KESAKSIAN KELUARGA STEVE RAY

KELUARGA STEVE RAY
Steve, Janet, Cindy, Jesse, Charlotte, dan Emily

Urusan Keluarga (6 Juni 1997)
Suatu Riset Religius berakhir dengan sekeluarga masuk menjadi Katolik.

Oleh Diane M. Hanson
Artikel khusus untuk Michigan Catholic

LIVONIA-Serasa seperti didorong oleh suatu kekuatan diluar kuasanya. Demikianlah Steve menjelaskan mengapa ia pindah dari penganut Protestan evangelikal menjadi Katolik yang taat. (Catatan: Evangelikal merujuk pada sebagian jemaat dari berbagai latar belakang denominasi Protestan dengan pewartaan firman yang kuat.)

Tetapi tidak hanya Ray saja yang tersangkut dalam gejolak ini. Istrinya, Janet, dan keempat anak mereka juga ikut tertarik juga. Keluarga Ray tidak pernah ingin menjadi Katolik. Mereka bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di dalam sebuah gereja Katolik sebelumnya sampai hari dimana mereka memutuskan untuk bergabung. Janet Ray, yang tertua dari empat anak perempuan, dibesarkan dalam aliran Presbyterian (sebuah denominasi utama Protestan). Steve Ray adalah anak ketiga dari lima bersaudara dalam sebuah keluarga yang memeluk aliran Baptis (sebuah denominasi besar Protestan lainnya) pada tahun 1950-an.

Menikah pada tahun 1976, pasangan tersebut menghadiri gereja-gereja dari berbagai denominasi Protestan termasuk diantaranya gereja-gereja yang “non-denominasi”. Akhirnya mereka berhenti pergi ke gereja “karena kedangkalan yang kami temukan,” Steve Ray berkata.

“Saya pikir kami merasa frustrasi,” Janet Ray menambahkan. “Isu aborsi adalah isu yang besar bagi kami. Ketika gereja-gereja Protestan evangelikal membolehkan aborsi, dan para istri-istri tetua denominasi menjalani aborsi dan mereka menolak mengambil sikap menentang aborsi dihadapan publik, itulah hal yang menyebabkan kami pergi.”

Pada akhirnya keluarga Ray, yang menyekolahkan anaknya di rumah, Cindy, sekarang berumur 19 tahun, Jesse, 16 tahun, Charlotte, 10 tahun, dan Emily, 5 tahun, memulai studi Alkitab di rumahnya. Tetapi Steve Ray mengakui bahwa dirinya merasa puas, dan bahwa istrinyalah yang pertama kali tertarik dengan iman Katolik. “Saya cukup puas dengan menjadi seorang Kristen yang generik,” dia berkata, “untuk mengasihi Yesus Kristus, untuk belajar Alkitab, untuk membesarkan keluarga saya, mengajarkan mereka di rumah dan menjalankan roda bisnis.”

Pada awal tahun 1990-an, bisnis tersebut, Distinctive Maintenance Inc., sebuah perusahaan jasa kebersihan perkantoran, menyita sebagian besar waktunya. Perusahaan yang berbasis di Livonia tersebut telah tumbuh besar menjadi suatu korporasi bernilai jutaan dollar.

Tetapi Janet Ray terus mencari-cari. “Sebuah kerinduan untuk beribadah yang tidak dapat saya jelaskan,” dia berkata. Ketika dia membaca buku karangan Thomas Howard “Evangelical is not Enough (=menjadi [Protestan] Evangelikal saja tidak memadai),” segala kerinduannya tertuang dalam kata-kata, dia berkata.

Pada temuwicara di tahun 1993 oleh Frank Schaeffer (putera Francis Schaeffer, seorang teolog Protestan yang sangat ternama di dunia) menyangkut perjalanan spiritualnya ke dalam Gereja Ortodoks, demikian Steve berkata, barulah untuk pertama kalinya sebuah pintu terbuka dalam pikiran mereka bahwa ada sebuah gereja purba yang terorganisasi dan tidak hanya sekedar sebuah gereja yang abstrak (seperti yang layaknya dipercaya oleh semua denominasi Protestan).

