tidak mengetahui di mana ia berada ) memberikan putri nya yang baru berusia 1 hari pada kami. Kami menyambut dengan suka cita, di mana saya menganggap hal ini merupakan jawaban atas doa saya pada Tuhan. Namun ternyata kasih Tuhan yang ditunjukan pada keluarga kami tidak hanya itu saja, melalui perantaraan Bunda Maria, bulan Juni 2001 kami melakukan ziarah wisata ke Gua Maria di Puhsarang Kediri. ( Saya, suami dan putri kecil kami serta keluarga saya ). Saya berdoa di sana, apabila Tuhan berkenan dan kami dipercaya, saya ingin dianugerahkan anak laki-laki kembar untuk mendampingi putri kecil kami ini. Puji Tuhan, Allah Maha Besar… sebulan setelah doa tersebut, yaitu di bulan Juli 2001 saya dinyatakan positif hamil. Namun dokter sampai bulan ke-2 hanya menyatakan cabang bayi hanya 1 saja, namun saya katakan pada dokter bahwa doa saya minta kembar, ternyata memasuki bulan ke-3 dokter menyatakan kembali saya hamil kembar.

Namun setelah memasuki bulan ke 7, dokter menyatakan hasil USG adalah kembar perempuan. Namun lagi-lagi saya katakan pada dokter, apakah tidak salah? karena dalam doa saya , saya minta anak laki-laki … Namun sampai saya memeriksakan kandungan ke dokter kandungan lain sampai dokter ahli USG ( ada 3 dokter yang melakukan USG ), tetap dinyatakan bahwa cabang bayi perempuan, sampai-sampai dokter USG menyatakan bahwa dia tidak pernah salah melakukan diagnosa selama ini. Namun saya tetap bilang ke dokter, dan saya yakin bahwa Tuhan tidak akan mengabulkan doa saya sebagian saja, pasti Full. Sampai USG terakhir 5 jam sebelum saya melahirkan, dokter tetap menyatakan cabang bayi saya perempuan dua-duanya, terbantahkan oleh Kuasa Tuhan, di mana saya melahirkan bayi kembar laki-laki seperti doa yang saya panjatkan kepada Yesus melalui perantaraan Bunda Maria yang Kudus.

Demikianlah kesaksian saya atas kuasa Tuhan pada saya dan keluarga, hingga saat ini kami beserta 1 putri cantik dan 2 putra kembar kami yang cakep terus-menerus bersyukur atas anugerah Tuhan pada keluarga kami.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s