Keluarga Ray membeli setiap buku tentang Gereja purba yang bisa mereka temukan dan juga mulai membaca tentang para Bapa-bapa Gereja purba. “Kami menemukan bahwa Gereja purba adalah Katolik, dan bukan Protestan,” Janet Ray berkata. “Kami telah diajarkan bahwa Gereja purba adalah Protestan,” dia menjelaskan.

Bagi Steve Ray, ada jawaban bagi pertanyaan: “Apakah Gereja sudah ada sebelum Alkitab atau apakah Alkitab sudah ada sebelum Gereja”

“Kami dulu selalu berasumsi bahwa Alkitab membuat terbentuknya Gereja, tetapi setelah melakukan riset menyadari, bahwa itu sungguh suatu pendapat yang keliru,” Steve Ray berkata. “Gereja sudah ada disana. Yesus tidak meninggalkan kita dengan sebuah Kitab yang memiliki otoritas, Dia meninggalkan kita dengan sebuah Gereja yang memiliki otoritas dan baru sesudahnya, beberapa waktu kemudian, Gereja tersebut memberikan kita sebuah Kitab yang memiliki otoritas, tetapi Gereja adalah yang ada terlebih dahulu.”

Steve Ray berkata bahwa mereka mempertanyakan pemikiran para Bapa-bapa Gereja purba, dan berasumsi bahwa teologi mereka bersifat Protestan dan bahwa “kaum Katolik seterusnya mengkorupsi segalanya sebagaimana abad-abad berikutnya yang kacau balau.”

Dengan tercengang-cengang, mereka menemukan bahwa “Gereja purba percaya total pada kehadiran sejati Kristus dan pada regenerasi pembaptisan,” Steve Ray berkata. “Mereka percaya pada suksesi apostolik. Mereka percaya pada primasi (keutamaan kuasa) Roma. Segala hal ini yang pada intinya adalah Katolik sudah terbentuk sejak abad-abad pertama, kedua dan ketiga, dan kenyataan-kenyataan ini menumbangkan landasan pendirian kami.”

Akhir tahun 1993 adalah titik balik. Keluarga Ray menghabiskan malam mereka dengan sahabat-sahabat yang diisi dengan diskusi-diskusi teologis.

Pasangan tersebut menghabiskan hari pertama di tahun 1994 membaca dan mendengarkan pita-pita rekaman kesaksian mereka (Protestan) yang telah menjadi Katolik. Di akhir hari tersebut, Steve Ray berkata, “Saya menatap Janet dan mata saya berkaca-kaca dan saya berkata, ‘Saya sudah jadi Katolik.’”

Baru pada hari berkutnya istrinya juga berkata bahwa iapun juga jadi Katolik. Pengumuman pertama tentang keputusan untuk menjadi Katolik adalah kepada Al dan Sally Kresta, yang sekeluarga telah menjadi Katolik setahun sebelumnya. Keluarga Kresta mengundang keluarga Ray untuk menghadiri Misa Kudus bersama-sama dengan mereka.

“Tidak pernah terpikirkan oleh kami bahwa kami akan pergi menghadiri Misa,” Janet berkata. “Kami pikir kami cukup jadi Katolik di dalam pikiran kami saja.”

Steve dan Janet Ray memutuskan untuk meninggalkan anak-anak mereka di rumah ketika mereka mendampingi suami-istri Kresta menuju Christ the King Church (Gereja Katolik Kristus Raja) di Ann Arbor.

“Kami menangis sepanjang perayaan Misa Kudus,” Janet Ray berkata. “Saya belum pernah mendengar Injil diwartakan begitu jelas seperti di dalam Misa Kudus.”

Meskipun pasangan tersebut yakin sepenuhnya akan iman mereka yang baru, kedua orangtua maupun anak-anak mereka tidaklah sependapat.

“Saya tidak merasa yakin mengenainya,” Jesse Ray menjelaskan. “Saya tahu kedua kakek-nenek saya adalah Kristen dan bahwa mereka akan masuk surga jadi saya berkata, ‘Saya tidak ingin menjadi Katolik, saya ingin tetap seperti kakek dan nenek.’”

Keluarga tersebut bergabung dengan Gereja Katolik pada hari Minggu Pantekosta, 22 Mei 1994. Bahkan ada beberapa anggota keluarga dari pihak Janet maupun Steve yang menghadiri perayaan Misa tersebut, meskipun mereka tetap saja sulit untuk menerima kenyataan ini.

Bagi Cindy dan Jesse Ray sekarang, masuk Katolik telah membuat suatu perbedaan yang besar. “Saya percaya hal itu telah merubah segalanya,”Cindy Ray menekankan. “seperti mengetahui yang benar atau salah dan keinginan untuk mengikuti apa yang benar. Memiliki kepastian yang absolut membuat suatu perbedaan yang besar. Pergi ke gereja setiap hari Minggu sebagai satu keluarga membuat perbedaan yang besar.”

Steve Ray berkata bahwa anak-anaknya menghargai stabilitas dan otoritas Gereja Katolik, meskipun lebih berat untuk menjadi seorang Katolik. “Gereja Katolik sungguh ketat karena ia berkata, inilah kebenaran,” dia berkata. “Kita tidak akan mengganti sesuatu bagi generasi berikutnya hanya karena generasi berikutnya telah merosot dari segi moral…. Tuhan tidak berubah, demikian juga kebenaran-Nya tidak akan berubah.”

Charlotte Ray, JO, mengakui dengan terus terang, “Saya senang menjadi seorang Katolik.” Dia juga senang beradu argumentasi teologis dengan seorang teman. “Saya menang,” Charlotte Ray berkata dengan seulas senyum.

Sebagian dari semangat evangelis tersebut pasti berasal dari kedua orangtuanya, yang dengan terbuka menyatakan iman mereka dan merasa mudah untuk membelanya jika diperlukan.

“Saya pikir itu adalah sesuatu hal yang harus dilakukan oleh setiap umat Katolik,” Steve Ray berkata. “Mereka harus menjadi lantang tentang iman mereka. Mereka perlu merasa bersuka-cita mengenainya. Mereka perlu banyak berdiskusi dengan orang-orang.”

Steve Ray sekarang ini sedang menulis catatan-catatan studi Alkitab dan telah menulis sebuah buku “Crossing the Tiber” (Menyeberangi Sungai Tiber yang diterbitkan oleh Ignatius Press), yang pada mulanya ditujukan sebagai sebuah surat bagi ayahnya yang isinya menjelaskan alasan-alasan mengapa ia menjadi Katolik. Surat itu berkembang menjadi sebuah buku mengenai perjalanan spiritual keluarganya menjadi Katolik dengan ratusan catatan-catatan teologis yang menguatkan akar-akar historis dari iman Katolik. Menurut penerbit Ignatius Press, buku tersebut laris terjual dan masukan dari para pembacanya sungguh positif.

Keluarga Ray telah membawa beberapa keluarga lain kedalam Gereja Katolik dan terus bermaksud melakukan hal yang sama.

“Ada banyak umat Protestan yang menjadi Katolik dari segala penjuru Amerika Serikat,” Steve Ray berkata. “Rasanya sungguh menggembirakan, dan saya menemukan bahwa banyak umat Katolik dari segala penjuru sekarang ini menjadi termotivasi imannya, dengan senang hati berbicara kepada orang-orang lain tentang iman Katolik dan berdiskusi dengan orang-orang tentang Yesus dan Gereja-Nya.”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s